Selasa, 25 Mei 2010

Memories Of Bali episode 19

Jae-min cemburu melihat Soo-jung pergi berdua dengan In-wook sehingga ia berfikir yang bukan-bukan tentang mereka. Jae-min tak tahan akhirnya pergi mencari mereka. Young-joo heran Jae-min malam-malam pergi keluar tapi ia seperti tahu tempat tujuan Jae-min. Ia menjadi kesal. Jae-min ngebut menuju rumah Soo-jung.


Soo-jung dan In-wook masih ngobrol di warung soju. “Kenapa dulu kau pergi ke Pulau Bali?”. “Karena kakakku”. “Kakakmu?”. “Waktu itu kakakku melakukan kesalahan. Karena ingin mengumpulkan biaya damai. Bahkan kami pun tak bisa menyewa rumah lagi. Meski itu cuma sebuah kamar kecil di ruang bawah tanah. Itu juga bersusah payah kami mengumpumpulkan uang baru bisa menyewa. Setelah mengambil uang jaminan rumah itu. Kami melunasi biaya damai. Sisa 1 juta saja. Aku ingat saat itu cuaca sangat dingin. Tak ada tempat yang bisa kami tuju. Cuma tinggal di sebuah hotel kecil. Saat kami sedang risau bagaimana menjalani hidup kelak. Kami pun membaca berita Pulau Bali di koran. Di atas tertulis (Surga terakhir di dunia).
Melihat wanita yang minum jus di bawah pohon kelapa. Dengan ekspresi yang bahagia. Aku benar-benar iri pada mereka. Daripada terus begini, meski harus mati. Untuk saat-saat terakhir melihat seperti apa surga itu. Waktu itu dengan membawa tujuan seperti ini, aku pergi ke sana”. “Sungguh berani” kata In-wook. Soo-jung tertawa mendengarnya. “Tapi...Surga..Harus ada uang baru disebut surga. Kau masih ingat tempatku tinggal disana bukan?”. “Ya”. “Tapi... jika kelak masih ada kesempatan aku mau ke sana lagi. Ingin sekali melihat matahari sore di sana. Juga ingin melihat teman-teman di sana” Soo-jung tertawa setelah berkata itu karena itu tidak mungkin. “Mau... pergi bersama?”. Soo-jung kaget. “Aku ingin berhenti bekerja. Bagaiman menurutmu?”. “Kenapa mau berhenti?”. “Karena tak ingin..melihat Jung Jae-min lagi”. Soo-jung menangis sedih mendengarnya “Maaf. Benar-benar maaf. Aku.. aku benar-benar tak bisa memaafkan perbuatanku. Jadi.. meski aku mati...aku pun tak bisa menikah denganmu”. In-wook sepertinya mengerti maksud Soo-jung.

In-wook menggendong Soo-jung pulang karena ia terlalu mabuk. Jae-min mengendari mobil terburu-buru ke rumah Soo-jung. In-wook melihat mobil Jae-min. Jae-min berjalan terburu-buru ia memanggil-manggil nama Soo-jung begitu sampai di depan rumah Soo-jung. Jae-min menggedor-gedor dan berteriak minta di bukakan. Tetangga baru Soo-jung terbangun dan keluar melihat Jae-min. “Sepertinya tetanggaku belum pulang. Mohon jangan berisik”. Jae-min menoleh, tetangga baru itu masuk kerumahnya kembali. Jae-min putus asa, ia berjalan lunglai pergi dari sana. In-wook dan Soo-jung tiba disana. In-wook melihat Jae-min dan mengacuhkannya. Jae-min termangu melihat mereka. In-wook membawa Soo-jung masuk kedalam rumah.


In-wook menidurkan Soo-jung. Ia melihat Soo-jung yang tertidur dan menghapus air mata yang masih ada di pipi Soo-jung. Ia lalu melihat keluar dan pergi menemui Jae-min. Jae-min sudah menunggu. “Sebenarnya kau mau apa?”. “Aku pernah bilang Lee Soo-jung adalah wanitaku” kata Jae-min kesal. “Kau sudah menikah, seharusnya kembali kepada keluargamu”. Jae-min tertawa “Jika tidak, apakah kau mau menikah dengan dia atau apa?”. “Betul”. “Betul?”. “Jadi... mulai sekarang kau tak boleh mengganggu Soo-jung lagi!”. Jae-min tak terima “Masa kau tak tahu? Soo-jung adalah wanita yang pernah kumain. Masa kau tak merasa malu?” kata jae-min kesal. “Jung Jae-min, apa hari ini kau mau mati di tanganku?” kata In-wook sambil mendekat menarik baju Jae-min. “Turun tangan saja!”. “Kau kira memakai cinta sebagai alasan. Lalu semua bisa dimaafkan? Kau tak tahu bertanggung jawab dan tidak tahu berkorban. Sebenarnya siapa yang mencintai siapa?”. “Kalau kau tak paham. Jangan bicara sembarangan!” teriak Jae-min(Jae-min berkorban menikah dengan Young-joo agar Soo-jung tidak di celakai ayahnya). “Dipukul berapa kali oleh ayahmu, apa yang hebat? Kaulah yang malu!” kata In-wook sambil mendorong Jae-min. Jae-min bangkit “Kang In-wook, tak peduli apa yang kaukatakan. Lee Soo-jung adalah wanitaku! Kau lihat saja!” kata Jae-min sebelum pergi. In-wook terdiam memikirkan perkataan Jae-min.


Pagi harinya Soo-jung sedang sarapan saat Mixi kembali dari tempat pemandian umum. Mixi bercerita bahwa pria gendut yang dulu mengajaknya nonton dan ia berkata bahwa pria gendut itu malah tertaarik padanya karena pada kencan buta dulu ia melihat kecantikan dalam diri Mixi. Soo-jung tertawa mendengarnya. Mixi lalu heran pada Soo-jung, ia bertanya Soo-jung punya keberuntungan dari mana karena setiap ia mabuk ada pria yang menggendongnya pulang. Soo-jung kaget. Mixi terus mengoceh. Ia berkata ia malu setiap kali melihat Soo-jung digendong pria karena mabuk. “Apalagi pria yang sudah beristri pun berkelahi di depan rumah. Sebenarnya kenapa?” tanya Mixi kesal. Soo-jung kaget karena ia benar tidak tahu apa-apa kejadian tadi malam. “Kang In-wook pria tulen. Dia juga seorang pria jujur. Jika tidak, siapa yang tahan? Soo-jung, kau harus memperhatikan ucapan dan tindak tandukmu. Wanita sepertimu jangan membuat pria yang masih menyukaimu dan... menggendongmu pulang terluka. Dengar tidak?”. “Apa maksudmu?”. “Kalau mau tahu apa maksud perkataanku ini. Telepon dan tanya Kang in-wook saja” tariak Mixi kesal dan pergi setelahnya. Soo-jung berusaha memahami cerita Mixi tadi.

In-wook berada satu lift dengan Jae-min. Tiba-tiba hp In-wook bunyi. In-wook menjawabnya di tengah keramaian dalam lift. Telepon itu dari Soo-jung, In-wook menerimanya dengan ceria. “Halo. Apa kau tidur nyenyak?” Jae-min melihat In-wook ia tahu Soo-jung yang sedang menelepon. “Aku baik-baik saja. Tak apa. Baik, nanti ku telepon”. Jae-min terus memperhatikan In-wook dengan muka kesal. In-wook cuek dengan sekitarnya.


