Tampilkan postingan dengan label Personal Taste. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Personal Taste. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 13 November 2010

Personal Taste episode 12

(wwk... isinya copas sana copas sini...  tapi kalau yangg nulis sama gak papakan ya???? hehe... episode ini tayang duluan di pelangi drama dan baru sempat tanyang di maldoeopsi sekarang)

Jin-ho minta maaf pada Do-bin dan berkata kalau ia mencintai Park Kae-in. Do-bin kaget mendengar Jin-ho bukanlah gay. Sementara itu Kae-in sudah selesai bicara dengan Chang-ryul, tiba-tiba Chang-ryul bertanya apakah Kae-in dan Jin-ho bahagia. Kae-in berbalik dan mengangguk, Chang-ryul tersenyum lega karena itu artinya ia bisa melepaskan Kae-in selamanya dengan rasa tenang. Kae-in pergi tapi Chang-ryul melihat sebuah truk berjalan kencang menuju arah Kae-in berada. Chang-ryul reflek berlari menyelamatkan Kae-in.

Di tempat lain Do-bin berjalan lunglai meninggalkan Jin-ho. Sementara itu Chang-ryul berhasil menyelamatkan Kae-in, dan mereka terjatuh dipinggir jalan. Kae-in selamat tapi Chang-ryul tak sadarkan diri sehingga membuat Kae-in panik.

Chang-ryul di bawa kerumah sakit, dokter berkata Chang-ryul tidak apa-apa tapi harus tetap dirawat disana sampai ia sadar. Do-bin kembali ke kamarnya dengan perasaan sangat syok dan kecewa, ia membuang hadiah yang telah ia siapkan untuk Jin-ho.

Kae-in menunggui Chang-ryul dengan perasaan cemas.
Sementara itu Young-soon pergi minum dengan Sang-joon. Mereka senang karena rencana mereka mempersatukan Jin-ho dan Kae-in lagi berhasil. Young-soon berkata jika dulu ia tahu Sang-joon bukan gay, ia pasti tidak bisa berteman akrab dengan Sang-joon karena jika Sang-joon adalah pria normal maka ia pasti tidak akan memperdulikannya. Sang-joo tidak terima karen ia merasa saat ia pura-pura gay ia masih tetap memiliki aura kejantanan yang dapat menarik wanita. Ia lalu berusaha menunjukan itu dengan merayu seorang wanita yang duduk tak jauh dari mereka. Tapi tiba-tiba pacar wanita itu datang dan Sang-joon pura-pura tidak melakukan apa-apa dan kembali kemejanya. Young-soon geli melihatnya. Sang-joon senang bisa membuat Young-soon tertawa karena itu artinya hubungan mereka kembali akrab seperti dulu.
Jin-ho mencari Kae-in di kamarnya tapi tidak ada jawaban dari dalam. Lalu In-hae datang dan berkata kalau Kae-in sedang bersama Chang-ryul. Jin-ho tak percaya ia kemudian mencari Kae-in di lobby hotel tapi tetap tak menemukannya, ia kemudian mencoba menelepon Kae-in. Kae-in yang masih ada dirumah sakit mengangkat teleponnya, Jin-ho segera tanya Kae-in ada dimana. Kae-in mencoba menjelaskan tapi Jin-ho langsung tanya lagi Kae-in bersama siapa. Kae-in mencoba menjelaskan lagi kalau Chang-ryul sedang dirawat di rumah sakit, tapi belum selasai Kae-in menjelasakan Jin-ho sudah marah dan langsung menutup teleponnya. Kae-in bingung kenapa Jin-ho tiba-tiba menutup teleponnya.

Chang-ryul mulai sadar dan terkejut Kae-in ada disana. Kae-in langsung tanya bagaimana keadaan Chang-ryul. Chang-ryul berkata dia tidak apa-apa tapi Kae-in masih kawatir karena tadi kepala Chang-ryul terbentur aspal jalan. Chang-ryul mulai ingat kejadian kecelakaan itu dan tetap berkata kalau ia tidak apa-apa. Kae-in berkata Chang-ryul sudah tidak sadarkan diri selama 5 jam. Chang-ryul terharu karena selama itu Kae-in terus menjaganya. Kae-in berkata tentu saja ia harus melakukan itu karena Chang-ryul terluka karena mencoba melindunginya. Chang-ryul berkata tentu saja ia harus melindungi Kae-in bahkan apa pun ia akan lakukan demi Kae-in. Kae-in jadi tak enak. Chang-ryul tersenyum dan berkata ia hanya bercanda. Tapi Kae-in tetap tak enak. Chang-ryul berkata Kae-in tak perlu mencemaskannya lagi karena ia adalah laki-laki yang kuat, yang akan keluar membantu jika Kae-in ada masalah. Kae-in mengucapkan terima kasih. Chang-ryul berkata itu tak perlu karena apa yang dilakuannya saat ini tidak ada bisa dibandingkan dengan apa yang telah dilaukan Kae-in dulu kepdanya.

Jin-ho pergi minum-minum sendirian di bar hotel, tiba-tiba In-hae datang dan memanasi dengan menebak bahwa Jin-ho minum-minum pasti karena Kae-in sedang bersama Chang-ryul. In-hae berkata kalau hubungan Kae-in dan Chang-ryul dulu berjalan lama jadi membutuhkan waktu untuk melupakan masing-masing. Jin-ho berkata kalau ia ingin minum sendirian. In-hae bukannya pergi malah berkata bahwa ia tahu Jin-ho itu orang seperti apa sejak pertama kali bertemu.
“Barang yang diinginan, sebelum mendapatkannya tak akan dilepaskan. Kalau sekali tak berhasil maka akan mencoba lagi” kata In-hae.
Jin-ho hanya diam tak membalas (berarti benar yak??). In-hae kemudian bertanya apakah Jin-ho sudah menjelaskan semuanya kepada Do-bin. Jin-ho belum menjawab. Tapi In-hae sudah bisa menebak, ia kecewa karena jin-ho tak perlu melakukannya, Jin-ho hanya perlu menjadi teman Do-bin agar memenangkan tender itu. Kali ini Ji-ho menimpali. Ia berkata jika ia melakukan hal seperti itu maka itu namanya penipuan. In-hae tak percaya, ia berata kalau Jin-ho tak berniat menipu orang lain maka sejak awal seharusnya Jin-ho tidak mengaku gay. Jin-ho tak bisa menjawabnya lagi. In-hae kembali berkata kalau ia sebetulnya ada sedikit pertanyaan tentang kenapa Jin-ho pura-pura menjadi gay untuk tinggal di Sang Go Jae. Jin-ho kaget mendengar hal itu.
Do-bin pergi minum-minum dipinggir pantai. Ia memikirkan jawaban Jin-ho saat dituduh memanfaatkan kedekatan Jin-ho denganya (saat pengakuan kalau dia gay) dan saat ia mengakui kalau dia bukan gay. Saat itu Jin-ho berkata kalau ia rela jika dikeluarkan dari tender musium karena ia tidak ingin mengecewakan ketulusan hati Do-bin terhadapnya selama ini.
“Jika kamu benaran ingin menipu saya, saya rela untuk menerimanya (jiah... om ini)” kata Do-bin dalam hatinya.

Chang-ryul dan Kae-in kembali kehotel. Kae-in sedikit khawatir karena Chang-ryul terlihat masih kesakitan. Chang-ryul bilang kalau Kae-in tak perlu merisaukan dia karena luka itu tidak ada artinya dibandingkan rasa sakit saat melihat Kae-in bergandengan tangan dengan Jin-ho. Kae-in jadi tidak enak. Chang-ryul menenangkan Kae-in dengan berkata kalau ia sekarang sudah bisa menerima hubungan Kae-in dengan Jin-ho.

Jin-ho buru-buru pergi menuju lift. In-hae terus mengejarnya dan mendesak Jin-ho mengakui bahwa tebakannya tentang niat Jin-ho tinggal di Sang Go-jae adalah benar. Jin-ho meminta In-hae untuk diam. In-hae bertanya apa Jin-ho takut karena niatnya Jin-ho sesungguhnya sudah terbaca olehnya. Jin-ho dengan dingin menyuruh In-hae diam. In-hae terus berbicara. Ia menebak karena desain musium damn dulunya diserahkan pada Prof. Park maka jika Jin-ho menjadi menantu Pof Park akan.... Belum selesai In-hae bicara, Jin-ho mendorong In-hae kepinggir lift. Jin-ho memperingatkan agar In-hae menjaga bicaranya. In-hae malah tersenyum, ia berkata dengan reaksi Jin-ho seperti itu maka sudah menjawab bahwa tebakannya adalah benar.
Kae-in dan Chang-ryul menuju lift. Dan bersamaan dengan itu lift Jin-ho dan In-hae juga telah sampai. Yab lift yg sama dengan yang ditunggu Kae-in dan Chang-ryul. Kae-in kaget melihat Jin-ho dengan In-hae. Jin-ho pun kesal melihat Kae-in bersama Chang-ryul. Jin-ho segera keluar dari lift tanpa bicara apapun dengan Kae-in (bukannya Kae-in yang harusnya cemburu melihat adegan Jin-ho dan In-hae).
Kae-in yang bingung dengan sikap Jin-ho segera mengejarnya. In-hae keluar dari lift dan menyindir Chang-ryul yang masih dekat dengan Kae-in. In-hae mengajak chang-ryul untuk bekerja sama lagi memisahkan Kae-in dan Jin-ho. Chang-ryul tak percaya dengan sikap In-hae yang masih belum putus asa.
Kae-in berhasil menyusul Jin-ho. Ia tanya kenapa Jin-ho tak mau mendengar penjelasannya, tapi malah menutup telepon. Jin-ho dengan kesal kemudian bertanya apa yang harus dilakukan Kae-in bersama dengan Chang-ryul. Kae-in menjelaskan kalau ia terpakasa harus bersama dengan Chang-ryul tadi. Jin-ho memotong karena ia tak percaya hanya karena terpaksa maka Kae-in terus bersama Chang-ryul. Jin-ho memarahi Kae-in yang terus memberi peluang pada Chang-ryul untuk kembali. Kae-in tak tahan ia berkata kalau ia tak pernah memberikan Chang-ryul peluang dan mereka tadi bertemu untuk mengucapkan perpisahan. Jin-ho tetap tak percaya dan berkata buat apa perpisahan memerlukan waktu yang lama. Kae-in meminta Jin-ho tidak berbicara seperti itu, karena tadi demi menolongnya Chang-ryul terluka dan harus dirawat dirumah sakit sehingga ia tak bisa meninggalkan Chang-ryul begitu saja. Jin-ho terkejut mendengar Kae-in hampir kecelakaan tapi ia kesal karena Kae-in dan Chang-ryul masih saling mengkhawatirkan. Kae-in berkata kalau ia tak ada apa-apa dengan Chang-ryul. Tapi Jin-ho keburu berkata kalau ia bisa marah walaupun karena masalah kecil (ia bisa cemburu meski karena masalah kecil). Jin-ho kemudian pergi meninggalkan Kae-in. Kae-in tak percaya Jin-ho bersikap seperti itu. Dari kejauhan Chang-ryul melihat Kae-in sedang sedih karena bertengkar dengan Jin-ho.
Jin-ho menyendiri disebuah tempat. Ketua Choi melihatnya dan menghampirinya. Jin-ho langsung memberi hormat kepada Do-bin. Ketua Choi berkata apakah Jin-ho tidak menyesal mengatakan yang sejujurnya kepadanya padahal ia bisa terus berbohong. Jin-ho berkata kalau ia pernah memikirkan hal itu, tapi melihat kebaikan Do-bin kepadanya, ia mengurungkan niatnya itu. Jin-ho juga merasa kalau ia meneruskan kebohongan itu maka tidak adil bagi gadis yang ia cintai. Do-bin merasa Jin-ho keterlaluan karena baru mengungkapkan kebenarannya sekarang. Jin-ho tertunduk merasa bersalah. Tapi kemudaian Do-bin berkata kalau ia sekarang bahagia. Karena berkat Jin-ho, sekarang ia bisa berani menerima keadaan dirinya yang berbeda dari orang lain. Jin-ho minta maaf karena membuat Do-bin terluka. Do-bin kemudian bertanya apakah saat Jin-ho mengakui kalau ia gay didepan Chang-ryul adalah karena merasa kasihan padanya. Jin-ho hanya diam. Do-bin mengerti apa artinya itu, ia kemudian berkata kalau ia akan berusaha melupakan masa lalu karena ia tak ingin kehilangan teman.
Keesokan harinya Kae-in masih cemas dengan kejadian semalam. Young-soon bangun dalam keadaan pusing karena mabuk setelah meranyakan keberhasilannya. Tapi begitu melihat wajah Kae-in yang murung Young-soon langsung kecewa karena itu berarti usahanya gagal. Kae-in mencoba menjelaskan kalau itu terjadi karena Chang-ryul... Belum selesai menjelaskan Young-soon sudaha meledak karena mendengar nama Chang-ryul, Young-soon bertanya apa yang dilakukan Chang-ryul hingga Kae-in gagal baikan dengan Jin-ho. Kae-in menjelaskan semua kejadian kemarin pada Young-soon. Young-soon berkata wajar jika Jin-ho marah karena Kae-in berkata kalau ia bersama Chang-ryul seharian. Kae-in tak terima disalahkan begitu saja karena ia sama sekali tak melakukan apa-apa dengan Chang-ryul. Young-soon tentu saja tau hal itu. Ia kemudian berkata kalau Jin-ho sepertinya sangat mencintai Kae-in hingga bisa cemburu karena masalah kecil. Hal ini sama seperti dirinya yang suka cemburu bila suminya bersama wanita lain.
“Apa kamu tidak merasakan hal sama, saat melihat Jin-ho bersama wanita lain?” tanya Young-soon sedikit curiga dengan Kae-in.