Jae-min pusing harus melakukan apa pada In-wook. Asisten Jae-min datang memberitahu jadwal Jae-min hari itu. Ia berkata Jae-min jam 10 ada rapat stategi perusahaan yang akan membahas dana pemilu yang bermasalah karena belum dapat dana pinjaman. Ia memperingatkan Jae-min agar mempelajari data-data dulu sebelum rapat dan menyerahkan data-data yang ia maksud. Asisten Jae-min juga berkata bahwa Jae-min ada janji makan siang dengan keluarga Young-joo. Young-joo berpesan agar Jae-min tidak terlambat”. Ia berkata lagi bahwa Jae-min ada rapat dengan perusahaan periklanan jam 2 sore nanti. “Sudah!” kata Jae-min. Asistennya bingung. “Suruh bagian keuangan bawa data-data penyelidikan akuntan terhadap..bisnis sirkulasi kemari”. Asisten Jae-min tambah heran bukannya mempelajari data-data yang ia bawa tapi malah menyuruh membawa data lain, tapi ia tak bisa membantah.

Saat makan siang ibu Young-joo minta maaf karena ayah Young-joo tiba-tiba membatalkan perjanjian bertemu dengan menantunya. Jae-min tak tertarik dengan makan siang dan omongan itu. Ibu Jae-min yang akhirnya ikut makan bersama mereka berkata bahwa ia tentu memakluminya karena seluruh dunia juga tahu kalau ayah young-joo itu sangat sibuk. Ibu Young-joo berkata bahwa ayah young-joo berpesan agar ia mentraktir Jae-min hidangan yang paling enak dan menyuruh Jae-min makan banyak. “Baik” kata Jae-min. “Young-joo kalian masih belum melahirkan anak?” kata ibu Jae-min. Young-joo hanya menunduk. Jae-min melirik Young-joo. (bagaimana punya anak wong gak boleh sentuh tubuh Jae-min kok). “Baru menikah, siapa mau secepat ini melahirkan anak?” bela ibu Young-joo. “Tapi sepertinya pak direktur sangat berharap menggendong cucu”. “Oh ya, cucumu sekarang tinggal bersama ibunya. Sehingga tak bisa sering meihat dia bukan?” (anak kakak Jae-min). Ibu jae-min jadi malu. “Kau pasti sangat rindu padanya bukan?”. “Coba kita pikir. Anak Jae-min dan Young-joo pasti sangat cantik. Aku sangat berharap ada seorang anak yang lahir” . “Maaf sekali. Masih ada masalah di perusahaan yang belum diselesaikan. Aku mau pergi dulu” kata Jae-min sebelum pergi. Young-joo hanya menunduk. “Jae-min” panggil ibunya. Tapi Jae-min tak peduli dan tetap pergi dari sana. Ibu Young-joo menatap Ibu Jae-min heran. Ibu jae-min jadi tidak enak.

Jae-min main biliard ditempat Soo-jung. Soo-jung tetap acuh pada Jae-min. Jae-min melampiaskan kekesalannya dengan fokus main biliard. Jae-min senang pukulannya kena terus. Tapi Soo-jung tak peduli. Soo-jung sedang memesan seporsi mi kecap. Tiba-tiba Jae-min berkata “Nona, aku minta 1 porsi”. Meski kesal Soo-jung menambah pesanannya lagi. Jae-min dan Soo-jung makan di meja yang berbeda. “Nona, tisu” pinta Jae-min. Soo-jung kesal tapi tetap harus melayani tamu (Jae-min). Ia mengambil tisu dan menaruhnya kasar di meja Jae-min. Soo-jung langsung pergi, Jae-min tak tahan ia menarik tangan Soo-jung. “Sebenarnya apa maumu?” kata Jae-min. Soo-jung mencoba melepaskan tangan Jae-min tapi tak bisa. “Permintaanmu terhadapku adalah pernikahan bukan? Jika ya, kau boleh beritahu aku dulu”. Soo-jung tertawa mendengarnya. “Jangan menikah dengan Kang in-wook! Tak boleh! Aku tidak terima!” lanjut Jae-min. “Lap mulutmu dulu!” kata Soo-jung melepaskan tangan Jae-min dan pergi kemejanya. Jae-min melap mulutnya kemudian pergi membayar di meja Soo-jung. “Semuanya berapa?”. “Main biliard 2000 won, mie kecap 1200 won, jumlahnya 3200 won”. Jae-min mengambil uang di deompetnya. “Bayar 3000 won saja. Jae-min meletakkan uang 20.000 won. “Mi kecapmu aku yang bayar saja. Sampai jumpa” Soo-jung tertawa melihat sikap Jaae-min.





Kakak Soo-jung datang kerumah Soo-jung dengan Young Ye-tai. Ye-tai takut ketemu Soo-jung tapi kakak Soo-jung memaksa dan berkata bahwa Soo-jung akan memaafkannya. Ye-tai setuju mereka mengetuk pintu rumah Soo-jung tapi Soo-jung belum pulang. Mereka akhirnya menunggu Soo-jung didepan rumahnya. Ye-tai bertanya apakah itu rumah Soo-jung. Kakak Soo-jung berkata bukan, itu adalah rumah temannya. Ye-tai merasa prihatin Soo-jung harus tinggal di rumah temannya yang kecil itu. Kakak Soo-jung berkata semua gara-gara Ye-tai yang mengambil uang Soo-jung hingga ia tak bisa sewa rumah sendiri. Ye-tai merasa bersalah dan mau pergi dari sana. Kakak Soo-jung mencegah. Ia berkata tahu sifat adiknya dengan baik sehingga Ye-tai tak perlu kawatir dan ia juga menyarankan agar Ye-tai menunjukan peta harta karun itu pada Soo-jung. Ye-tai ragu karena ia tahu Soo-jung pasti tahu ini cuma akal-akalannya saja. Kakak Soo-jung memaksa lagi akhirnya Ye-tai setuju tapi ia tidak ingin menunggu di sana karena cuaca sangat dingin. Kakak Soo-jung memohon lagi sambil memeluk Ye-tai. Tetangga Soo-jung keluar dan meihat mereka berpelukan. Tetangga Soo-jung bertanya mereka siapa. Kakak Soo-jung berkata kalau ia dalah kakak tetangganya. Tetangga Soo-jung menganggap ia pasti kakak Mixi mengingat kelaukannya tadi. Tapi Kakak Soo-jung bilang bukan dan berkata bahwa ia adalah kakak Lee Soo-jung. Sikap tetangga Soo-jung langsung berubah menjadi ramah. Ia lalu pergi dari sana.

Soo-jung akhirnya datang. Ia senang kakaknya datang tapi ia juga heran dengan teman kakaknya yang bersembunyi dibalik tubuh kakak Soo-jung. Kakak Soo-jung suruh Soo-jung menebak siapa yang ia bawa. Soo-jung berusaha melihat dan berteriak “Young Ye-tai. Kau... kau pasti mati!” kata Soo-jung kesal. Ye-tai berusaha lari tapi Soo-jung terus mengejarnya dan memukulinya. Kakak Soo-jung berusaha menengahi. Saat suasana sudah tenang kakak Soo-jung dan Ye-tai akhirnya berhasil masuk rumah Soo-jung dan makan malam di sana dengan lahap. Sementar mixi dan Soo-jung duduk dengan kesal. Mixi berkata bahwa Soo-jung sering mengigau kalau bertemu dengan Ye-tai ia tak kan di ampuni. Mixi sangat kesal karena Ye-tai mengambil seluruh uang hasil kerja keras Soo-jung. “Itu karena.. aku mau mendapatkan lebih banyak uang untuk Nona Lee kami yang...bekerja susah payah”. “Semua sudah berlalu. Lupakan saja!” kata Soo-jung dingin. “Nona Lee, benar-benar maaf. Waktu itu aku benar-benar cuma ingin mendapatkan lebih banyak uang untukmu” kata Ye-tai sambil menangis. “Asal kura-kura itu bisa lewat. Aku bisa memakai uang itu sebagai modal. Bisa memulai usaha berlian. Menjalani bisnis pencarian harta karun pada kapal-kapal tenggelam. Dan pembangkit tenaga listrik dengan tenaga air di Cina” kata Ye-tai lagi sambil menangis. Semua orang di sana merasa tidak enak dan tidak percaya akan air mata Ye-tai, Soo-jung bersikap tak peduli pada Ye-tai. “Akhirnya aku berubah menjadi... seorang gelandangan. Istriku... anakku...”. Soo-jung jadi tak enak. “Tapi kau membuntuku cari kerja dan masak nasi untukku. Kau benar-benar baik padaku”. “Kalau sudah makan, cepat pergi!” Kata Soo-jung dingin. Ye-tai tambah menangis keras diperlakukan seperti itu. Soo-jung tak tahan ia akhirnya pergi keluar.