Jin-ho dan Sang-joon baru saja selesai mengikuti pertemuan. Tiba-tiba Chang-ryul datang dan berkata kalau ia ingin bicara empat mata dengan Jin-ho. Chang-ryul dan Jin-ho kemudian bicara empat mata dipinggir pantai. Chang-ryul menjelaskan kalau kemarin Kae-n hanya menemaninya dirumah sakit saja. Jin-ho berkata kalau ia sudah tau. Chang-ryul tersenyum tipis dan berkata kalau kemarin ia sudah mau melepaskan Kae-in tapi malah terjadi kecelakaan itu. Jin-ho segera berkata kalau ia sudah mendengar hal itu. Hin-ho dengan ketus bertanya apa demi menjelaskan hal ini Chang-ryul menemuinya. Bukannya mejawab, Chang-ryul malah menjelaskan hal lain. Chang-ryul berkata kalau ia tidak menyangka ayahnya menemui Kae-in di Sang Go-jae, padahal ayahnya tau kalau ia dan Kae-in tidak memiliki hubungan apa-apa. Jin-ho sedikit kaget mendengarnya. Untuk menjaga gengsinya Chang-ryul berkata kalau ia juga sebenarnya tak mau menjelaskan semuanya tapi demi tidak melihat Kae-in sedih ia mau melakukan hal itu. Jin-ho kemudian minta agar Chang-ryul tidak memperdulikan apa-apa lagi yang berhungan dengan Kae-in.
Chang-ryul tertawa karena menganggap Jin-ho lucu. Chang-ryul berkata dulu jika masalah perkerjaan Jin-ho tidak pernah bereaksi lebih seperti sekarang tapi sekarang hanya karena masalah Kae-in, Jin-ho bisa bersikap seperti itu. Jin-ho tak mau menanggapi. Ia berkata kalau tidak ada hal yang ingin dibicarakan lagi ia akan pergi. Jin-ho pergi. Chang-ryul tiba-tiba berkata kalau ia iri melihat pertengakarang Jin-ho dan Kae-in. Jin-ho terhenti saat mendengar hal itu.
Chang-ryul berkata kalau ia dulu sama sekali tak pernah bertengkar dengan Kae-in karena Kae-in selalu mengerti dirinya. Jin-ho berbalik dan menanyakan tentang luka Chang-ryul.
Chang-ryul tersenyum senang dan berkata “Apa? Kamu masih bisa perhatian pada saya! Karena cinta apakah dendam kepadaku sudah hilang?” .
“Tidak peduli. Kamu karena wanita saya baru bisa terluka. Terimakasih” kata Jin-ho dengan sedikit gengsi.
“Hay Jon Jin-ho. Walaupun masalah percintaan saya mengalah kepadamu. Tapi kamu jangan mengira saya akan mengalah dalam hal pekerjaan. Kali ini saya tidak akan main belakang. Saya ingin bersaing scara sehat denganmu. Setuju?” kata Chang-ryul tak kalah jaim. Jin-ho tersenyum kecil dan berkata “Setuju”. Kemudian mereka berpisah.
Jin-ho kekamar Kae-in. Ia masih ragu untuk berbaikan dengan Kae-in, ia juga kesal karena Kae-in tidak mengangkat telepon darinya. Jin-ho akhirnya memutuskan pergi dari sana tapi kemudian kembali dan mencoba untuk mengetuk pintu kamar Kae-in. Dan ternyata saat itu Kae-in juga hendak keluar kamar. Jin-ho jadi salah tingkah. Kae-in menat Jin-ho penuh curiga.
“Kenapa kamu tidak mengangkat telepon saya?” kata Jin-ho sedik kesal dan sedikit jaim.
“Apa pedulimu” kata Kae-in tak kalah kesal dan mau pergi dari sana.
Jin-ho menghalangi jalan Kae-in dengan tangannya.
“Kenapa? Kamu ada yang ingin dibicarakan dengan saya kah?” tanya Kae-in.
Jin-ho diam saja.
“Tidakkah kau ingin berkata maaf atau apa kepadaku!” sindir Kae-in.
“Maaf karena membuatmu marah atau apa” kata Jin-ho.
Kae-in pura-pura masih terlihat tidak senang kemudian pergi dari sana.
“Kamu mau pergi kemana?” kata Jin-ho sambil menarik tangan kae-in.
Kae-in melepas tangan Jin-ho sambil tersenyum kecil.
Jin-ho termakan permainan Kae-in. Ia akhirnya pergi mengejar Kae-in.
Kae-in dan Jin-ho pergi ke mall. Kae-in terlihat heran melihat-lihat mall itu karena dulu terakhir ia datang kepulau jeju belum ada mall itu. Jin-ho masih terlihat kesal dipermainkan Kae-in tadi.
“Kamu tidak beli apa-apa.. buat apa datang kesini” kata Jin-ho kesal.
“Aku mau beli” kata Kae-in yakin.
“Beli apa?” kata Jin-ho penasaran.
“Buat apa membertitahumu” kata kae-in kesal.
“Kalau begitu kenapa kau membawaku kesini?” kata Jin-ho kesal.
“Karena saya tidak kenal jalan” kata Kae-in kesal.
Kae-in kemudian melihat-liat syal yang dipajang tak jau darinya.
“Ah... kamu hanya mencari alasan” kata Jin-ho.
Kae-in tak menanggapi ia sibuk melihat-lihat.
“Kamu mau beli ini? Ibu saya yang dengan usia yang begitu juga tidak akan menggunakan ini” kata Jin-ho menyindir.
“Kalau begitu mana yang ia suka” kata Kae-in.
Jin-ho terliahat kaget.
“Kamu datang untuk membelikan hadiah untuk ibu sayakah?” kata Jin-ho penasaran.
Kaae-in terlihat sedikit putus asa, ia berkata “Saya tahu ini masih tidak cukup, tapi saya...”.
Jin-ho tersenyum senang ia jadi gemas pada Kae-in sehingga mencubit pipinya.
Kae-in kaget tapi kemudian ikut tersenyum. Mereka lalu melihat ada game untuk pasangan kekasih. Kae-in berkata dengan semangat kalau hadianya jam tangan yang ditawarkan itu adalah jam tangan mahal. Jin-ho menyindir apa Kae-in dengan kata lain ingin mengjaknya ikut game itu. Kae-in berlagak jaim. Ia berkata kanapa ia harus mengajak Jin-ho. Jin-ho berkata buankankah itu game pasangan kekasih jadi harus dilakukan bersama-sama. Kae-in menolak mengikuti game itu arena ia buan ahlinya. Jin-ho berkata kalau Kae-in tak perlu memusingkan hal itu. Kae-in jadi tertarik. Ia bertanya apa Jin-ho ahli dalam game itu.
“Kamu kira saya tidak bisa memecahkan code itu” kata Jin-ho.
“Itu siapa yang tahu” kata Kae-in.
Jin-ho kemudian menarik tangan Kae-in dan mengajaknya untuk main game itu.
Jin-ho berusaha sendirian untuk memecahkan code itu tapi gagal berkali-kali. Kae-in mencoba membantu tapi ditolak Jin-ho. Akhhinya Kae-in tak tahan, ia mengambil alih permainan dan dengan asal memasukan code. Tapi malah berhasil. Jin-ho, Kae-in dan pengunjung lain kaget melihatnya. Dan sebagai pemenang mereka harus foto pasangan dengan hadiahnya.

Sementara itu In-hae mengajak Chang-ryul untuk bicara empat mata. Begitu tiba Chang-ryul langsung bertanya maksud In-hae mengajanya bertemu. Buannya menjawab. In-hae malah bertanya apa Chang-ryul tau ide dasar musium kesenian damn apa?. Chang-ryul terlihat bingung.
“Sang Go Jae” kata In-hae.
“Sang Go Jae! bukankah itu rumah Kae-in” kata Chang-ryul heran.
“Dari awal ketua Choi sudah memutuskan untu menggunakan desain Sang Go Jae” kata In-hae.
“Kenapa kamu bisa tahu?” tanya Chang-ryul kaget sealigus heran.
“Waktu berbicara dengan sekretaris pengarah baru tahu. Kamu tidak heran kenapa Jin-ho mau masuk ke Sang Go Jae?” tanya I-hae.
Chang-ryul tambah kaget dan metap In-hae tajam.
“Kamu kira dia masuk karena kebetulankah?” pancing In-hae.
“Apa! Tunggu jadi masud kamu Jin-ho masuk Sang Go Jae karena tahu rahasia ide dasar itu?” kata Chang-ryul.
“Otak kamu akhirnya berputar juga” kata In-hae sambil tersenyum menang.
“kalau begitu maksud kamu ia berpacaran dengan Kae-in juga karena alasan itu?” tanya Chang-ryul.
“Kalau bukan begitu bagaimana menjelaskan kebeluan itu” kata In-hae.
Chang-ryul terlihat kesal mendengarnya.
“Jeon Jin-ho adalah orang yang tak boleh kamu remehkan. Jadi kamu masih relakah Jin-ho bersama Kae-in” kata In-hae memanasi.
“Jeon Jin-ho, berengsek!” kata Chang-ryul sudah tak dapat menahan marahnya.
Ia segera pergi mau mencari Jin-ho.
Jin-ho sendiri tenganh asik berjalan-jalan dipantai bersama Kae-in. Dan saat pulang naik mobil Kae-in berteriak kalau ia sangat mencintai Jin-ho.
In-hae berusaha mencegah Chang-ryul. Tapi Chang-ryul sudah terlanjur marah dan tak dapat dihentikan. In-hae kemudian berkata buat apa Chang-ryul mencari Jin-ho saat ini. Jika Chang-ryul mengungkapkan kebenaran saat ini Jin-ho hanya perlu minta maaf pada Kae-in dan mereka akan kembali lagi. Ia minta Chang-ryul menunggu waktu yang tepat untuk memongkar rahasia ini. Saat Kae-in mengetahui betapa hinanya Jin-ho. Lagi –lagi Chang-ryul termakan omongan In-hae.. cihhh...

Saat kembali ke Seoul, Jin-ho mengantar Kae-in dan Young-soon kembali ke Sang Go-jae. Jin-ho mau menurunkan barang-barangnya juga tapi tiba-tiba Kae-in meminta Jin-ho kembali kerumahnya saja. Jin-ho kaget mendengarnya. Kae-in beralasan kalau saat ini ibu Jin-ho tau, kalau jin-ho baru saja selesai berpergian. Kae-in merasa tidak enak jika Jin-ho tidak kembali kerumahnya terlebih dahulu dan malah ke di Sang Go Jae. Young-soon ikut menimpali. Ia berkata kalau mereka belum menikah jadi Kae-in harus menjaga imejnya dimata calon mertuanya. Meski terlihat kecewa tapi Jin-ho mengerti. Ia akhinya pergi pulang juga.

Saat sampai di rumah Jin-ho langsung di introgasi oleh Hye-mi. Hye-mi bertanya apakah benar Jin-ho pergi berdua dengan Kae-in ke pulau Jeju. Jin-ho kesal dan tak mau menanggapinya. Ia pun mau masuk kekamarnya. Tapi kali ini ia dicegat oleh ibunya. Ibunya pun bertanya apa benar Jin-ho pergi ke pulau jeju dengan Kae-in. Jin-ho akhinya menjelaskan kalau mereka pergi karena urusan pekerjaan bukan untuk main-main. Jin-ho juga minta ibunya untuk percaya bahwa Kae-in itu adalah gadis baik-baik dan bila ibunya sudah mengenal Kae-in pasti ibunya akan menerimanya. Tapi Ibu Jin-ho langsung berkata kalau ia tidak akan pernah dapat menerima Kae-in. Karena Kae-in pernah berhubungan dengan Chang-ryul (alasan pa itu??). Jin-ho akhirnya bermalam di kantor.
   
Keesokan harinya Ayah Chang-ryul menyuruh Chang-ryul pergi ke Cina. Tapi Chang-ryul menolaknya. Ayah Chang-ryul kaget dan marah. Ia mengirim Chang-ryul ke Cina karena  Chang-ryul telah gagal merebut Kae-in kembali sehingga mereka juga gagal dalam tander musium. Chang-ryul berkata kalau ia pasti akan mendapatkan Kae-in kembali. Ayah Chang-ryul bingung mendengarnya. Chang-ryul minta kali ini ayahnya tidak usah ikut campur dalam masalahnya. Ia juga berkata kalau ayahnya cukup duduk dan melihat saja karena ia akan memenangkan tander musium kali ini tanpa jalan belakang. Ayah Chang-ryul semakin kaget dan bingung. Tapi Chang-ryul dengan yakin berkata kalau ia pasti akan memenangkan tander itu dan ia hanya perlu kesempatan untuk mewujudkannya. Melihat keyakinan Chang-ryul, ayahnya pun akhirnya setuju.