Di luar Soo-jung teringat perkataan Jae-min padanya waktu di tempat biliard. “Apa permintaanmu terhadapku adalah pernikahan? Kalau ya. Kau boleh katakan padaku dulu. Jangan menikah dengan Kang In-wook. tak boleh! Aku tidak terima!” kata Jae-min saat itu. Soo-jung jadi tertawa kecut mengingatnya.


Jae-min sudah di rumah saat Young-joo baru pulang dalam keadaan mabuk. “Kapan pulang?” kata Young-joo. Jae-min tak peduli dan malah menonton tv. “Jung Jae-min, apa kau tidak dengar?”. Jae-min menoleh kearah Young-joo. “Bukankah aku sudah bilang jangan meremehkanku? Kau sudah lupa bukan?”. Jae-min hanya diam dan kembali menonton tv. Young-joo kesal ia mengambil remot tv dan mematikannya. Jae-min mencoba mengambilnya kembali tapi Young-joo menjauhkannya. Jae-min kesal ia akhirnya bertindak kasar dan merebut remote itu dan menghidupkan tv kembali. “Aku takkan menyentuhmu. Jadi kau juga jangan menyentuhku” kata Jae-min. Young-joo tertawa “Jangan menyentuhmu? Siapa mau menyentuh orang yang suka main sepertimu?”. Jae-min tersenyum. “Tahu kenapa aku suka Kang In-wook?”. mendengar nama In-wook, Jae-min jadi kesal. “Dia punya semacam tekad. Sesuatu yang takkan ditemukan pada dirimu. Aku hidup hingga kini, tak pernah melihat pria setampan dan secerdas dia”. Jae-min tertawa menahan kesal. “Cukup!”. “Tapi kau tahu kenapa aku menikah denganmu? Karena aku seperti kau sangat vulgar. Kau kira begini bukan? Maaf sekali, sama sekali bukan! Pria seperti dia, malah menolakku”. Young-joo jadi sedih. “Dia mencintai wanita murahan yang bernama Lee Soo-jung itu. Karena itulah aku marah lalu menikah denganmu. Meski aku sudah menyesal. Tapi bisa apa? Inilah yang telah kita pilih. Betul tidak?”. Jae-min tidak menjawab dan malah pergi dari sana. Young-joo mencegah dan menarik baju Jae-min. “Kau mau kemana? Kemana? Kau mau ke tempat Lee Soo-jung bukan?” teriak Young-joo sedih. Jae-min kesal, ia menodrong Young-joo hinga jatuh ke sofa dan pergi dari sana. Young-joo menangis histeris karena Jae-min juga mencampakannya demi Lee Soo-jung.



In-wook meminta temannya mengirimkan data tentang sebuah hotel di Bali. “Aku suka. Tapi apa harganya tidak terlalu tinggi? Jangan terlalu mempercayai apa kata agen. Baik. Terima kasih. Sampai jumpa. Lain kali aku traktir minum. Oke? Bagus..Bye..” kata In-wook ditelpon dengan teman luar negerinya. In-wook tersenyum kemudian menempelkan sebuah gambar hotel di meja kerjanya (tiru2 mau beli hotel buat Soo-jung ceritanya). In-wook lalu dengan perasaan senang menelpon Soo-jung. “Sedang apa?”. “Tidur” kata Soo-jung pelan takut membangunkan Mixi. “Apa aku membangunkanmu?”. “Tidak, tak apa. Kau ada urusan apa?”. “Tidak”. “Cuma ingin dengar suaramu”. Soo-jung tersenyum di sebrang. “Aku rindu saat tinggal di sebelahmu. Aku rasa sebaiknya aku pindah ke sana lagi”. Soo-jung bingung. “Baiklah, sekarang aku ke sana. Tunggu aku!”. “Halo” kata Soo-jung berusaha mencegah tapi telepon sudah putus. Soo-jung kaget dan senang mendengarnya.


Jae-min pergi minum di bar sendirian. Ia teringat perkataan Young-joo padanya tadi. Tentang kenapa ia suka dengan In-wook. Jae-min tertawa tak percaya saat ia ingat perkataan Young-joo bahwa ia ditolak In-wook, karena In-wook jatuh cinta pada Soo-jung. Jae-min jadi kesal setelahnya dan bahkan mengamuk di bar itu. Para pelayan mencoba menenangkan Jae-min tapi Jae-min terus memberontak.



In-wook pergi kerumah Soo-jung dengan taxi. Soo-jung sudah menunggu lama cemas di luar. Tapi ketika In-wook datang ia berlagak biasa saja. “Dingin sekali. Kenapa keluar?”. “Sudah malam, kenapa kemari?” kata Soo-jung berlagak bersikap dingin. “Ya. Dalam perjalanan kemari aku sudah menyesal” kata In-wook bercanda. Soo-jung tertawa tak pecaya. “Tapi aku takut kau tunggu, aku tak boleh tak datang”. Soo-jung kaget. “Siapa menunggumu?”. In-wook tersenyum. “Bukankah kau sedang tunggu?”. “Karena kau bilang mau datang”. “Baiklah, aku pergi”. “Tunggu!” cegah Soo-jung tak rela. “Mana ada orang baru datang langsung pulang?”. In-wook tersenyum dan berkata “Aku datang cuma ingin melihatmu. Sekarang aku sudah lihat”. In-wook berjalan pergi. Soo-jung berteriak “Kalau begitu.. “. In-wook berbalik senang. “Bagaiman? Ada yang ingin kau katakan padaku?”. Melihat In-wook senang Soo-jung jaga gengsi dan berkata “Kalau begitu hati-hati di jalan”. “Ya” kata in-wook sedikit kecewa. “Selamat malam”. In-wook berbalik berjalan pergi tapi ia kemudian kembali lagi dan mencium Soo-jung yang berdiri melihat In-wook pergi. Soo-jung tertunduk malu mendapat ciuman itu. “Aku benar-benar mau pergi!” kata In-wook sambil tersipu-sipu. In-wook benar-benar pergi. Soo-jung tak percaya In-wook menciumnya. Jae-min duduk lunglai di tangga jalan dekat rumah Soo-jung. (Ia melihat kejadian tadi). Ia kaget dan tak percaya apa yang ia lihat. In-wook berbalik melihat rumah Soo-jung dan sadar apa yang ia lakukan sehingga jadi malu kemudian pergi. Jae-min masih duduk di tanga jalan. Soo-jung masih berdiri ditempatnya masih kaget dapat ciuman. Soo-jung masuk rumah. Jae-min jadi sedih dan menangis karena kejadian tadi. Agar tak bersuara ia nutup mulutnya.





Soo-jung masuk kedalam rumah dengan perasaan bahagia, tapi kemudian ia teringat sesuatu dan perasaannya jadi berubah sedih. Jae-min pulang kerumah dalam keadaan lunglai. Ia melihat kekamar dan Young-joo sedang tidur sendirian disana. Young-joo terbangun dan melihat Jae-min berdiri di depan pintu tapi ia tidak peduli dan melanjutkan tidurnya. Jae-min melihat Young-joo dengan tatapan kesal karena perkataannya tentang In-wook benar.


Pagi harinya. Kakak Jae-min heran ada masalah apa hingga ayah Jae-min memukuli Jae-min dulu. Asisten Jae-min yang ada disana (habis laporan kejadian itu sepertinya) berkata ia dengar sedikit pembicaraannya dan sepertinya tentang masalah wanita. “Langsung menarik kaki celana beliau sambil menangis dan berteriak.” kata asisten Jae-min menggambarkan kejadian saat itu. Tapi kakak Jae-min masih belum puas dengan penjelasan itu. “Pak Jung (Jae-min) berubah jadi aneh. Sebelum aku mengatakan, intern perusahaan sudah tersebar” kakak Jae-min tersenyum senang mendengarnya. “Bagaimana dengan Kang In-wook?”. “Berdasarkan apa yang dikatakan kakak Lee Soo-jung. Dia sering pergi ke biliard tempat di mana Lee Soo-jung bekerja”. “Mungkin aku bisa langsung menyerang mereka sekaigus”. Asisten Jae-min bingung apa maksudnya. “Data penyelidikan akuntan?” kata kakak Jae-min tertawa kemudian.

Asisten Jae-min mengantar beberapa orang kekantor Jae-min. Semua orang heran melihatnya termasuk In-wook. (sepertinya para akuntan public yang menyelidiki perusahaan Jae-min). Jae-min menyambut mereka dan melihat hasil laporan sambil mendengarkan penjelasan para akuntan dengan serius.


In-wook bertemu dengan rekan luar negerinya seorang gadis menyambutnya di luar. “Hai Grain” kata In-wook ramah. “Kabarnya kau patah hati karena pekerjaan? Kau kelihatan bertambah tampan. Ada pacar baru?”. “Bagaiman kau bisa tahu?”. “Semua tertulis di wajahmu”. “Kau kelihatan lebih cantik”. “Terima kasih”. Mereka samapi di sebuah ruangan. “Sampai jumpa lain kali”. “Terima kasih”. “Bye” . In-wook masuk ruangan “Hai.. tuan franco”. “Senang bertemu”. “Duduk”. “Baik”. Mereka lalu memulai rapat. In-wook terlihat senang menjelaskan penjelasan mereka para rekan luar negeri yang akan bekerja sama dengan perusahaan grup Pax.


Soo-jung sedang bekerja saat menerima telepon dari In-wook. “Halo.. ada apa?” kata Soo-jung. Ternyata In-wook mengajak Soo-jung bertemu dangan ibunya. Soo-jung takut ia berjalan di belakang In-wook. Soo-jung makin memelankan langkahnya dan berhenti karena ragu. “Sedang apa kau?” kata In-wook. Soo-jung kaget “Aku...”. In-wook mengampiri Soo-jung kemudian menariknya berjalan kerumah ibunya.

Ibu In-wook sedang menyiapkan masakan saat In-wook dan Soo-jung datang. Ia lalu berlari keluar menyambut tamu. Ia kaget setelah melihat yang datang bukan pelanggan melaikan In-wook dengan Soo-jung. Ia juga terkejut melihat In-wook menggandeng tangan Soo-jung. Soo-jung mencoba melepasakan genggaman In-wook karena tidak enak pada ibu In-wook. “Bi, selamat malam”. “Selamat malam. Ada urusan apa?” kata ibu In-wook tidak senang. “Kami datang makan. Duduk di dalam” kata In-wook pad Soo-jung. “Duduklah!” kata ibu In-wook sedikit kesal. Soo-jung sedikit takut. “Baik” katanya sambil menunduk.



Ibu In-wook bertanya mereka mau makan apa. In-wook berkata terserah. Soo-jung berniat membantu menyiapkan masakan tapi di tolak oleh ibu In-wook. Soo-jung jadi sedikit tidak enak. Saat makan bersama, ibu In-wook terus memandangi Soo-jung dengan perasaan tidak suka. “Apa kabarmu belakangan ini?”. “Aku menjadi kasir di tempat biliard”. “Tempat biliard?”. “Bukankah kau mau datang ke rumahku? kenapa tidak datang?” kata In-wook memotong pembicaraan ibunya. “Aku tak boleh sembarangan meninggalkan restoran. Pacarmu bagaimana?” tanya ibu In-wook pada Soo-jung lagi. Soo-jung kaget “Apa?”. “Pria yang dulu di depan rumahmu pergi bersamamu itu. Yang membawa mobil impor itu”. Soo-jung tambah tak enak, ia melihat ke arah In-wook. “Kami mau menikah!” kata In-wook. Ibu In-wook kaget, Soo-jung juga kaget dan takut melihat reaksi ibu In-wook nanti. “Tidak, bukan begini!” kata Soo-jung mencoba menjelaskan. “Kau jangan bicara!” kata In-wook. “Aku mau beritahumu dulu” kata In-wook. Soo-jung terrunduk ketakutan, ibu In-wook kesal dan tak percaya keputusan anaknya dan akhirnya ia hanya bisa pergi keluar rumah untuk menenangkan diri. Soo-jung menatap kepergiannya tak enak. “Kenapa kau bicara begitu? Bukankah aku sudah bilang tidak akan menikah denganmu?”. “Benarkah?”. “Kau begini..benar-benar membuatku tak enak” kata Soo-jung sedikit sedih. “’Benarkah tak mau menikah?”. “Tak mau!” kata Soo-jung sambil menunduk. “Sudah kenyang? Kita pergi!”kata In-wook sedikit kecewa dan kesal.

In-wook pergi keluar dia menghampiri ibunya mau pamit. “In-wook, aku mau berbincang-bincang denganmu. Kau suruh dia pulang dulu”. In-wook tersenyum dan berkata “Sudah tak mau menikah”. “Tak mau menikah apa?” ibunya bingung. “Dia bilang tak mau menikah denganku. Jadi kau boleh tenang”. “Apa?” kata ibu In-wook kaget. Soo-jung keluar dan berkata “Bi, terima kasih makan malammu. Sampai jumpa”. “Aku akan datang lagi” kata In-wook pamit. “Ayo”. Mereka berdua mau pergi. Ibu In-wook langsung berlari masuk ke dalam rumah. “Bibi kelihatannya sangat marah”. “Kita duduk saja dirumahku” kata In-wook. “Tak mau!”. Tapi In-wook memaksa, ia menggenggam tangan Soo-jung dan menariknya pergi ke rumahnya.