Chang-ryul dibantu oleh sekretaris Kim mengumpulkan data-data tentang Sang Go Jae. Tapi sayang data-data yang di dapatkan hanya sedikit. Sekretaris Kim berkata kalau hal itu terjadi karena Prof. Park tidak membuka Sang Go Jae untuk umum lagi. Chang-ryul tampak benar-benar serius bekerja kali ini. Ia bahkan mengancam akan memecat sekretaris Kim jika ia masih suka membahas hal-hal yang tidak berkaitan dengan pekerjaan. Chang-ryul kemudian menelpon seseorang dan menanyakan apakah orang tersebut sudah memutuskan sesuatu (aku curiga... masalah apa ya??).

Sang-joon berlari keruang kerja Jin-ho. Ia berkata kalau ada masalah besar. Jin-ho bertanya ada masalah apa. Sang-joo menjelaskan kalau pemilik gedung kantor mereka akan menjual gedung itu dan dalam waktu satu bulan mereka harus mengosongkan tempat itu. Jin-ho kaget dan stress mendengarnya. Sang-joo merasa ini sangat aneh karena selama 4 tahun mereka menyewa gedung itu, tidak pernah terjadi masalah dan bahkan uang sewa pun tak pernah naik. Jin-ho memutuskan untuk pergi berbicara dengan pemilik gedung. Sang-joon berkata kalau itu percuma karena gedung itu baru saja dijual. Jin-ho benar-benar putus asa (aku curiga yang beli Chang-ryul).

Sementara itu di gedung musium. Do-bin meminta In-hae menemui Kae-in dan berkata kalau ia ingin makan siang bersama Kae-in. In-hae telihat tidak suka mendengarnnya. Tapi In-hae mau tak mau akhirnya pergi menemui Kae-in dan menyampaikan pesan dari Do-bin. Kae-in kaget mendengarnya. In-hae menyindir dengan berkata kalau selama ini orang seperti Do-bin yang suka makan sendiri malah mau makan bersama dengan Kae-in. Kae-in merasa tidak enak.
“Orang seperti kamu dengan usaha sedikit pun akan mendapatkan apa yang kamu suka. Tapi aku untuk barang yang begitu kecil pun harus berusaha dengan keras” kata In-hae.
“Jadi karena terlalu tidak menyukaiku, makanya kamu merampas Chang-ryul?” kata Kae-in tenang.
“Ya” kata In-hae tanpa ragu.
“Jadi kamu kali ini pun akan berusaha merampas Jin-ho dari saya lagi?” tanya Kae-in tetap tenang.
“Sepertinya kamu sangat cemburu melihat saya dan Jin-ho di lift saat itu” kata In-hae.
“Tidak. Saya tidak cemburu. Karena saya sangat percaya pada Jin-ho. Saya hanya ingin menyakinkan karena kamu adalah teman baik saya dulu” kata Kae-in.
“Kamu ini sedang mengasihani sayakah?” kata In-hae tak senang.
“Ya, Kamu memang kasihan” kata Kae-in.
In-hae tertawa dan berkata kalau Kae-in terlalu percaya diri karena Jin-ho mencintainya, sehingga merasa sudah mendapatkan segalanya didunia ini. Kae-in tetap tenang menanggapinya. In-hae memperingatakan kalau Kae-in dulu juga pernah bergitu sangat mempercayai Chang-ryul tapi ia berhasil merebutnya. Kae-in berkata kalau Jin-ho tidak sama dengan Chang-ryul.
“Ya. Dibandingan dengan Chang-ryul ia lebih pintar dan penuh ambisi. Tapi apakah kamu tidak curiga orang seperti dia menyukaimu?” kata In-hae.
“Ingin mentertawakan sayakah? Sialahkana saja. Karena dengan sepeti ini kamu malah memperparah diri kamu sendiri” kata Kae-in sambil pergi dari sana.

Kae-in sedikit takut bertemu dengan Do-bin. Do-bin menegur Kae-in yang sudah berhubungan dengan Jin-ho tapi tetap mendukungnya dengan Jin-ho dulu. Kae-in berkata kalau ia juga tidak pernah menyangka kalau Jin-ho.... (bukanlah gay). Do-bin memotong. Ia berkata kalau ia sedang tidak senang sehingga mengajak Kae-in untuk bertemu dan makan bersama. Kae-in jadi tidak enak ia minta maaf pada Do-bin. Tapi tiba-tiba Do-bin mengucapakan selamat kepada Kae-in.
“Apa?” kata Kae-in bingung.
“Kamu telah lulus dalam kelas cinta sepihak kita” kata Do-bin.
Kae-in lega tapi masih tidak enak kepada Do-bin. Do-bin lalu bertanya apakah cinta sepihak Kae-in dulu adalah Jin-ho. Kae-in dengan tidak enak membenarkannya (hehe...).
“Kamu benaran sangat beruntung. Karena cinta sepihak seperti yang saya rasakan sangat sulit” kata Do-bin.
Kae-in sedikt tersenyum dan mengucapkan terma kasih kepada Do-bin. Do-bin berata (dengan muka dan suara yang serius) kalau Kae-in benaran ingin mengucapkan terima kasih maka ia harus  sering datang dan menemaninya makan. Kae-in tersnyum lebar dan bersedia memenuhinya.

Selesai dari tempat Do-bin, Kae-in menerima telepon dari seseorang. Ternyata orang tersebut memberitahu Kae-in kalau Kae-in diterima bekerja di perusahannya sebagai desainer. Ia minta maaf Karena dulu pernah menolak Kae-in. Tapi sekarang setelah melihat racancangan Kae-in, Ia menganggap desain Kae-in cocok dengan perusahaannya (mencurigakan!?). Tentu saja Kae-in kaget dan senang mendengar kabar tersebut. Ia segera menelpon Jin-ho dan memintanya untuk langsung pulang nanti karena ada berita bagus yang ia ingin ia sampaikan.

Kae-in bertemu dengan You-soon. Kae-in bertanya kenapa mereka harus bertemu di depan bank bukan dirumah saja. Young-soon berkata kalau Kae-in baru saja tanda tangan kontrak jadi Kae-in harus mulai mengatur keuangannya karena sebentar lagi ia akan menikah dengan Jin-ho. Kae-in merasa itu tidak perlu karena ia belum mendapat uang kontrak itu dan ibu Jin-ho juga belum merestuinya. Tapi Young-soon tetap memaksa. Akhirnya mereka menemui konsultan keuangan bank tersebut. Kae-in mulai cerita tentang keuangannya. Sementara Young-soon terlihat sibuk degan hpnya. Young-soon lalu bilang kenapa Sang-joon lama sekali. Kae-in kaget mendengarnya. Young-soon menjelaskan dengan singkat kalau ia juga berjanji bertemu Sang-joon di bank itu. Kae-in tak mengerti. Young-soon berkata kalau bukan ia siapa lagi yang akan mengurus Sang-joon itu. Kae-in makin tak mengerti tapi meliat Young-soon sibuk ia tak menanyakan lebih lanjut. Young-soon menelpon Sang-joon dan bertanya di mana ia.
“Apa! kalian sudah mau diusir” kata Young-soon kaget mendengar penjelasan Sang-joon di sebrang telepon.
Kae-in sendiri kaget dan tak mengerti mendengarnya (ah.. banyak tak ngertinya ni Kae-in).

Kae-in dan Young-soon kemudian bertemu dengan Sang-joon. Kali ini Kae-in terlihat khawatir (mungkin sudah tau masalahnya). Sang-joon berkata kalau mereka sudah menemukan kanor sementara yang kecil. Ia juga bercerita sebenarnya mereka ingin menyewa tempat yang lebih baik tapi uang mereka tak cukup. Kae-in merasa khawatir sekaligus kesal karena Jin-ho tak pernah memberitahukan permasalahan itu kepadanya padahal Jin-ho selalu menjadi orang pertama yang ia beritahu jika ada sesuatu. Sang-joon menyuruh Kae-in mengerti karena memang seperti itulah sifat Jin-ho. Kae-in kemudian ingin menawarkan bantuan. Tapi Young-soon buru-buru memotongnya dan berkata kalau ia ingin bicara sesuatu dengan Kae-in terlebih dahulu. Young-soon lalu menyeret Kae-in menjauh. Ia memperingatkan Kae-in agar tidak selalu ikut permasalahan orang lain, lagi pula Kae-in belum menikah dengan Jin-ho jadi tak perlu memperdulikan permasalahan Jin-ho. Kae-in berkata kenapa tidak. Young-soon memperingatkan kalau Jin-ho belum tentu jadi suami Kae-in jadi Kae-in tak perlu mengeluarkan uang untuk membantu Jin-ho. Kae-in kesal karean tadi Young-soon mengajaknya ke bank karena ia akan menikah dengan Jin-ho tapi sekarang berkata lain. Young-soon bingung menjawabnya. Kae-in tetap ingin membantu Jin-ho  tak peduli nanti hubungan ia dan Jin-ho bagaimana karena ia tidak bisa membantu dengan otaknya.

Malam harinya di Sang Go Jae Kae-in dan Jin-ho makan malam dan minum anggur bersama. Jin-ho bertanya sebenarnya ada hal baik apa yang ingin Kae-in sampaikan kepadanya. Kae-in berkata dulu Jin-ho suka meremehkan desainnya tapi sekarang desainya telah diakui oleh perusahaan Dongre dan ia akan menjadi desainer disana. Jin-ho berkata bukankah itu perusahaan yang pernah menolak Kae-in. Kae-in membenarkan, dan bercerita kalau perusahaan tersebut berubah pikiran dan ingin menggunakan desain furniturenya. Jin-ho sedikit ragu. Kae-in jadi kesal. Jin-ho berkata aneh saja perusahaan besar seperti perusahaan Dongre tiba-tiba mau memperkerjakan Kae-in. Kae-in bercerita kalau perusahaan tersebut berkata telah mempertimbangkan lama sebelum memutuskan menerimanya dan sekarang ia hanya tinggal menunggu tanda tangan kontrak saja. Jin-ho lalu akhinya memberi selamat pada Kae-in.









Kae-in lalu berkata kalau ia sudah tanda tangan kontrak dan mendapat uang dari kontrak tersebut apakah Jin-ho mau menerima pinjaman darinya.
“Apa?” kata Jin-ho kaget.
“Aku akan meminjamkannya dengan bunga paling rendah kepadamu” kata Kae-in.
“Jadi kamu sekarang tehadap kekasihpun ingin berpiutangkah? Kamu seharusnya dapat membedakan urusan pribadi dan umum” kata Jin-ho
“Aku bisa membedaan urusan pribadi dan umum. Aku akan meminjamkan dengan bunga rendah jadi kamu terima sajalah” kata Kae-in memaksa.
“Saya tidak membutuhkan pinjaman uang” kata Jin-ho.
“Pokoknya kamu gunakan saja. Lagian saya belum mau menggunakannya” kata Kae-in
Jin-ho menyarankan agar Kae-in membayar hutangnya yang dulu saja. Kae-in berkata kalau uang itu akan masih sisa banyak walaupun ia telah membayar hutangnya. Kae-in terus memaksa Jin-ho, ia beralasan jika ditabung pun bunganya kecil. Jin-ho mulai curiga, ia bertanya kenapa Kae-in ngotot ingin meminjaminya uang kepadanya. Kae-in jadi bingung bagaimna menjawabnya.
“Karena invertasi" kata Kae-in tiba-tiba.
"Kalau kamu memenangkan tender musium nanti bukankan kamu akan mendapat uang banyak” kata Kae-in pura-pura.
“Itu tidak ada jaminan kalau kami pasti menang” kata Jin-ho.
“Saya percaya kamu bisa, jadi saya akan menjadi investor yang percaya saja” kata Kae-in tetap memaksa.   
Jin-ho akhirnya mengalihkan pembicaraan dan berkata mereka minum saja untuk merayakan keberhasilan Kae-in.

Young-soon menelpon Kae-in dan memberitahu kalau ia kembali kerumahnya karena sudah baikan dengan suaminya. Jin-ho terlihat senang mendengarnya dari dalam kamar. Di  telepon Young-soon menggoda Kae-in karena Jin-ho sekarang bisa tinggal bersama Kae-in lagi. Kae-in mengelak dan berkata Jin-ho tidak akan tinggal disana. Kae-in kemudian memanggil Jin-ho dan bertanya apa Jin-ho tak mau pulang. Jin-ho panik dan segerat berlari kekasurnya untuk kemudian pura-pura telah tidur. Kae-in membuka kamar Jin-ho dan melihatnya telah tidur. Kae-in sebenarnya curiga tapi akhirnya membiarkannya. Jin-ho bangung setelah Kae-in pergi. “Jeon Jin ho, kamu ini benar-benar!!” gumam Jin-ho heran dengan tingkah lakunya.

Kae-in kembali kekamarnya, ia kesal karena sebenarnya ia masih mau main dengan Jin-ho sebelum menyuruhnya pulang. Kae-in dan Jin-ho sama-sama tidak bisa tidur (memikirkan kalau mereka hanya berdua di rumah  itu..hehe). 