Soo-jung tiba di rumah In-wook yang baru. Ia melihat-lihat seisi rumah dan saat melihat meja kerja In-wook ia tersenyum melihat gambar sebuah hotel di Bali. Soo-jung menoleh ke In-wook. “Karena kau bilang sangat rindu pada Pulau Bali” kata In-wook menjelaskan. Tiba-tiba ada bunyi bel. Soo-jung dan In-wook kaget. In-wook membuka pintu, Soo-jung melihat siapa yang datang. Ternyata yang datang adalah Young-joo dan ia seperti biasa langsung masuk begitu saja saat pintu terbuka. Young-joo berhenti dan langsung memeluk In-wook begitu sampai di dalam. “Aku sangat merindukanmu” kata Young-joo. Soo-jung kaget melihat kejadian itu. In-wook melepas pelukan Young-joo dengan kasar. “Kau mau apa lagi?” teriak In-wook marah. Young-joo berbalik dan tersenyum tapi ia malah terkejut melihat Soo-jung ada di sana. “Kenapa? Ada tamu? Benar-benar kurang enak. Beri aku segelas minuman. Habis minum aku akan pergi”. Young-joo tak peduli dengan Soo-jung ia langsung duduk di sofa. “Maaf. Mohon kau segera pergi!”. Young-joo tertawa In-wook berani mengusirnya. “Kau sungguh keterlaluan. Aku kan sudah bilang minum segelas langsung pergi”. Young-joo akhirnya mengambil minum sendiri. Soo-jung berniat pergi tapi In-wook mencegahnya. “Kenapa? Jangan pergi!” kata In-wook. In-wook menarik Soo-jung dan menyurunya duduk di kursi makan “Kau tinggal di sini!”. In-wook membuatkan minuman untuk Soo-jung. Young-joo melihat Soo-jung tajam, Soo-jung sedikit tidak enak. Young-joo mengambil hpnya dan menelepon Jae-min. “Ini aku. Kau datang menjemputku”. In-wook dan Soo-jung kaget dengan tindakan Youung-joo. Jae-min di seberang yang tak tahu apa-apa berkata ia sedang sibuk kerja. “Aku sekarang ada di rumah Kang In-wook”. Jae-min kaget. “Aku mabuk. Tapi sekarang Kang In-wook tak bisa mengantarku pulang”. Jae-min tertawa. “Kau tahu tempat ini bukan? Aku menunggumu”. Jae-min sebenarnya malas, ia melanjutkan kerjanya tapi ia tak bisa konsentrasi. “Sedang apa kau!” teriak In-wook marah. “Kau tak bisa lihat?” balas Young-joo. “Aku rasa aku pulang dulu” kata Soo-jung. “Kenapa? Kau takut apa? Kau takut Jung Jae-min kecewa bukan?” kata Young-joo. Soo-jung menoleh kesal. “Choi Young-joo!” teriak In-wook. “Kang In-wook, sadarlah! Menikah dengan dia? Kau tahu dia pernah mengatakan apa padaku? Dia bilang aku bisa menjadi istri Jung Jae-min atau tidak. Masi belum tentu”. In-wook melirik Soo-jung. “Kau masih ingat tidak?” kata Young-joo pada Soo-jung. Soo-jung tertawa, ia menjadi kesal. “Kehilangan Jung Jae-min, kali ini ganti Kang In-wook bukan?” teriak Young-joo. Soo-jung menatap Young-joo marah. “Kau mau tidur di sini atau manunggu suamimu datang menjemputmu. Terserah kau! Kita pergi!” kata In-wook sambil menarik Soo-jung. Tapi Soo-jung sudah marah ia melepaskan tangan In-wook dan berkata “Perlu kupanggilkan taksi?”. “Apa?”. “Atau aku yang mengantarmu?” kata Soo-jung dingin. Young-joo tertawa melihat sikap Soo-jung. “Kenapa? Bisa berhutang budi kepada pria tapi tak bisa berhutang budi pada wanita. Beginikah?” balas Soo-jung menindir perkataan Young-joo dulu kepadanya. “Apa yang kaukatakan?” tariak Young-joo marah. “Tak mau ya sudah. Sepertinya dia mau menunggu suaminya datang baru mau pergi. Kita juga minum segelas minuman sambil menunggunya” kata Soo-jung dingin. Soo-jung mengambil minuman sendiri, In-wook terdiam melihat reaksi Soo-jung pada Young-joo. Soo-jung duduk dengan In-wook meminum minuman.


Jae-min sudah sampai parkiran ia berniat menelpon Young-joo tapi tak jadi. Jae-min sampai di rumah Kang-wook. Kang In-wook membukakan pintu. Jae-min masuk, ia kaget melihat Soo-jung juga ada di sana. Jae-min melirik Soo-jung kemudian melihat istrinya. “Sudah datang?” kata Young-joo. “Cepat bawa dia pergi!” kata In-wook. Jae-min melirik In-wook kemudian melirik Soo-jung lagi. Jae-min tak percaya yang ia lihat kemudian membawa istrinya pergi. “Ayo!” kata Jae-min sambil menarik Young-joo. “Sebentar!” teriak Young-joo menolak. Jae-min memapah Young-joo pergi dari sana. “Mau apa?” kataYoung-joo. Tapi Jae-min tetap membawa pergi Young-joo. In-wook duduk minum lagi dengan Soo-jung, tapi Soo-jung malah terlihat sedih.




Jaae-min sampai dirumahnya dalam keadaan sangat marah. Ia membanting mantelnya di kasur. Jae-min lalu duduk di tepi kasur sambil berpikir. Young-joo melanjutkan minumnya di rumah. Soo-jung sudah kembali kerumah ia teringat tatapan Jae-min kepadanya dan sedih karenannya, tapi kemudian ia berusaha untuk tetap tegar dan tidak memikirkannya. In-wook berpikir di rumahnya kemudaian ia melihat gambar hotelnya.


Pagi harinya In-wook menyerahkan laporan pada Jae-min. “Seperti biasanya. Tak ada hal khusus” kata In-wook yang melihat Jae-min tak biasanya memeriksa laporan. “Jadi aku tak perlu membaca dengan teliti langsung tanda tangan... dan berikan kepadamu saja?” jawab jae-min dingin. “Apa kau merasa aku sangat lucu? Kau jangan lupa, anjing pun bisa seperti tuannya. Apakah karena tinggal terlalu lama di bawah orang yang lucu” lanjut Jae-min. “Maaf”. “Apa?” kata Jae-min dingin. “Aku memang tinggal terlalu lama”. Jae-min sedikit terseyum. “Maksudmu aku orang yang lucu?”. “Maaf sekali. Aku tak ada maksud itu”. Jae-min menandatangani laporan dan menyerahkannya dengan membuang laporan itu ke meja. Ia melanjutkan pekerjaannya, In-wook mellihat Jae-min kemudian mengambil laporan dan pergi dari sana. Jae-min menghela nafas setelah In-wook pergi.