Jin-ho keluar kamar. Kae-in mendengarnya dan segera keluar. Kae-in bertanya bukankah Jin-ho jago minum tapi mengapa baru minum beberapa gelas sudah mabuk dan tertidur. Jin-ho tak menanggapinya. Kae-in kemudian berkata kalau Jin-ho sudah sadar sebaiknya ia pulang kerumah saja. Jin-ho berkata kalau hari ini badannya terasa aneh jadi ia mau tinggal sebentar lagi sampai mabuknya hilang. Kae-in merasa tidak enak, akhirnya ia mengijinkan Jin-ho tetap tinggal. Kae-in dan Jin-ho kemudian melihat foto-foto masa kecil Kae-in. Kae-in sebenarnya malu tapi Jin-ho tetap memaksa. Ia tertawa melihat foto-foto itu. Jin-ho lalu bertanya kenapa tidak ada foto ibu Kae-in di album foto itu. Kae-in bercerita dengan sedikit sedih kalau dulu rumahnya pernah terbakar jadi banyak foto ibunya yang tak terselamatkan dan kalaupun ada yang selamat ayahnya telah menyimpannya. Jin-ho jadi tidak enak, ia kemudian merangkul pundak Kae-in. Kae-in meminta Jin-ho agar tidak keras kepala lagi kepada ibunya. Karena ia akan sabar menunggu sampai ibu Jin-ho membuka hatinya untuknya dan merestui mereka. Jin-ho mengangguk. Kae-in kemudian menyuruh Jin-ho pulang saja karena pasti ibu Jin-ho sudah khawatir. Jin-ho tetap mengelak ia berkata kalau ia masih mabuk dan kalau berkendara dalam keadaan mabuk pasti akan ditangkap polisi.  Kae-in mengerti dan membiarkan Jin-ho tetap tinggal disana lagi. Kae-in lalu tanya apa yang mau mereka lakukan sekarang. 


Mereka akhirnya menonton tv bersama. Acaranya promosi produk jadi membosankan. Kae-in berkata kalau ia tadi tidak bisa tidur karena kecapekan setelah seharian memasak (bukannya kalau capek jadi lelap tidurnya????). Jin-ho juga berkata kalau kepalanya masih pusing karena mabuk jadi tidak bisa tidur.
Jin-ho kemudian mengambil remote dan berkata kalau sebaiknya mereka melihat yang lain saja. Tapi karena sudah malam, acaranya ya yang seperti itu.. hehe..
Kae-in dan Jin-ho jadi salting. Jin-ho akhirnya mematikan tv dan berkata kalau sebaiknya mereka tidur saja. Kae-in pun pura-pura sudah mengantuk. Dan mereka pun kembali kekamar masing-masing (wkwk).

Jin-ho stress, ia teringat saat insiden kontak lens dulu saat ia mellihat Kae-in yang hanya mengenakan handuk saja. Kae-in pun juga demikian ia teringat saat ia tidak sengaja melihat Jin-ho tanpa pakaian di kamar mandi dulu. Jin-ho mencoba mengalihakan pikirannya dengan membaca tapi tak bisa. Jin-ho putus asa dan memukul-mukul kepalanya dimeja (ekeke..). Kae-in pun demikian ia tiba-tiba merasakan gerah dikamarnya. Jin-ho dan Kae-in bersamaan keluar untuk mengambil minum. Mereka jadi salting. Jin-ho berkata kalau ia sudah tidak mabuk dan mau pergi. Kae-in dengan kaku mempersilahkannya.

Jin-ho kembali kekantornya. Ia tersenyum sendiri mengingat kejadian tadi. ia lalu mengeluarkan hadiah miniatur apel yang dulu pernah dikasih Kae-in dan meletakkannya di sebelah miniatur meja kursi pemberian Kae-in dulu.

Paginya Jin-ho bekerja sambil memperhatikan miniatur apelnya. Tiba-tiba Sang-joon datang, ia menggoda Jin-ho yang akan menikah dengan orang hebat, selain anak dari arsitek terkenal juga seseorang yang memiliki masa depan yang cerah. Jin-ho tanya apa maksud pembicaran Sang-joon. Sang-joon menjelaskan kalau ia kemarin bertemu dangen Kae-in dan telah mendengar tentang kontrak yang didapat Kae-in dari perusahaan Dongre. Ia juga bercerita kalau Kae-in kemungkinan akan meminjamkan uang kontrak itu. Tapi jin-ho berkata kalau itu tak akan terjadi, dan sebaiknya Sang-joon mengerjakan tugasnya saja. Sang-joon kesal dengan sikap Jin-ho, ia berkata kalau akan tetap menerima pinjaman itu. Sang-joon pergi sambil berkata kalau ia akan menelpon perusahaan Dongre dan mencari tahu berapa nilai kontrak Kae-in. Namun beberapa saat kemudian Sang-joon datang dengan muka murung ia berkata kalau perusahaan Dongre adalah perusahaan yang sedang beerja sama dengan perusahaan Chang-ryul. Jadi dengan kata lain chang-ryul lah yang membuat Kae-in bisa diterima diperusahaan itu. Jin-ho kesal mendengarnya dan segera pergi untuk menemui Chang-ryul.

Jin-ho dan Chang-ryul bertemu di bawah jembatan. Jin Ho bertanya apa maksud Chang-ryul, bukankah di pulau Jeju dulu chang-ryul berkata akan melepaskan Kae-in.
“Apakah karena merasa bersalah, sehingga kau membantunya diam-diam?” tanya Jin-ho.
“Kamu tidak usah mengalihkan topik lagi. Lebih baik kamu katakan intinya saja” kata Chang-ryul dingin.
“Perusahaan Dongre” kata Jin-ho.
Chang-ryul tertawa dan berkata “Kamu memang Jeon Jin-ho yang hebat.  Berita seperti ini pun kau cepat mengetahuinya” kata Chang-ryul.
“Kamu dalang dibelakang ini kan? Apa maksud kamu sebenarnya?” tanya Jin-ho.
“Kamu seharusnya memikirkan masalahmu sendiri. Tempat kerja pun kamu sekarang tidak ada kan?” kata Chang-ryul.
Jin-ho terlihat kaget Chang-ryul mengetahui permasalahannya.
“Ah.. ternyata kamu masih belum tahu siapa pemilik baru gedung itu” kata Chang Ryul.
Jin ho mengerti sekarang  dengan menahan kesal Jin-ho bertanya bukankah waktu itu Chang-ryul berkata tidak akan main kotor lagi. Chang Ryul berkata, itu akan ia lakukan jika Jin-ho juga bermain dengan adil. Jin ho tak mengerti maksud Chang Ryul. 
“Apa kau berbuat begini untuk memisahkan kami lagi? Aku akan melarangnya menandatangi kontrak itu” kata Jin-ho.
“Aku akan menunggunya pelan-pelan ia kembali kesisiku. Lagipula jika kau melakukan itu, kau hanya akan menghancurkan hati Kae-in. Ini adalah pertama kalinya desain Kae-in diterima, jadi apakah kau akan tetap menghalanginya? Jeon Jin-ho kamu tahukah mengapa saya ingin mengejar kembali Ka-in? Itu karena kamu tidak bisa melakukan apapun untuknya” kata Chang-ryul sambil menepuk-nepuk pundak Jin-ho. Jin-ho kesal dan menghempaskan tangan Chang-ryul itu sambil berkata “Bocah hina”.
“Hina?” kata Chang-ryul kemudian tersenyum.
“Sebenarnya siapa yang hina? Kamu sendirilah yang paling tahu” kata Chang-ryul lagi.
“Saya memangnya sudah melakukan apa?” tanya Jin-ho.
"Kamu tanyakan diri kamu sendiri saja” kata Chang-ryul kemudian pergi dari sana.
“Aku tidak akan membiarkanmu memperalat Kae-in lagi. Tak peduli bagaimanapun caranya” gumam Chang-ryul sendiri.

Kae-in sedang mendapat telepon saat Jin-ho datang menemuinya. Setelah selesai telepon, Kae-in ingin mentraktir Jin-ho makan siang karena ia telah mendapat uang banyak.
“Kelihatannya, telepon tadi membuat kamu sangat senang?” tanya Jin-ho
“Ya. Mulai minggu depan aku sudah bisa bekerja di perusahaan Dongre. Tak sangka saat pekerjaan disini belum selesai sudah mendapat pekerjaan lain" kata Kae-in senang.
“Masalah perusahaan dongre” kata Jin-ho ingin mencoba mengungkapkan kebenaran.
“Kenapa apakah kau terlalu cemas? Mereka sudah mengatakan akan tanda tangan kontrak denganku” kata Kae-in.
“Walapun demikian seharusnya kau memikirkan...” kata Jin-ho.
Kae-in memotong dan berkata “Tidak perlu khawatir. Mereka suka dengan desain saya” kata Kae-in semangat.
“Dulu saya tidak pernah bisa membanggakan kemampuan saya didepan ayah saya, tapi kali ini saya bisa. Saya sangat senang karenanaya” kata Kae-in.   Jin-ho terlihat bingung bagaimna mengatakan yang sebenarnya. 
“Sebagai desainer yang memiliki karya sendiri, kamu pasti tahu bagaimna membanggakannya ini. Ini adalah pertama kalinya saya bisa melakukan hal yang dapat diakui oleh ayah" kata Kae-in senang. 
Jin ho akhirnya tidak tega membuat hati Kae-in kecewa ia hanya bisa memberi semangat Kae-in untuk bekerja saja.

Jin Ho merenung di kantornya. Tiba-tiba Sang-joon datang bersama seorang tamu. Ternyata tamu itu adalah kontraktor dari proyek Jin-ho yang dulu. Ia datang karena mendengar permasalahan yang dihadapi perusahaan Jin-ho. Sang-joon berterima kasih atas perhatian kontrkator itu. Kontraktor itu tanya apa keadaan Jin-ho baik-baik saja. Jin-ho berkata kalau mereka masih bisa mengatasi. Tiba-tiba kontraktor itu mengenali gambar di belakang Jin-ho.
“Bukankah itu Sang Go Jae?” kata sang kontaktor.
“Ya. Apakah kau tahu tentang Sang Go Jae” tanya Jin-ho.
“Anda bagaimana bisa mengetahuinya?” tanya Sang-joon.
“Tentu saya mengenali Sang Go-jae. Dulu saya pernah ikut membangunnya” kata Sang kontraktor.
“Benarkah?” kata Jin-ho penasaran.
“Saat itu saya masih pemula jadi hanya bisa bantu-bantu saja. Tapi bagaimanapun itu adalah karya pertama saya jadi saya ingat betul” kata sang Kontraktor.
“Kalau begitu anda sangat memahami Sang Go Jae?” tanya Sang-joon.
“Ya bisa dikatakan demikian” kata Sang kotraktor.
“Kalau begitu apakah anda masih ingat dalam pembangunannya ada kesulitan atau tempat yang unik kah?” selidik Jin-ho

Jin Ho langsung ke Sang Go Jae. ia teringat perkataan sang kotraktor kalau ia pernah membuat ruang bawah tanah di Sang Go-jae. Jin-ho melihat sekeliling Sang Go-jae dan berhasil menemukan ruang bawah tanah itu di gudang dapur. Jin turun ke bawah yang ternyara adalah sebuah ruang kerja kuno . Jin-ho kemudian menemukan sebuah foto.

Jin-ho sedang membersih barang-barang ruang bawah saat Kae-in datang. Kae-in sangat senang melihat Jin-ho yang pulang ke Sang Go-jae dan sedang bersih-bersih.
“Kau memang pria cantik. Mau kucium?” kata Kae-in menggoda.
Tentu saja Jin-ho menolaknya. Lalu ia dengan semangat mengatakan kalau ia baru saja menemukan foto ibu Kae-in. Kae-in kaget mendengarnya. Jin-ho kemudian menunjukan ruang bawah tanah itu pada Kae-in. 
Jin-ho menjelaskan ruang itu mungkin adalah ruang kerja ibu Kae-in dulu. Kae-in keheranan melihat ruang yang tak penah ia lihat itu. Jin-ho juga bercerita kalau kontraktor Sang Go Jae dulu berkata, kalau dulu  ada kaca besar di atas ruang itu agar bisa memasukan cahaya saat cuaca cerah. Jin Ho naik ke atas meja dan menyinkirkan beberapa kayu diatas mereka. Sinar mentari masuk mengenai wajah Kae in.

Jin-ho masih menjelaskan mungkin saat itu ibu Kae-in bekerja sambil mengawasi Kae-in yang bermain di atasnya. Kae-in sendiri mulai teringat masa lalunya. ia ingat saat itu ia bermain diatas atap kaca itu, dan ibunya bekerja di bawah sambil tetap mengawasinya.

Jin Ho berkata desain ruangan seperti itu sangat unik di Korea.  Kae-in masih melihat keatas, ingatannya kembali saat tiba-tiba kaca itu pecah.
“A....” teriak Kae-in ketakutan sambil menutup telinganya. Kae in pingsan dalam pelukan Jin ho.
”Kae-in, kamu kenapa? Kae-in ah... Park Kae-in” teriak Jin-ho.

Senin, 05 Juli 2010

Personal Taste episode 11

Kae-in sedang melakukan pengakuan pada Chang-ryul dan tiba-tiba Jin-ho datang menarik tangannya, lalu berkata “Game over” dan menciumnya. Chang-ryul dan In-hae yang ada disana tak percaya melihat kejadian itu. Chang-ryul kemudian segera mimasahkan meraka, ia tanya apa yang dilakukan Jin-ho dengan calon pacarnya dan ia mengingatkan Jin-ho tentang pembicaraan mereka berdua kemarin. Kae-in masih bingung dengan kejadian itu. “Saya juga ingin melakukan itu, tapi saya tak dapat lakukan” kata Jin-ho. “Apa?” kata Chang-ryul tak percaya. “Mulai sekarang, saya mau dengan identitas sebagai lelaki berpacaran dengan wanita ini” kata Jin-ho. Kae-in kaget mendengarnya. “Jeon Jin-ho!” kata Chang-ryul kesal. In-hae kaget tak percaya mendengar pengakuan Jin-ho. “Jin-ho apa maksud semua ini? Kamu kenapa bisa dengan identitas sebagai lelaki” tanya Kae-in bingung. Jin-ho menghampiri Kae-in dan menjelaskan. “Kae-in, saya bukan gay”. Kae-in tambah bingung. “Kalau begitu!”. “Sangat maaf, sekarang baru beritahu kamu” kata Jin-ho. Kae-in mulai mengerti bahwa itu kenyataan. “Walaupun terlambat. Tapi, kamu bisa maafkan saya kan?”tanya Jin-ho lagi. Kae-in sedih mungkin juga lega ia memukul-mukul bahu Jin-ho sebagai tanda kekesalannya kerena dibohongi. Tapi pukulan Kae-in pelan dan seperti tak niat sehingga Jin-ho bisa menghentikannya kemudian memeluk Kae-in.


Chang-ryul pergi minum-minum bersama In-hae. ia bertekat melepaskan Kae-in. Tapi In-hae berkata bagaimana bisa Chang-ryul menyerah begitu saja, ia menyuruh Chang-ryul pergi mencari Kae-in dan berlutut memohon untuk kembali. Tapi Chang-ryul sepertinya sudah benar-benar ingin merelakan Kae-in, ia berkata kalau mereka berdua tadi terlihat saling mencintai, jadi tak ada harapan lagi ia bisa kembali dengan Kae-in. In-hae tak peduli, ia mengingatkan lagi kalau Chang-ryul pernah berkata kalau ia tak bisa hidup tampa Kae-in jadi seharusnya ia berusah merebut Kae-in lagi. Chang-ryul tetap tak mau. In-hae tanya apa alasannya. Chang-ryul berkata karena ia mencintai Kae-in dan ia selama ini telah membuat Kae-in menderita, jadi jika ia sekarang bersama Jin-ho bisa tersenyum maka sudah seharusnya ia melepaskannya. In-hae tertawa mendengar alasan itu. “Kamu kira itu adalah cinta?” (ya.. tentu saja.. cinta adalah jika bisa melihat orang yang kita cintai bahagia.. karena dengan hanya melihatnya bahagia kita akan ikut bahagia..). “Kamu kira itu adalah cinta? Jangan salah, Han Chang-ryul. Itu hanyalah alasan untuk menutupi kelemahanmu saja. Kamu hanya bisa disini minum-minum untuk menghilangan pikiran tentangnya. Tapi aku mulai sekarang akan melakukan tindakan” kata In-hae kemudain berdiri hendak pergi. Chang-ryul menariknya duduk kembali. “Aku mohon kamu hentikan ini saja. Kim In-hae, kamu berbuat begini hanya akan membuat dirimu makin parah saja”. "Dalam kasus cinta hanya ada satu ketepatan saja. Yaitu jika saya tidak dapat memilikinya, maka orang lain jangan harap memilikinya” (Hoi.. sadar dong.. sejak kapan Jin-ho pernah mau jadi milikmu).


Dalam perjalan pulang Kae-in hanya diam saja di mobil. Jin-ho terlihat lega karena telah berhasil mengatakan hal yang sebenarnya, tapi melihat Kae-in begitu kecewa. Ia minta maaf lagi dan berkata kalau ia tahu ia salah dan pantas mati. Tapi Kae-in tetap diam saja. “Apa kamu lain hari pun tak ingin bertemu dengan saya lagi? Kamu tak tahu saya juga melewati ini dengan sangat kacau” kata Jin-ho memancing. Kae-in diam saja dan mengingat pembicaraan mereka setelah kejadian ciuman itu disuatu tempat.

Kae-in saat itu berkata bahwa ia selalu berharap Jin-ho adalah laki-laki sesungguhnya, tapi sekarang ia merasa sangat idiot setelah mengatahui kebenarannya. Jin-ho saat itu berkata kalau ia benar-benar tidak ada keyakinan hati untuk mengungkapkan kebenarannya pada Kae-in. Ia juga berkata bahwa ia takut Kae-in masih suka dengan Chang-ryul makanya memutuskan balas dendam. Kae-in berkata karena ia menyukai Jin-ho makanya ada keberanian untuk melakukan balas dendam. Jin-ho berkata kalau ia baru mengetahuinya saat melihat Kae-in berbicara yang sesungguhnya pada Chang-ryul. Kae-in berkata Jin-ho idiot karena baru mengerti perasaannya padahal ia sudah rela berpura-pura jadi laki-laki agar bisa Jin-ho melihat kesungguhan hatinya. Ia juga berkata bahwa walaupun ia ada sedikit idiot ia merasa yakin jika bersama Jin-ho dan bahkan ia rela melepasakan identitas wanitanya agar bisa terus menemaninya. Kae-in jadi sedih, Jin-ho minta maaf karenanya. Kae-in saat itu berkata kalau ia tak mau memaafkan Jin-ho.

Kembali kesaat ini Jin-ho terlihat sedih melihat Kae-in masih tak mau memaafannya. Tapi dalam hati Kae-in bergumam “Laporan cuaca Park Kae-in besok: terus berharap dia dengan identitas ini sebagai teman terus berada tinggal disiiku. Hari ini dia malah berharap kita bisa berhubungan sebagai teman wanita dan lelaki dan juga minta maaf kepada saya. Walapun terharu dan mengeluarkan air mata untuknya, tapi hari ini jangan memaafkan dia dulu. Tapi mulai besok ,tak peduli cuaca sedang bagaimana saya tidak akan takut lagi”.


Saat sudah sampai di depan Sang Go-jae. Kae-in dengan dingin menyuh Jin-ho pulang saja karena ia tak ingin melihat Jin-ho lagi. Jin-ho tak percaya Kae-in berkata seperti itu, ia lalu menyusul Kae-in masuk kedalam. “Kae-in aku tahu kamu merasa dikhianati jadi tak ingin memaafkan saya. Tapi saya baru pertama kali mengatakan hal itu pada orang lain jadi tak tahu harus bagaimana menyelesaikannya. Kamu anggap saya kalah saja, dan sedikit memaafkan saya”. “Kamu juga bukan pertama kali seperti ini”. Jin-ho bingung mendengarnya. “Jin-ho kamu.. kamu bukankah pernah mencintai orang lain, iya kan? Saat bertemu dengan Eun-soo, bukankah dengan orang itu kau juga mencintainya?”. “Rupanya kamu lagi keberatan dengan Eun-soo” (Iya.. Kae-in cemburu tu!!). “Kalau begitu saya akan jelaskan pada kamu. Saya dan Eun-soo...”. tiba-tiba Hye-mi dalam keadaan mabuk datang bersama Tae-hoon. “Oppa kenapa bukan saya?”. “Tae-hoon, kamu jagakan dia!”. Kae-in tak suka melihat Hye-mi terus mendekati Jin-ho. “Saya tanya kamu, kenapa bukan saya? Saya lebih muda dan lebih cantik dibandingkan wanita itu. Memang benar oppa tak mencitai saya, tapi mengapa?”. “Hye-mi!”. Kae-in tak tahan ia beranjak menuju kamarnya. “Kae-in..” kata Jin-ho mencoba mencegah. Hye-mi menghalangi dan berkata “Kenapa saya tidak bisa, tapi wanita itu bisa?”. “Dalam mata saya kecuali dia, mata saya tak bisa melihat wanita manapun” teriak Jin-ho mulai kesal menghadapi Hye-mi. Kae-in berhenti karena kaget mendengar perkataan Jin-ho, tapi kemudain masuk kamarnya dan didalam kamar kae-in bergumam “Jika langsung memaafkannya. Park Kae-in kamu benar-benar tak ada harga diri” lalu Kae-in tersenyum kecil (senenng nih...). Jin-ho menyeret Hye-mi dan Tae-hoon keluar. Hye-mi kesal tapi Jin-ho tak peduli. Jin-ho kemudain memarahi Tae-hoon yang membiarkan Hye-mi datang kesana. Tae-hoon berkata ia tak bisa menahan karena Hye-mi sedang mabuk dan terus menangis.


Jin-ho akhirnya mengantar Hye-mi pulang kerumahnya. Ibu Jin-ho sudah menenangkan Hye-mi hingga ia tertidur. Kemudian ibu Jin-ho berkata pada Jin-ho agar ia memaklumi kelakuan Hye-mi yang kekanak-kanakan. Jin-ho berkata lebih baik luka sedikit sekarang dari pada luka berkepanjangn nanti, kemudian ia tanya pada ibunya apakah ibunya tahu Tae-hoo begitu mencintai Hye-mi. Jadi ia berharap ibunya tak mengkhawatirkan Hye-mi lagi.
Sementara itu Kae-in kesal karena pergi tanpa memberitahunya. Ia mondar-mandir menunggu Jin-ho. “Tidak pulang iyakah?” kata Kae-in kesal. Sementara itu di tempat lain Jin-ho sedang pamitan pada ibunya. Ibunya memperingatkan jika Jin-ho terus tinggal di rumah Kae-in tanpa ikatan pernikahan akan sangat tidak enak jika diomongkan orang lain. Jin-ho tetap beralasan karena ada proyek bersama Kae-in makanya putuskan untuk tinggal bersama dengannya agar lebih leluasa. Ibunya tanya apa Kae-in juga seorang arsitek (saya buk yang digitek). Jin-ho berkata bukan, dan menjelasakan kalau Kae-in adalah Designer furniture yang sekarang punya tugas penting mendesain salah satu proyeknya. Ibunya sedikit tak percaya. Jin-ho lalu mengalihkan pembicaraan dan minta ibunya menyelesaikan masalah tetang Hye-mi karena nanti bisa mengganggu hubungannya dengan Kae-in. Ia kemudian pamit pulang lagi.

Di Sang Go-jae Kae-in telah mengambil boneka Jin-honya, ia menggantung boneka itu kemudian dipukullinya sambil mengomel. “Kamu, Jin-ho. Kamu baik-baik sadarkan diri. Kamu sebenarnya bagaiman terhadap wanita? Membuat mereka terus terseyum terhadapmu. Kamu ini lelaki jahat!”.


“Kamu sekarang lagi melakukan apa?” kata Jin-ho tiba-tiba mengagetkan Kae-in. “Kenapa boneka ini bernama Jin-ho?” lanjut Jin-ho. Kae-in panik, ia langsung menurunkan bonekanya dan hendak pergi. “Memukul boneka ini, apa membuat hatimu jadi agak baikkan? Jangan begini, lebih baik kamu memukuli aku saja” kata Jin-ho sambil menarik tangan Kae-in agar tidak pergi. Kae-in tidak enak, ia tetap mau pergi. Tapi Jin-ho menghalangi lagi dan berkata “Saya ini orang jahat, jadi lebih baik kamu pukul saya saja”. Jin-ho yang masih memegang tangan Kae-in lalu menarik tangan Kae-in untuk memukuli dirinya. “Benar.. benar.. lepaskan!” kata Kae-in menarik tangannya. “Kamu dengan Hye-mi ada hubungan apa?” tanya Kae-in tiba-tiba. Jin-ho kaget, Kae-in langsung menjelaskan maksudnya “Bukan begitu tadi Hye-mi bilang ia adalah calon istri kamu. Itu pasti ada hal yang disembunyikan iya kan?”. “Dari umur 7 tahun Hye-mi sudah begitu” kata Jin-ho. “Ha.. mulai dari umur 7 tahun sudah suka kamu?” kata Kae-in kaget. “Kamu benar-benar membuat banyak wanita menangis” lanjut Kae-in. “Kamu lagi cemburukah?” kata Jin-ho sambil tersenyum. “Siapa yang cemburu?” kata Kae-in gengsi. “Saya lihat kamu memang benar-benar lagi cemburu” kata Jin-ho sambil tersenyum lagi. “Tidak cemburu! Saya benar-benar tak mengerti kamu. Saya kira seharusnya kamu menjadi orang yang tegas. Hye-mi sudah mengejarmu dari umur 7 tahun. Kamu mana bisa begitu terhadap dia? Hal ini tidak ada kaitannya dengan saya, kamu suka bagaimana ya terserah kamu”. Jin-ho hanya senyum-senyum kecil melihat reaksi Kae-in yang cemburu. “Orang yang begitu kejamkah menurutmu, yang mengatakan hal sebenarnya? Saya memang kejam tidak memeprdulikan perasaan ornag lain bagaimana. Juga tidak ada waktu memperdulikan hal itu. Jadi saya baru bisa membuatmu sedih” kata Jin-ho menjelaskan. Kae-in jadi tak enak, ia lelu mencoba menayakan sikap kejam yang bagaimana Jin-ho tunjukan saat berhubungan dengan Eun-soo. “Sebelum dia pergi kuliah, dia bilang pada saya jika saya suruh dia tinggal maka dia akan tinggal. Tapi saya tidak menyuruhnya tinggal” jelas Jin-ho. Kae-in kaget mendengarnya, ia tanya kenapa alasannya karena Eun-soo adalah orang yang bisa menarik perhatian Jin-ho begitu besar dulu. “Saya tak yakin dia adalah orang yang begitu berarti dalam hidup saya” jelas Jin-ho lagi. “Kalo begitu saya bagimu apa?” tanya Kae-in. “Walaupun kehidupan dimulai kembali, kamu adalah orang yang tak ku inginkan hilang dari kehidupan saya”. Kae-in jadi salah tingkah mendengarnya, ia lalu mengalihkan pembicaraan dan bertanya apa Jin-ho tidak lapar. Kae-in kemudian mau pergi membuatan mie, tapi Jin-ho mencegah. Dia menarik tubuh Kae-in kemudian memeluknya erat. “Jika merasa malu kamu selalu menanyakan tentang makanan, dasar wanita aneh” kata Jin-ho sambil memeluk Kae-in. “Aku mencintaimu” (aku juga... wkwk) lanjut Jin-ho. Kae-in senang mendengarnya dan mereka saling berpelukan malam itu.