Jae-min bertemu dengan kakaknya di sebuah bar. Kakaknya menanyakan maksud Jae-min menyuruhnya bertemu di luar. Tapi Jae-min tak menjawab. Mereka lalu minum bersama. “Ada masalah apa sampai kau terlihat gelisah?” kata kakak Jae-min. “Masalah dengan Kang in-wook apa berjalan lancar?” tanya Jae-min balik. “Hampir berakhir” kata kakak jae-min sedikit heran. Jae-min menganggug-anggug. “Kalian bicara mengenai investasi. Masalah apa itu?” tanya Jae-min lagi. “Cuma ada teman yang mau menginvestasi” kata kakak Jae-min sedikit takut. “Kak, sebenarnya apa yang kauinginkan?”. “Apa?”. “Kau mau bisnis sirkulasi?”. “Apa yang kau katakan?”. “Makanya aku menikah dengan Young-joo, kau tidak begitu gembira bukan?”. “Kau omong kosong apa?”. “Hubungan Kang In-wook dan Young-joo sejak dulu kau sudah tahu. Kenapa suruh Kang In-wook kembali? Aku benar-benar merasa aneh. Dia kan datang untuk menghadapiku. Tapi apa keuntungan bagimu kalau menghadapi aku?”. Kakak Jae-min tersenyum. “Sebelumnya aku pernah tanya apa kau menyukai Young-joo. Betul tidak? Aku kira begitu. Kemudian aku baru tahu tak sesimpel itu”. Kakak Jae-min tertawa. “Kak, katakan sejujurnya saja. Sebenarnya berapa banyak yang telah kau pakai?”. “Apa?” kata kakak Jae-min kaget. “Pembukuannya sangat sempurna. Apa itu perbuatan Kang In-wook?” kata Jae-min menahan kesal. “Aku sama sekali tak tahu apa yang kaukatakan” kata kakak Jae-min menyangkal. “Puluhan miliyar yang tadinya berencana untuk membeli...sebuah perusahaan moneter. Sekarang semua sudah terbang”. Kakak Jae-min kaget mendengarnya. “Dan berapa miliyar untuk perusahaan menengah kebawah”. “Bukan begitu. Sebenarnya aku takut salah paham, makanya aku tidak mengatakan. Bukan aku sendiri, tapi bekerja sama sengan beberapa teman. Sahamnya masih ada”. “Sudah berubah menjadi kertas bekas” kata Jae-min dingin. Kakak Jae-min jadi tak enak. “Jae-min, bicara tentang bisnis. Tak mungkin setiap kali membuat keputusan 100% tepat. Ayah sendiri tahu hal ini, makanya beliau diam saja” kata kakak Jae-min mencoba menjelaskan. “Bukankah tetap menguntungkanmu? Bisnis sirkulasi pun diberikan kepadamu” lajut kakak Jae-min. “Kalau begitu bisnis sirkualasi berikan kepadamu saja” kata Jae-min. Kakaknya kaget. “Apa?”. “Kita kan saudara” kata Jae-min. Kakak Jae-min tertawa karena itu tidak mungkin. “Aku tidak bercanda! Kau juga tahu aku tidak tertarik pada bisnis. Apalagi hal seperti ini hasil kerjamu akan lebih bagus”. “Kau selalu bilang tidak tertarik pada bisnis. Sebenarnya kau sangat tertarik. Makanya kau bisa menikah dengan Young-joo. Bisnis sirkulasi sekarang sudah menjadi milikmu”. “Betul. Karena itulah sekarang aku hampir gila”. Kakak Jae-min tersenyum senang mendengarnya. “Kenapa? Karena wanita itu? Kau ini! Cinta itu apa? Ada orang demi cinta rela mencampakkan semua. Tapi sekarang kau mau bercerai atau ada rencana lain? Meski begitu, apakah bisnis sirkualsi boleh sembarangan diberikan kepadaku? Apa ayah Young-joo akan diam saja?”. “Aku pikir... kita bisa bekerja sama”. “Bagaimana caranya?”. “Seharusnya kau lebih tahu daripada diriku” kata Jae-min kesal. “Bicara seharian, kau suruh aku menjadi orang jahat” kata kakak Jae-mn sedikit cuek. “Kau harus bantu aku. Tak peduli suruh aku melakukan apa pun boleh”. “Katakan! Kau mau aku membantumu apa?”. “Yang lain tak usah. Bantu aku menghancurkan Kang In-wook! membuat dia tak bisa bangun kembali!”. Kakak Jae-min tersenyum-senyum senang mendengarnya.

Minggu, 23 Mei 2010

Memories Of Bali episode 18


In-wook mengantar Soo-jung pulang dan berkata kalau ia ingin menikahi Soo-jung. Soo-jung kaget tapi ia kemudian berjalan pergi meninggalkan In-wook. In-wook neariknya dan bertanya “Kenapa?”. “Seharusnya aku yang bertanya kepadamu. Sudah cukup banyak aku dikasihani. Dan sangat berterima kasih kepadamu. Jadi mohon jangan mencariku lagi”. Soo-jung pergi, In-wook mengejarnya dan menghentikan Soo-jung lagi. “Aku berbuat begini sama sekali bukan karena kasihan padamu”. “Tak peduli kasihan atau bukan. Bagiku sama saja”. “Mana mungkin sama?”. “Wanita sepertiku, kau pasti sudah melihat dengan jelas bukan? Seperti yang dikatakan orang. Aku tak ada harga diri. Setelah dipermainkan pria seperti Jung Jae-min kemudian dicampakkan. Aku pun tidak keberatan”. “Kau man boleh berbicara begini?”. “Orang sepertiku tak berhak menerima lamaranmu. Maaf sekali. Tak menyangka kau bisa melamarku. Aku takkan melupakannya”. Soo-jung pergi. “Lee Soo-jung” teriak In-wook memanggil Soo-jung. Soo-jung berhenti. In-wook menhampirinya dan memegang pundaknya. “Aku tahu kenapa kau begini”. “Kalau tahu mohon pulang saja”. “Kau tak perlu jawab sekarang. Aku menunggumu!”. In-wook pergi. “Aku pikir.. Mungkin kau salah paham terhadap maksudku” kata Soo-jung. In-wook berhenti “Sebenarnya aku tidak tertarik padamu. Hati-hati di jalan” lanjut Soo-jung sebelum pergi. In-wook tidak percaya apa yang ia dengar, ia hanya bediri diam disana. Soo-jung menangis karena ia sudah tidak bisa kembali pada In-wook, ia merasa tidak pantas. In-wook pulang ke apartementnya. Ia bingung sebenarnya apa yang terjadi. Jae-min masih dikantor melamun tentang Soo-jung.

Pagi harinya asisten Jae-min datang ke kantor Jae-min dan mendapati Jae-min tengah tertidur di sana. Ia mencoba membangunkannya. Jae-min terbangun dangan keadaan berliur. Asistennya bertanya apa Jae-min bermalam disana. Jae-min tak menjawab ia malah berkata kalau ia kedinginan dan hampir mati karenanya. Asisten Jae-min bertanya apa sebenarnya yang terjadi hingga Jae-min bermalam di kantor. “Tolong ambil uang untukku”. “Ambil berapa?”. “1 miliyar”. “Untuk apa?”. Jae-min kesal “Kau tak perlu tahu”. Jae-min pergi keluar. Asistennya bingung dan heran dengan kelakuan Jae-min. Jae-min membasuh mukanya di toilet. Jae-min menatap wajahnya di kaca, ia tiba-tiba kesal dan memukul kaca di depannya hingga tangannya berdarah.



Di galeri Young-joo terlihat melamun. Ibu Jae-min bertanya apa yang sedang dirisaukan Young-joo sekarang. Young-joo kaget dan berkata tidak ada apa-apa. Ibu Jae-min lalu bercerita bahwa kakak Jae-min mersedia membantu membereskan Kang In-wook. Young-joo menatap ibu Jae-min. “Karena itulah kau jangan cemas. Jangan risaukan lagi”. “Baik”. “Dan.. aku dengar kalian pisah kamar”. “Jae-min yang memberitahumu?”. “Bibi Wang yang mengatakannya. Katanya pagi-apagi melihat di atas sofa ada selimut. Di mana-mana ada botol arak. Young-joo, hingga kini kau masih mempersulit dia..karena apa yang dilakukannya sebelum menikah bukan? Sejak dulu Jae-min sudah melupakan wannita itu. Berusaha membaikimu. Aku harus membantu dia. Mana boleh gara-gara kejadian masa lalu dan mempersulit dia? Kau harus tahhu, pria semakin dipersulit semakin mudah keluar jalur”. Young-joo kesal karena dirinya yang disalahkan. “Dia kelihatannya begitu pucat. Bagaimana kau menjahati dia? Belakangan ini aku melihat dia begitu pucat. Hatiku sakit setelah melihatnya. Wajahnya sama sekali tidak mirip seorang pengantin pria. Malah mirip orang sakit. Bolehkah kau lebih memperhatikan dia? Aku sudah pesan orang membawa tonik ke sana. Setiap pagi kau harus menyiapkan untuk dia. Suruh dia harus bawa ke kantor. Suruh sekretaris Cui mengingatkan dia minum” (Iya sakit hati buk anakmu itu). Young-joo tidak tahan “Ibu. Kau sudah dengar Jae-min membeli hotel di Pulau Bali bukan? Kau tahu kenapa dia mau beli?”. “Bukankah dia sudah mengatakan alasannya?”. “Dia beli hotel untuk wanita itu!”. “Apa?”. “Kau bilang aku menjahati dia. Sewaktu berbulan madu, kami sudah pisah kamar. Bukan aku yang mengajukan permohonan ini. Jae-min yang mengajukannya”. “Anak ini! Apa dia sudah gila?”. Young-joo pergi dengan alasan mengurusi pameran. Ibu Jae-min pusing dengan tingakah anak dan mantunya.

Ibu Jae-min datang ke apartement Jae-min dengan Ibu Young-joo. Ibu Jae-min minta maaf karena anak-anak mereka tinggal di tempat kecil. Ia menyesal tidak segera membellikan rumah baru untuk mereka. Ibu Young-joo menyuruh pembantu yang ia bawa untuk segera bekerja. Ibu Jae-min tidak enak, ia berkata sejak Jae-min masih bujang bibi Wang pembantunyalah yang membersihkan apartement sehingga tau setiap sudut apartement itu. Ia juga berkata jika membawa pembantu baru tanapa alasan harus diajar dari awal sehingga nanti sangat akan merepotkan. Ibu Jae-min menyuruh bibi Wang membersihkan apartement. Ibu Young-joo mencegah dan berkat bahwa urusan rumah biar Young-joo saja yang mengurusnya dan ibu Jae-min lepas tangan saja. Ibu Jae-min berkata ini hanya masalah kecil jadi tak perlu samapi lepas tangan segala. Ibu Young-joo akhirnya mengalah tapi ia berkata pada bibi wang agar tahu tata krama dasar seorang pembantu yakni tidak boleh memberitahu semua orang apa yang terjadi di rumah. Bibi wang merasa tidak enak dan ibu Jae-min kaget dan menanyakan sebenarnya apa yang terjadi. Ibu Jae-min berkata bahwa bibi Wang telah bekerja selama 25 tahun dengan keluarganya dan sudah dianggap sebagai keluarha sendiri. “Sangat baik, leluasa dan sembarangan. Inilah kenapa negara kita tidak bisa maju. Negara yang tingkat korupsinya paling tinggi. Dan tingkat produksi paling rendah. Bukankah begitu?” kata ibu Young-joo marah. “Ya” kata ibu Jae-min tak enak. “Bi”. “Ya” jawab pembantu yang dibawa ibu Young-joo. “Mulai dari kamar tidur saja”. “Baik nyonya”. “Perjamuan tehmu sepertinya akan terlambat”. “Bibi wang, kau pulang dulu” kata ibu Jae-min. “Baik nyonya”. “Mari kita pergi” ajak ibu Jae-min.


Mixi sedang latihan akting. “Kau sedang apa?” kata Mixi bertanya pada Soo-jung yang tengah serius menhitung sesuatu hingga mengetuk – ngetuk kalkulator dengan keras. “Mati-matian mnegtuk aklkualtor, juga takkan mengeluarkan uang”. “Kau tahu apa yang disebut Ten in Ten?”. “Apa?”. “Yaitu dalam 10 tahun menabung 10 miliyar”. “10 miliyar? Bagaimana melakukannya?”. “Kabarnya mampu melakukannya”. “Kata siapa?”. “Di koran kan pernah ada”. “Bercanda. Misalnya setahun dapat 1 miliyar. Harus tidak menghabiskan 1 sen pun baru bisa menabung sampai 10 miliyar. Hanya kau darimana sapat 1 miliyar?”. “Pertama-tama harus dapat uang untuk depposito berjangka. Young Ye-tai itu setiap bulan akan menabung 500.000 won kedalam rekeningku. Di tambah gajiku di biliard 400.000 won. Semua dimasukkan ke dalam deposito berjangka”. “Kalau begitu kau makan apa?”. “Kau lupa? Uang yang kudapat dari mengantar yakult. Jumlahnya 200.000 won”. “Masa kau tak berencana memberi uang sewa kepadaku?”. Soo-jung tidak menjawab tapi malah berkata “Jika setiap bulan tabunganku 900.000 won. 3 tahun kemudian akan dapat 30 juta lebih. Uang ini dipakai sebagai modal investasi”. “Apa yang disebut modal investasi? 3 tahun kemudian tak tahu uang ini cukup untuk beli rumah tidak? Aku rasa kau pernah mendapat keuntungan dari uang sehingga kecanduaan uang”. Soo-jung tak peduli dan terus berhitung dengan kalkulator. “Orang itu setelah menikah, apa kalian tak pernah bertemu?”. Soo-jung tak mneghiraukan pertanyaan Mixi. Mixi menghela napas kemudian bertanya masalah lain “Benarkah kau tak berencana bertamu ke rumah Kang In-wook? Dia akan menunggumu”. Soo-jung tetap tak menghiraukan Mixi. Mixi kecewa, ia lalu berlatih akting lagi “Setelah mencicipi asam, manis, pahit dan pedas. Mana boleh suruh aku lenyap? Aku kan bukan asap, bisa lenyap”. Hp Soo-jung berbunyi. Mixi jadi terganggu. Mixi mengambil hp tersebut “Bilang Cao Cao. Cao Cao langsung menelpon. Jung Jae-min”. Soo-jung langsung behenti berhitung.


Soo-jung menemui Jae-min disebuah restoran. “Selamat siang”. “Lama tak jumpa”. Mereka minum kopi bersama. “Bagamana dengan hidupmu?” tanya Soo-jung. Jae-min terlihat sangat lemah dan balik bertanya. “Bagaimana dengan hidupmu?”. “Aku sangat baik” kata Soo-jung sambil tersenyum. Soo-jung melihat tangan Jae-min yang diperban. “Oh ya, apakah nyonya juga baik?”. Jae-min tersenyum karena Soo-jung bertanya tentang ibunya kemudian dengan dingin ia berkata “Bukankah kau suruh aku kalau sempat menelponmu? Cari aku ada urusan apa?”. Soo-jung bingung “Sebenarnya aku menelponmu tak ada maksud lain. Aku Cuma ingin melihatmu. Dan menyapamu saja”. “Menyapaku?”. “Aku pikir aku harus mengucapkan selamat atas pernikahanmu”. Jae-min menatap Soo-jung, Soo-jung kaget. “Kenapa waktu menikah tidak memberitahu aku? Aku lihat koran baru tahu”. “Apa kau harap aku mengirim undangan kepadamu?” kata Jae-min ketus. Soo-jung tertawa dan tertunduk tak enak. Jae-min mengeluarkan sebuh amplop dari saku jasnya. “Ini apa?” tanya Soo-jung dingin karena sepertinya ia tahu isi amplop itu apa. “Jika tak cukup, aku bisa memberimu lagi” kata Jae-min sambil menunduk. “Aku rasa kau benar-benar salah paham terhadapku. Sebelumnya aku menelponmu benar-benar cuma ingin melihatmu. Tak ada maksud lain. Meski cuma berpapasan, juga berjodoh. Dilihat dari hubungan kita. Aku merasa saling menyapa juga tidak salah” kata Soo-jung sedikit menahan sedih dan kesal. Jae-min tak bisa memandang Soo-jng “Dulu kita bersama sama sekali tidak bilang mau menikah”. “Aku kan tidak mengatakan apa-apa” kata Soo-jung kesal. “Karena itulah kau jangan berpura-pura suci lagi! Ambil uang ini!” teriak Jae-min. Soo-jung kaget. “Aku ingin memberikan uang ini kepadamu” kata Jae-min tenang. Soo-jung melempar amplop itu ke muka Jae-min dan berkata “Meski aku sangan menyukai uang. Namun aku tidak begitu malu sampai taraf ini. Ambil uang ini, beli sepasang sepatu untuk istrimu!”. Soo-jung pergi dalam keadaan kesal. Jae-min mengejarnya hingga sampai luar. Jae-min menarik tangan Soo-jung dan berkata “Kalau begitu kau harap aku melakukan apa?” teriak Jae-min. “Yang bisa kulakukan untukmu, selain ini apa lagi? Sebenarnya kau berharap aku melakukan apa? Apa kau berharap aku mati? Aku mati saja!” teriak Jae-min lagi. “Hal seperti inim kenapa tanya aku?” balas Soo-jung. “Kalau begitu aku harus tanya siapa?”. “Kau tanyakan diri sendiri saja!”. Jae-min tak percaya, ia menaruh amplop tadi ke dalam baju Soo-jung dan berkata “Kau tentukan sendiri saja!” kata Jae-min sebelum pergi. Soo-jung menatap kesal Jae-min yang sudah pergi.