Pagi harinya Jin-ho yang sedang senang berbuat baik pada para karyawannya. Semua karyawan heran melihat sikap Jin-ho itu. Jin-ho beralasan hal itu sebagai rasa terimakasih karena mereka telah bekerja keras selama ini, ia juga berkata kalau ia mencintai para karyawannya. Semua karyawan langsung bubar begitu mendengarnya (haha.. kalo aku karyawannya pasti memabalasanya dan bilang aku juga mencitaimu bos...).

Sementara itu di Sang Go-jae Kae-in dengan malu-malu menceritakan kejadian kemarin pada Young-soon. Young-soon kaget setengah mati mendengarnya. Ia memeringatakan Kae-in akan mati jika berbohong kepadanya. Kae-in berkata bahwa itu kenyataannya. Jin-ho kemarin mengaku kalau dia bukan gay dan menyatakan kalau ia mau berhubungan dengannya seperti hubungan pria dan wanita apalagi kemarin Jin-ho menciumnya didepan In-hae dan Chang-ryul (Lucu..lucu.. liat cara cerita Kae-in pada Young-soon dan reaksi Young-soon yang seperti anak-anak). Young-soon senang sekali mendengarnya, tapi kemudain ia ingat kalau cerita itu benar maka Sang-joon telah membohonginya.


Young-soon langsung membuat janji bertemu dengan Sang-joon. Saat Sang-joon sudah tiba, Young-soon dengan muka serius bertanya apa Sang-joo bukan gay. Mulanya Sang-joo mengelak, tapi melihat muka Young-soon yang serius akhirnya ia mengakuinya. Young-soon langsung marah dan mau memukul Sang-joon, ia merasa malu karena selama ini ia menganggap Sang-joon gay makanya ia meceritakan rahasia yang bahkan tak bisa dia ceritakan pada Kae-in (apa ya???). Sang-joon berkata agar Young-soon tak perlu malu terhadap dirinya. Young-soon marah dan minta merek jangan bertemu lagi. Sang-joon heran, ia tanya darimana Young-soon tahu kebenaran itu. “Apa karena saya yang berpura-pura gay masih memiliki daya tari laki-laki?” tanya Sang-joo. “Bicara apa kau? Benar-benar ingin aku menghajarmu ya? Kae-in dan Jin-ho sedang berpacaran” kata Young-soon. “Apa? Siapa berpcaran dengan siapa?” tanya Sang-joon kaget.


Begitu sampai di kantor Sang-joon langsung mencari Jin-ho. “Kamu..”. “Apa?” kta Jin-ho bingung. "Kamu dan Kae-in??”. “Wah kabarnya sangat cepat juga ya?” kata Jin-ho senang. “Apa? Kalau begitu ini adalah kenyataan”. “Ya.. kenyataan” kata Jin-ho sambil senyum lebar. “Kalau begitu bagimana ini? Bagaiman dengan ketua Choi?” kata Sang-joo khawatir. “Dia tahu kamu adalah gay, makanya begitu mendukungmu” kata Shang-joon lagi. “Aku akan katakan yang sebenarnya padanya” kata Jin-ho. “Kamu jangan terburu-buru, ini adalah masalah yang sangat serius. Jika ketua Choi marah lalu membatalkan kamu, kita harus bagaimana? Kamu apa benar begitu mencintai Kae-in?” kata Sang-joon. Jin-ho mengangguk senang.


Sementara itu di gedung Maiseu, Do-bin menyerahkan tiket ke pulau Jeju buat Kae-in. Ia ingin Kae-in membantunya dekat lagi dengan Jin-ho dan berharap kali ini Kae-in berakting dengan baik. Kae-in tak enak dan mau mencoba menjelaskan. Tapi tiba-tiba In-hae datang memberitahu kalau Do-bin harus pergi kebandara sekarang. Kae-in bingung harus bersikap bagaimana.

Sang-joon yang merasa khawatir mulai berpikiran aneh-anah. Ia menjadi senang Jin-ho jadian dengan Kae-in, karena itu berarti Jin-ho akan menjadi menantu arsitek terkenal Korea. Jin-ho jadi pusing memikirkannya. “Hyung, kamu jangan katakan sembarangan”. “Saya mengerti. Saya mengerti. Kamu bukan demi hal itu, tapi saya sekarang merasa tenang”. “Jika kamu begini lagi, saya pergi ke gedung Meiseu saja menjelaskan yang sebenarnya” kata Jin-ho. “Baiklah, aku akan tutup mulut. Kamu ini benar-benar..” kata Sang-joon. “Keluar” teriak Jin-ho. Sang-joo keluar sambil senyum-senyum terus. “Saya mau gila” gumam Jin-ho sendiri.

Di suatu apartement ayah Chang-ryul marah-marah sambil membangunkan Chang-ryul. “Bocah ini kamu apakah tak mau hidup lagi”. Ayah Chang-ryul terus marah-marah saat Chang-ryul mulai bangun, ia juga mengancam akan mengirim Chang-ryul ke Cina. “Ya, saya akan lakukan” kata Chang-ryul setuju dikirim ke Cina. Ayah Chang-ryul dan asisten Kim kaget mendengarnya. Ayah Chang-ryul langsung mau menghajar Chang-ryul tapi dihalangi oleh asisten Kim. “Saya tidak ada kepercayaan diri lagi tinggal disini. Jadi saya pergi saja ke Cina” kata Chang-ryul menjelaskan.

Jin-ho pergi ke gedung Meiseu ingin bertemu dengan Do-bin. Tapi tak sengaja ia berpapasan dengan In-hae. In-hae menyindir Jin-ho punya keberanian besar untuk menyatakan cintanya. Jin-ho dengan dingin mengucapkan terimakasih. In-hae bertanya apa yang membuat Kae-in lebih baik dan Jin-ho berani membuat ketua Choi kecewa. “Kae-in ada begitu mulia kah?”. “Ya” jawab Jin-ho tegas. In-ha jadi kesal mendengarnaya. Jin-ho lalu pamit mau bertemu Do-bin. In-hae menyindir lagi dengan berkata memang seharusnya Jin-ho mengatakan yang sebenarnya pada Do-bin, tapi sayang Do-bin sedang pergi ke Jepang. Jin-ho langsung pamit pulang. In-hae tiba-tiba memberikan undangan rapat di pulau Jeju oleh perusahaannya. Jin-ho menerimanya. In-hae memberitahu bahwa pulau Jeju adalah tempat kesukaan Do-bin jadi ia harap Jin-ho tidak menjadikan tempat itu menjadi tempat yang menyedihkan bagi Do-bin. Jin-ho tak peduli dan pamit pergi lagi. “Kenapa Kae-in?” tanya In-hae tiba-tiba. “Saya tak dapat dibandingkan dengan dia kah? Membujuk ketua Choi yang kecewa dan membuat pengaruh pada juri saya lebih bisa dibiandingkan dengan dia” lanjut In-hae. Jin-ho berbalik sambil tersenyum dan bilang “Yang saya cari bukan teman dalam bisnis. Melainkan orang yang dapat mendampingi saya dalam kehidupan ini”. “kamu kira Kae-in bisa seperti itu?”. “Kenapa kamu membuang waktu mengurusi hal ini?”. In-hae kesal mendengarnya. “Kemarin kamu melihat saya bersama Kae-in saling mengungkapkan cinta kan? kenapa kamu tak menyerah saja?”. “Ini mungkin karena saya tidak rela kalah”. “Kamu memang orang yang sedikitpun tak punya kepedulian dengan kehidupan dirimu sendiri ya!”. Kemudian Jin-ho pergi, In-hae terlihat begitu kesal mendengarnya (sukurin).


Jin-ho menemui Kae-in di ruang kerjanya. Kae-in telihat senang melihat Jin-ho di sana. Jin-ho mengajak Kae-in pergi kencan. Kae-in bercanda dengan berlagak jual mahal kemudian berkata sebenarnya ia sedang sibuk, tapi jika Jin-ho memohon ia akan mempertimbangkannya. Jin-ho tertawa dan berkata sejak kapan ia memohon. Kae-in senyum dan berkata ia akan segera membereskan pekerjaannya dan segera siap untuk pergi. Sambil berdiri Kae-in menyindir bukankah Jin-ho pernah memohon padanya saat di depan ibunya kemarin. Jin-ho mengelak dan berkata kalau ia tiba-tiba ingat ada janji lain dan menyuruh Kae-in menyelesaikan pekerajaannya saja. Kae-in langsung mengalah dan mengakui bahwa ia hanya ingin bercanda. Jin-ho tetap mau pergi sambil senyum-senyum karena berhasil mengerjai Kae-in. Kae-in berusaha mencegah, tapi tiba-tiba Jin-ho mendapat telepon dari ibunya.


Ternyata ibu Jin-ho mau bertemu Jin-ho dengan Kae-in. Kae-in sangat cemas dengan penampilannya karena ini pertemuan pertama dengan Ibu Jin-ho secara resmi. Jin-ho berkata bahwa ibunya bukan orang yang menilai orang lain dari penampilannya. Kae-in tetap cemas, ia takut ibu Jin-ho menganggapnya tak sepandan untuk anaknya. Jin-ho hanya senyum, ia lalu berkata kalau ibunya juga akan bilang suka jika ia mengatakan suka. “Benarkah?”. “Ya. Ia pasti akan menganggapmu sebagai putrinya juga” kata Jin-ho menenangkan. Kae-in mulai lega, tapi tiba-tiba ia meliha ibunya Jin-ho datang. Kae-in langsung reflek berdiri memberi hormat dengan tegang. Kemudian mereka bertiga duuduk bersama. “Nona Park Kae-in, iya kan?”. “Ya”. “Hari itu terlalu kacau, jadi tidak bicang-bincang dengan baik dengan kamu”. “Tidak, sayalah yang tidak baik. Seharusnya sejak awal pergi bertemu dengan anda”. “Saya percaya Jin-ho. Saya yakin pasangan yang dicari Jin-ho adalah yang unggul”. “Saya masih banyak kekurangan” kata Kae-in malu-malu. “Kamu ini! Seharusnya merasa bangga!” kata Jin-ho memperingatkan. “Dia ini begitu jujur” kata Jin-ho pada ibunya. “Kelihatannya Jin-ho sangat menyukai dia” kata Ibu Jin-ho pada Jin-ho (ibu anak ini selalu panggil nama sebagai tanda sayang). “Ini pertama kali melihatmu didepan saya masih membantu orang lain berbicara” lanjut ibunya. “Jika saya tidak membantunya, dia tidak akan dapat saya”. “Saya ini bukan orang yang begitu pelitkan? Walaupun bukan pelit, tapi saya ada sedikit kecemasan”. “Apa?” kata kae-in kaget. “Proyek yang sekarang kalian kerjakan. Walaupun kalian katakan tidak ada cara lain selain harus bersama”. “Proyek?” kata Kae-in kaget. Jin-ho langsung berusaha menjelasakan. “Kita sekarang bukannya sedang bekerja sama menangani proyek gedung Meiseu kan?”. Kae-in bingung, Jin-ho memberi tanda agar Kae-in mengikuti saja cerita karangannya. Kae-in akhirnya mengangguk membenarkannya. “Jadi kalian benar-benar bekerja sama? Ini saya bisa mengerti, tapi harap kamu janji pada saya satu hal”. “Apa?” kata Kae-in cemas. “Sebelum menikah hamil dulu. Saya harap ini tidak terjadi” kata ibu Jin-ho. Kae-in dan Jin-ho kaget mendengarnya.


Saat pulang ke Sang Go-jae, Kae-in masih memikirkan perkataan ibu Jin-ho. Ia akhirnya tiba-tiba menyuruh Jin-ho pulang kerumahnya saja. “Apa?” kata Jin-ho kaget. “Kamu kenapa harus tinggal disini dan berbohong pada ibumu? Sebelum menikah hamil!, saya dengan apa harus mendengar perkataan seperti ini?” kata Kae-in kesal. “Kamu jangan terlalu memikirkannya. Saya dengan satu jari pun tak ada niat mau menyentuhmu. Jadi kamu jangan salah paham”. “Hanya kamu yang memikirkan begini. Apa gunanya? Ibu tetap saja khawatir”. “Kalau begitu saya akan pergi saja” kata Jin-ho mengancam. “Pergilah”. “Kamu ini benar-benar sangat dingin. Saya benar-benar akan pergi nih”. “Pergilah” kata Kae-in dingin.

Jin-ho kemudian memberesan barang-barang dikamarnya. Kae-in mengawasinya. “Mau saya bantu?”. “Tak perlu” kata Jin-ho kesal. “Benar juga ini adalah masalahmu sendiri jadi harus kamu selesaikan sendiri” kata Kae-in menggoda. “Saya mulanya sudah begini” kata Jin-ho. Kae-in senyum dan tanya “Tak ingin pergi ya!”. “Kenapa tak ingin pergi? Tidak ada kamu, saya malah bahagia”. Kae-in menggoda lagi dengan berkata kalau sebaiknya mereka kencan seminggu sekali saja. Jin-ho kaget mendengarnya. Kae-in berkata ia sedang sibuk akhir-akhir ini jadi cukup kencan sekali seminggu saja. “Saya juga dengan sibuk dengan proyek baru. Kalau begitu bagaimana kalau kita sebulan sekali bertemu saja?” kata Jin-ho balas menggoda. Tapi Kae-in malah langsung menggangguk menyetujuinya, dan berkata sebaiknya Jin-ho segera beberes dan lekas pergi karena ia sedang banyak kerjaan. Kae-in pergi, Jin-ho kesal godaannya tak berhasil. “Tak bisa begini” kata Jin-ho.

Jin-ho selesai berberes, ia pamit pada Kae-in dari luar kamar kerja Kae-in. Kae-in yang sedang bekerja dari dalam dengan enteng mempersilahkannya. “Tidak pergi mengantar keluar sayakah?” kata Jin-ho kesal. “Saya sangat sibuk, tak ada waktu untuk itu”. “Kalau begitu kamu rajin bekerja saja, saya pergi” kata Jin-ho memancing. “Selamat jalan”. “Benar. Saya pergi nih” kata Jin-ho. Didalam Kae-in kesal “Kamu buka pintu sendiri tak bisakah? Benar-benar sangat keterlaluan”. Jin-ho kesal pergi menuju mobilnya. “Park Kae-in, kau benar-benar bodoh. Jika saya pulang kerumah bagaimana bisa keluar lagi” gumam Jin-ho sendiri. Kae-in tak bisa konsentrasi kerja, ia kesal karena Jin-ho menuruti saja perintahnya untuk keluar dari rumahnya. Ternyata Jin-ho tidak pergi, ia tinggal di dalam mobilnya. Ia mencoba membuat alasan-alasan agar bisa kembali ke Sang Go-jae.

Tiba-tiba Kae-in mendengar pintu gerbang rumahnya terbuka. Ia kaget sekaligus senang mendengarnya karena ia menggap itu Jin-ho. Dan benar Jin-ho kembali ke dalam. Kae-in lalu keluar dengan sikap sok dingin, ia tanya kenapa Jin-ho kembali. Jin-ho berkata kalau laptopnya ketinggalan. “Barang yang begitu penting dan dipakai tiap hari kenapa sampai keluapaan tidak di bawa?” sindir Kae-in. “Saya juga ada saat tidak hati-hati” kata Jin-ho. Jin-ho memberekan laptonya dengan pelan-pelan, Kae-in menggoda agar Jin-ho segera memberekan laptopnya dan pergi dari sana. “Saya bukannya sedang memberesakan” teriak Jin-ho kesal.

Setelah selesai beres-beres dan mau pergi, Kae-in memperingatkan agar Jin-ho lihat lagi apa ada barang yang ketinggalan tidak, agar ia tidak kembali lagi. “Saya sudah kemas semuanya” kata Jin-ho kesal. “Kalau begitu kamu baik-baik di jalan, ya!” kata Kae-in. “Kamu harusnya yang baik-baik”. “Huah.. sangat ngantuk” kata Kae-in pura-pura ngantuk dan masuk kamarnya. ‘Lihat.. mengartar pergi pun tidak “kata Jin-ho kesal. Jin-ho pergi, Kae-in di dalam mengupingnya. Ia khawatir Jin-ho kali ini benar-benar pergi, kemudaian ia pura-pura sakit. Dan benar Jin-ho langsung khawatir dan masuk melihat keadaan Kae-in. “Ada apa?”. “Saya tadi terjatuh, sepertinya kaki saya terluka”. “Mana, disinikah?” kata Jin-ho sambil memegang kaki Kae-in yang sakit. Tapi Kae-in malah tertawa geli karena kakinya dipegang. Jin-ho memandang Kae-in curiga. Kae-in sadar dan pura-pura lagi dan menunjuk bagian kakinya yang sakit. Jin-ho melihat bekas luka lama disana dan tanya itu luka karena apa. Kae-in berkata mungkin karena jatuh saat kecil tapi ia sudah lupa kejadiannya bagaimana. Jin-ho mengelus luka itu dan bilang “Pasti sangat sakit ya?”. Tapi lagi-lagi Kae-in geli saat kakinya dipegang Jin-ho. Jin-ho akhirnya sadar kalau Kae-in hanya berbohong. Kae-in menyangkal dan berakta kalau ia benar-benar sakit. Jin-ho tak percaya dan berkata kalau akting Kae-in buruk sekali. Kae-in kesal dan menghampiri Jin-ho. Mereka saling bertatapan dan tiba-tiba mereka jadi gugup karena terlalu dekat. Mereka lalu mau berciuaman, tapi tiba-tiba ada suara Young-soon datang. Kae-in kaget dan khawatir jika Young-soon melihat Jin-ho dikamarnya. Ia minta Jin-ho sembunyi sementara ia menemui Young-soon.



Kae-in menghampiri Young-soon ia tanya kenapa Young-soon tiba-tiba datang malam-malam. Young-soon terlihat sedih. Kae-in tanya sebenaranya ada apa hingga Young-soon datang membawa koper besar-besar. Young-soon Cuma berkata bahwa Kae-in pasti tahu kenapa. “Bertengkar dengan oppa lagi kah?”. “Kae-in, saya bisakah tinggal sementar di sini?” tanya Young-soon memelas. Kae-in kaget mendengarnya tapi ia hanya bisa menganggu-angguk menyetujuinya. Sementara itu Jin-ho yang sedang sembunyi di dalam lemari kesal mendengarnya. “Orang ini kenapa mau tinggal di sini?”. Kae-in khawatir dengan Jin-ho, ia mencoba memeperingatkan Young-soon bahwa ia tidak bisa keluar rumah begitu saja karena masih ada anaknya di rumah. Young-soon tetap pada pendiriannya dan cerita permasalahannya. Kae-in bingung harus bertindak bagaimana. Tiba-tiba Young-soon ingat, ia tanya apa Jin-ho ada di rumah karena ia takut Jin-ho mendengar curhatnya tadi. “Tidak, Jin-ho sedang tak ada sini” kata Kae-in. Young-soon jadi tenang, ia ingat Jin-ho bukan gay jadi pasti tak enak tinggal dengan Kae-in. Young-soon kemudian tanya apa Kae-in pernah melihat sesuatu yang tak boleh dilihat saat mereka tinggal bersama. “Kamu ini khawatiran apa, kami ingin melihat pun tak dapat melihat” gumam Kae-in pelan. “Apa?” tanya Young-soon. “Tidak. Tidak ada apa-apa” kata Kae-in. Young-soon kemudian mau masuk kamar Kae-in untuk membereskan baranganya dan menyuruh Kae-in menyiapan makanan untuknya. Kae-in langung cemas, ia mencoba menyuruh Young-soon mandi dulu sebelum masuk kamarnya. Young-soon heran tapi akhirnya menurutinya.



Kae-in masuk kekamarnya, ia bingung karen Jin-ho tak ada di sana. Ia lalu memanggil-manggil nama Jin-ho pelan, Jin-ho keluar dari lemari. Ia langsung menyuruh Kae-in mengantar Young-soon pulang. Kae-in berkta tak bisa karena Young-soon baru bertengkar dengan suaminya. “Kalau begitu kamu menyuruhku sembunyi dini sampai kapan?” tanya Jin-ho kesal. Kae-in menyuruh Jin-ho pelan dikit sambil menyuruh Jin-ho pergi diam-diam saja dari sana. “labih baik waktu menjadi gay, lebih lelasa” kata Jin-ho. Kae-in tersenyum dan menggoda “Begitu ingin bersama saya kah?”. Jin-ho hanya diam. Kae-in lalu mencium pipi Jin-ho, ttapi tepat saat Young-soon mau masuk kekamar mencari Kae-in. Young-soon kaget dan langsung keluar lagi, tapi ia masuk lagi minta maaf dan berkata agar merea berdua melanjutkan saja kemudian keluar (haha.. kacau semua..).


Beberapa saat kemudian Kae-in dan Young-soon mengantar Jin-ho keluar. Young-soon merasa tidak enak karena dia Jin-ho harus pergi. Jin-ho berkata tidak apa-apa, kemudian ia pamit pergi. Tapi tiba-tiab Young-soon mencegah, ia ingin tanya sesuatu lagi. Young-soon bertanya sebenarnya sebelum ia datang Jin-ho mau melakukan apa dengan Kae-in. Jin-ho malu dan langsung pergi dar sana. Kae-in merasa kesal dengan Young-soon karena mengacau acaranya. Akhirnya malam itu Jin-ho menginap di kantornya.


Keesokan harinya In-hae menerima laporan proyek museum untuk diserahkan pada Do-bin. Si karyawan curhat sedikit dengan berkata proyek museum pasti sudah berjalan jika sejak awal di serahkan kepada Prof. Park. Mendengar nama Prof. Park, In-hae jadi penasaran. Ia bertanya sebenarnya ada alasan apa sampai harus berurusan dengan Prof. Park. Si karyawan menjelasakan karena ketua Choi menyukai desain-desain bangunan rancangan Prof. Park. In-hae mulai menyadari sesuatu saat itu.

Hye-mi dengan membawa koper tiba-tiba mengahampiri Kae-in di tempat kerja Kae-in. “Kamu benar ingin menikah dengan Oppa Jin-ho kah?” tanya Hye-mi langsung. Kae-in kaget mendengarnya dan hanya diam saja. “Tidak ada waktu lagi. Jangan menjawab bertele-tele. Saya masih mau pergi ke bandara” kata Hye-mi mendesak. “Mau pergi kah?” tanya Kae-in. “Kamu mau saya bagaiman menerima oppa Jin-ho menikah dengan wanita lain? Saya kenapa bisa datang ke Korea? Orang tua dan teman pun saya tak ada disini, hanya demi oppa Jin-ho seorang baru datang kesini”. “Maaf. Tidak sangka bisa separah ini”. "Maaf? Saya benar tidak tahu kenapa saya bisa dikalahkan orang seperti kamu? Saya benar-benar mau gila. Di dunia ini tidak ada orang lain yang disa mencintai oppa Jin-ho melebihi saya” .”Saya tak ada keyakinan diri mengatakan saya bisa lebih mencintai oppa Jin-ho melebihi kamu”. “Lihatlah!”. “Tapi saya mengira Jin-ho gay waktu itu, sehingga demi menyembunyikan itu melamar saya. Bagi saya jika Jin-ho ingin walaupun dia gay saya tetap akan bersedia menikah dengannya” kata Kae-in. Hye-mi kaget mendengarnya. “Ini lah saya, saya benar-benar ingin bersama dengan Jin-ho” kata Kae-in lagi. “Apa?” kata Hye-mi merasa kalah dan pergi dari sana.

Saat akan pulang tak sengaja Hye-mi berpapasan dengan In-hae. In-hae mengenali Hye-mi dan mengajaknya bicara di suatu tempat. (Ini nih adegan paling di tunggu penggemar oppa KNG). In-hae dan Hye-mi pergi ke sebuah restoran (yang disana ada seorang pria duduk sendiri sedang minum kopi sambil baca novel siapa lagi kalo bukan oppa KNG.. adegannya bisa dilihat di sini ). Hye-mi tanya apa In-hae ada rasa suka juga pada oppa Jin-ho-nya. In-hae tak menjawab. Hye-mi menyuruh In-hae melepaskan saja rasa suka itu karena sudah berakhir semua. Hye-mi lalu cerita tentang perkataan Kae-in tadi. In-hae berkata sebenarnya ia curiga Jin-ho pura-pura jadi gay untuk apa. Hye-mi berkata tidak tahu. In-hae memanasi dengan berkata mungkin itu cuma siasat Kae-in untuk mendapatkan Jin-ho. Hye-mi kaget dan heran mendengarnya. Ia kemudian tanya apa In-hae kenal Kae-in. In-hae bercerita kalau mereka adalah teman selama 10 tahun. In-hae kemudian tanya apa Hye-mi kenal dengan Han Chang-ryul. Hye-mi berfikir sebentar kemudain berkata “Anak orang yang mencelakakan ayah oppa Jin-ho meninggal. Kamu bagaimana tahu dia?”. “Dia adalah orang yang mau jadi suami saya”. “Benarkah?”. “Tapi saat hari pernikahan tiba, semuanya jadi sia-sia” . “Kenapa?”. “Kae-in, dia adalah dulunya teman wanita Chang-ryul. Jadi kami berdua sampai akhir tetap saja berpisah”. Hye-mi kaget mendengarnya (mau diputar balikaan nih ceritanya.. dasar wanita jelak...). “Tapi setelah saya berpisah dengan Chang-ryul, tak lama kemudian dua orang ini bersama lagi”. “Kalu begitu Park Kae-in selingkuh kah?” kata Hye-mi kaget.

Saat Kae-in yang baru saja pulang, ia kaget melihat ayah Chang-ryul ada di depan Sang Go-jae sambil membawa banyak hadiah. Ayah Chang-ryul minta maaf atas tidakan anaknya. Kae-in jadi tidak enak. Ayah Chang-ryul menyuruh sopirnya membawa hadiah itu masuk kedalam Sang Go-jae. Tapi Kae-in mencoba menghalanginya dan berkata kalau ia dan Chang-ryul sebenarnya sudah berpisah dan selama ini mereka tak pernah benar-benar kembali berpacaran. Ayah Chang-ryul malah tertawa dan berkata ia mengerti kalau hubungan antara pria dan wanita pasti ada waktu yang tidak baik. Ia terus-terusan minta maaf atas nama anaknya dan menyuruh sopirnya membawa masuk hadiah tadi. Tapi tiba-tiba ia melihat ibu Jin-ho datang dengan Hye-mi. Ibu Jn-ho yang baru datang pun kaget meliaht ayah Chang-ryul ada disana. “Ibu” kata Kae-in kaget melihat ibu Jin-ho. Ayah Chang-ryul kaget mendengarnya. Kae-in menghampiri ibu Jin-ho dengan cemas. Ayah Chang-ryul bertanya kenapa ibu Jin-ho bisa datang kesana. Ibu Jin-ho hanya diam saja menahan kesal. “Saya tak menyangka kamu kenal orang ini yang mau menjadi menantu kami” kata ayah Chang-ryul lagi. “Menantu? Kalau begitu” kata Hye-mi. “Ibu” kata Kae-in mau menjelaskan. “Ibu, kamu memanggilnya ibu?” kata ayah Chang-ryul kaget. “Ibu, saya akan jelaskan pada anda” kata Kae-in. “Jangan panggil saya ibu” kata ibu Jin-ho marah. “Ibu”. Ibu Jin-ho dan Hye-mi kemudian pergi. Kae-in mencoba mengejar tapi tak berhasil.


Jin-ho kembali kerumah saat mendengar masalah itu. Hye-mi langsung bertanya kenapa Jin-ho bisa memilih wanita seperti itu dan berata kalau Kae-in masih menerima ayah Chang-ryul yang datang membawa banyak hadiah untuk Kae-in. “Kamu diam” kata Jin-ho. Ia kemudian menghampiri ibunya untuk menenangkan serta menjelaskan keadaan sesungguhnya. “Ibu, saya akan beritahu semuanya”. “Sebelum saya mati, dia pasti tidak akan berhenti. Jika kamu ingin melihat saya mati kamu lakukan hal begitu saja” kata ibu Jin-ho tak menyetujui hubungan Jin-ho dan Kae-in.

Sementara itu ayah Chang-ryul memarahi Chang-ryul, ia minta penjelasan kenapa putri Prof. Park bisa memanggil ibu Jin-ho dengan panggilan ibu mertua. Chang-ryul kaget sekaligus heran ayahnya bagaiman tahu hal itu.

Kae-in menunggu Jin-ho pulang dengan cemas. Ia berjalan mondar-mandir di teras dan saat Jin-ho pulang. Ia langsung tanya bagaimana keadaan ibu Jin-ho. Jin-ho malah tanya balik. Ia tanya kenapa ayah Chang-ryul datang membawa hadiah untuk Kae-in. Kae-in berkata kalau ia juga tidak tahu dan tak tahu harus melakukan apa dalam keadaan seperti tadi. Jin-ho curiga Kae-in mau berhubungan kembali dengan keluarga Chang-ryul. Kae-in menyakal dan berkata kalau Jin-ho sudah tahu maksudnya selama ini bersikap baik pada Chang-ryul. Jin-ho tetap memarahi Kae-in dan berkata seharunya Kae-in tidak balas dendam sejak awal. Kae-in mulai kesal dan balik bertanya kenapa Jin-ho tak mengatakan hal sebenarnya kalau ia bukan gay sejak awal. Mereka jadi bertengkar. Jin-ho kemudian pergi. Kae-in bingung harus melakukan apa.


Jin-ho sambil berlutut menjelaskan segalanya pada ibunya. Ibu Jin-ho tetap tak setuju Jin-ho berhungan dengan Kae-in karena dia dulu berhungan dnegan Chang-ryul. “Tapi saya duluan yang menyukai dia?” kata Jin-ho. Ibu Jin-ho kaget mendengarnya. “Jika dalam hati wanita masih ada sediit bayangan Chang-ryul, saya juga tidak akan melakukan begitu. Saya adalah anak ibu. Apa ibu ta bisa mengerti saya kah?”. ‘Saya tidak suka dia. Ta peduli dia bagaiman. Asalkan orang itu ada hubungannya dengan Han Chang-ryul. say tak beniat menerimanya menjadai menantu” kata Ibu Jin-ho kesal. “Ibu.. saya harus ada dia. Jia tida saya tak akan menikah” ancam Jin-ho. Ibu Jin-ho aget mendengarnya.


Young-soon sedang menenangkan Kae-in yang sedih karena masalah tadi. Ia berkata “Diantara pasangan kekasih bertengkar hanyalah seperti air pasang surut saja. Asal diantara kalian tidak mengambil hati. Tidak akan ada masalah”. “Waktu Jin-ho keluar, dia benar-benar sangat marah. Saya tak berani bertemu dengan dia lagi” kata Kae-in sedih. “Saya telepon Sang-joon dulu”. Kae-in kaget mendengarnya. “Saya sebenarnya sudah putuskan untuk tak menghubungi orang itu lagi tapi demi kamu, saya akan telepon dia”. “Kalau begitu Jin-ho sekarang lagi lakukan apa?”. “Asalkan tidak ada di kantor”. Tiba-tiba Young-soon dapat ide bahwa Kae-in harus ikut ke pulau Jeju menyusul Jin-ho. Kae-in bisa baik-baik menghibur Jin-ho di sana. Young-soon menyarankan agar Kae-in hamil dulu, pasti ibu Jin-ho akan menyutujui mereka (ups.. jangan ditiru ya.... gak baik n haram hukumnya).

Akhirnya Kae-in dan Young-soon pergi ke pulau Jeju. Di dalam pesawat sebenarnya Kae-in masih ragu. Tapi Young-soon menguatkan Kae-in agar yakin bahwa tindakannya benar dan Jin-ho pasti teharu jika melihatnya menyusul.


Saat di pulau Jeju Kae-in harus menunggu Young-soon di lobby hotel sebelum pergi. Young-soon beralasan tiba-tiba suaminya telepon jadi ia akan turun terlambat. Kemudian Young-soon menelepon Sang-joon dan memberitahu bahwa Kae-in ada di lobby hotel saat itu. Sang-joon berkata kalau Jin-ho juga sudah ada disana. Dan benar saja Jin-ho kaget melihat Kae-in sedang menunggu seseorang di lobby. Jin-ho senang sekali melihat Kae-in di sana dan merasa ialah yang sedang di tunggu Kae-in, ia lalu menghampiri Kae-in. “Nona Kae-in, kamu apakah begitu menyukai saya” kata Jin-ho tiba-tiba. Kae-in kaget mendengarnya, sekaligus kesal. Ia lalu pura-pura dingin dan berkata kalau ia ada kerjaan juga disana. Jin-ho tak percaya. “Saya tidak beralasan” kata Kae-in. “Kita keluar saja” kata Jin-ho sambil menggandeng tangan Kae-in pergi.


Jin-ho dan Kae-in pergi ke tepi pantai. “Bagaimana keadaan ibumu? Mungkin tidak akan mudah menurunkan amarahnya iya kan?”. “Asalkan kamu percayakan pada saya saja”. “Kamu mau melakukan bagaimana?”. “Keculi dia benar sanggup membunuh anaknya sendiri! Jika tidak ada Kae-in saya akan mati, saya bilang begitu”. “Jin-ho” kata Kae-in tak enak. “Jangan terlalu terharu saya katakan begitu” kata Jin-ho sambil senyum-senyum. “Apakah kamu benar mengira saya akan mati demi kamu?”. “Jangan bercanda, saya khawatir sekali memikirkannya” kata Kae-in kesal. Jin-ho lalu memeluk Kae-in dari belakang dan berkata “Saya tidak bercanda. Saya tidak akan berpisah dengan kamu, jadi jangan khawatir”. Kae-in dan Jin-ho akhirnya bisa senyum bersama lagi sekarang.



“Kita mau tidak pura-pura bertengkar?” ajak Jin-ho saat mereka kembali ke hotel. “Apa?” kata Kae-in kaget. “Mempermainkan Young-soon dan Sang-joon bukankah sangat menyenangkan”. “Kamu ini benar-benar jahat”. Tiba-tiba mereka berpapasan dengan Do-bin. Jin-ho langsung memberi hormat. “Acara di Jepang lebih cepat berakhir, jadi saya lebih awal kesini” kata Do-bin. Ia lalu mengajak mereka malan malam bersama. Kae-in jadi tidak enak pada Do-bin keran Do-bin memintanya untuk mendekatkan dia dengan Jin-ho. Jin-ho berkata kalau ia ingin mengatakan sesuatu pada Do-bin. Do-bin kaget dan bertanya apa ingin diucapkan sekarang. “Ya” kata Jin-ho. “Baiklah, ayo” kata Do-bin senang. “Ini adalah bagian yang mau saya selesaikan. Pergi langsung datang” kata Jin-ho pada Kae-in sebelum pergi.


Kae-in masuk hotel dan berpapasan dengan Chang-ryul. Chang-ryul kaget melihat Kae-in ada disana. Kae-in kemudian menghampiri Chang-ryul dan berkata kalau ia ingin berbincang sebentar dengannya di luar. Di sisi lain In-hae melihat kejadian itu, tiba-tiba ia merasa dapat ide.
Jin-ho bicara dengan Doo-bin di suatu tempat. Jin-ho berkata kalau ia sangat berterima kasih pada Do-bin. Do-bin berkata agar Jin-ho tak menjadikannya beban, ia hanya ingin Jin-ho menganggapnya seperti ia sedang menaruh saham pada diri Jin-ho saja. Sehingga lain kali Jin-ho bisa tidak pura-pura tidak mengenalnya. Jin-ho jadi tak enak mendengarnya. Do-bin yang melihat air muka Jin-ho kemudian tanya sebenarnya apa yang ingin Jin-ho katakan padanya. Tapi tiba-tiba Do-bin mengalihan pembicaraan dan berkata kalau ia telah menemukan lukisan dan ingin memberiannya pada Jin-ho. Jin-ho dengan sopan menolaknya. Do-bin berkata sebenarnya ia tahu pemberiannya akan di tolak, tapi ia tetap merasa kecewa karena penolakannya itu. Do-bin lalu berkata sebenarnya ia tak tahu Jin-ho mau bicara apa, tapi dari air muka Jin-ho ia bisa tahu dan ia bilang ia belum siap mendengarnya saat itu. Sebelum pergi ia minta Jin-ho membicarakan hal itu lain kali saja. “Ketua Choi” kata Jin-ho tiba-tiba.

Di tempat lain Kae-in memperingatkan Chang-ryul agar berkata pada ayahnya untuk tidak menemuinya lagi. “Ya, saya bisa” kata Chang-ryul. “Selama ini saya telah begitu dalam melukaimu. Lain hari saya tidak ingin begitu lagi” lanjut Chang-ryul. Kae-in jadi tidak enak, ia minta maaf karena telah berniat balas dendam padanya. Chang-ryul tersenyum dan berkata “Kamu juga tidak bisa baik-baik balas dendam kan? Buat apa menyalahkan diri?”. Kae-in kemudian pamit masuk ke hotel kembali. “Kamu bahagia kan?” tanya Chang-ryul tiba-tiba. Kae-in berbalik. “Saya tanya kamu dan Jin-ho bahagia kan?” kata Chang-ryul lagi. Kae-in mengangguk. “Kalau begitu saya sudah bisa melepaskanmu” kata Chang-ryul kemudian mau pergi juga. Tiba-tiba Chang-ryul melihat sebuah truk melaju kencang kearah Kae-in. Ia berlari menyelematkan Kae-in.


“Maaf” kata Jin-ho pada Do-bin. “Maaf apa?”. “Saya mencintai Park Kae-in” kata Jin-ho langsung. Do-bin kaget mendengarnya. Chang-ryul berhasil menyelamatkan Kae-in tapi ia malah yang tergeletak tak sadarkan diri. Kae-in jadi khawatir melihatnya (menurutku In-hae yang mengendarai truk itu deh.. ).