Di dalam bus saat akan pulang. Soo-jung terlihat sedih dan ingin menangis. Young-joo pulang ke apatement Jae-min dan terkejut melihat Jae-min sedang mengadakan pesta dengan teman-temannya. Ia juga melihat Jae-min berpelukan dengan wanita lain. Young-joo terus berdiri diam menahan kesal melihat tingkah Jae-min dan teman-temannya. Jae-min menyadari kedatangan Young-joo. Dan dengan riang ia berkata “Choi Young-joo, kau sudah pulang?”. “Sedang apa ini? Keluar!”. Teman-teman Jae-min lalu bergegas pergi tapi di cegah Jae-min. “Jangan hiraukan dia. Duduk.. Choi Young-joo, kemari! Perempuan ini adalah istriku. Cantik bukan? Dan sangat cerdas dan hebat. Tapi..Dia memandang rendah aku!” Kata Jae-min yang ternyata sudah mabuk. Teman-teman Jae-min tak enak mendengarnya. “Kau kemari!” suruh Jae-min. Young-joo tetap berdiri di tempatnya. “Aku suruh kau kemari!” teriak Jae-min lagi. “Kalian lihat, dia tak mau kemari. Jae-min mengambil gelas dan botol minuman. “Kau tak mau kemari, aku yang kemari. Ayo minum segelas”. “Sedangapa kau?”. “Sedang apa apa? Aku memang begini. Aku bukannya tak tahu hal ini, baru menikah denganku” kata Jae-min. Young-joo kesal dan menampar Jae-min kemudian dia pergi dari apartement. Jae-min tak menyangka ia akhirnya meminum minuman itu sendiri.


Seseorang membunyikan bel rumah In-wook. tidak ada sautan saat In-wook berteriak menayakan siapa yang datang. In-wook membuka pintu rumahnya dan mndapai Young-joo ada di sana. In-wook kaget, Young-joo langsung masuk dan duduk tanpa seijin In-wook. “Lumayan” kata Young-joo mengomentari rumah In-wook yang baru. “Bagaimana kau tahu tempat ini?”. “Kang In-wook berada di dalam genggamanku. Kau tidak memberiku minuman?”. “Kau sudah mabuk. Pulanglah! Tempat ini tak pantas untukmu”. Young-joo bersedih di sana dan berkata “Aku ingin mati”. In-wook akget. “Kehilangan kau..Semua masalah jadi kacau. Cuma karena nafsuku. Maaf, semua salahku”. Young-joo menangis, In-wook tak tahu harus berbuat apa.

Soo-jung selesai bekerja dan akan pulang. Saat memakai mantelnya ia melihat amplop yang dimasukan Jae-min ke dalam mantelnya. Soo-jung membuka mantel itu dan mendapati sebuah cek di sana. Ia melihat angka yang tertera disana dan menghitung jumlah nolnya. Ia terkejut saat tahu cek itu bertulis julah uang miliaran. Soo-jung jadi ketakutan, ia menggenggam erat amplop itu dan bingung harus melakukan apa.


Jae-min kesal karena semua temannya pergi meninggalkannya sendiri di apartementnya. Ia minum-minum sendiri sambil memaki teman-temannya. Tiba-tiba ada bunyi telepon. Jae-min mencari hpnya dan kemudian mengangkat telepon itu. Jae-min sudah sangat mabuk. “Halo. Siapa? Lee Soo-jung? Ada apa? Aku di rumah. Naik saja. Di rumah tak ada orang. Aku suruh akau naik! Merepotkan. Baik, aku turun saja”. Soo-jung menunggu di depan gedung apartement jae-min. In-wook mengantar Young-joo pulang. “Jika kau pernah menerima cintaku satu kali. Aku tidak akan menikah”. “Meski begitu, kau pun takkan menikah denganku”. “Betul Pasti begini”. Young-joo turun dari mobil, In-wook mengikutinya. “Terima kasih. Hati-hati di jalan”. Young-joo pergi, In-wook menatapny kemudia hendak pergi tapi ia lupa menyerahkan kunci mobil Young-joo. Ia pergi mengejar Young-joo.

Young-joo berhenti saat melihat Soo-jung berdiri menunggu Jae-min. Ia jadi kesal. Soo-jung menoleh dan melihat Young-joo di sana dan jadi takut. In-wook berhasil mengejar Young-joo. “Kunci” tapi In-wook melihat sikap Young-joo aneh. Ia melihat ke arah pandangan Young-joo dan mendapati Soo-jung ada di sana. Soo-jung kaget In-wook ada di sana juga. Jae-min datang dalam keadaan mabuk. Ia hanya melihat Soo-jung berdiri menunggunya dan ia langsung menarik Soo-jung sambil berkata “Aku suruh kau naik!”. “lepaskan aku!”. “Aku suruh kau naik!”. Jae-min melihat In-wook dengan Young-joo. Young-joo kesal melihat tingkah Jae-min. Jae-min tak percaya apa yanng ia lihat, ia mneghampiri In-wook dan Young-joo. “Kalian masih bersama?”. In-wook mendorong Jae-min dan pergi kearah Soo-jung. “Seadang apa kau?” tanya In-wook dingin. “Inikah alasan kenapa kau tak bisa menikah denganku?”. Jae-min kesal mendengatnya. “Bukan seperti ini. Aku mau mengembalikan sesuatu kepadanya”. “Lee Soo-jung, kau benar-benar tak tertolong” kata In-wook marah. “Benar-benar bukan seperti ini”. “Kaulah yang tak tertlong bocah tengik!” kata Jae-min kesal. Jae-min memegang In-wook, tapi In-wook yang sedang amarah langsung memukul Jae-min. Young-joo tak peduli dengan perkelahian itu, ia iangin masuk tapi Soo-jung tiba-tiba mendekatinya dan menyerahkan amplop yang di beri Jae-min. “Ini. Untukmu” kata Soo-jung sambil ketakutan. Young-joo menerimanya dan langsung menampar Soo-jung. Kemudian ia masuk ke dalam gedung. In-wook berhenti memukuli Jae-min saat ia melihat Soo-jung di tampar Young-joo. Jae-min sudah jatuh tak berdaya. In-wook berdiri melihat Soo-jung, Soo-jung melihat ke arah In-wook. In-wook pergi meninggalkan Soo-jung. Soo-jung juga pergi, tapi ia sempat berhenti kawatir dengan Jae-min sebelum akhirnya ia benar-benar pergi.



In-wook berjalan pulang lunglai. Young-joo membuka amplop yang diberikan Soo-jung dan melihat cek disana. Ia sedih dengan nasibnya sekarang. Soo-jung pulang sambil terus menangis. Jae-min duduk di tepi jalan sedih dan tak percaya apa yang ia dengar tadi.

Pagi harinya saat sarapan Mixi memarahi Soo-juung karena mengembalikan cek dari Jae-min. Soo-jung hanya berbaring diam mendengar ocehan Mixi tentang dirinya. “Kau mengembalikan uang itu karena harga diri” kata Mixi menyindir Soo-jung. “Kau tak mau makan? Kau juga merasa sayang bukan? Tentu merasa sayang. Sekarang makan saja tak bisa. Kelihatan sekali kau merasa sangat sayang. Tuhan, 1 miliyar”. Soo-jung hanya diam dan malah memikirkan perkataan Jae-min saat memberikan cek itu. “Kalau begitu kau harap aku melakukan apa? Kau ingin aku mati bukan? Aku mati saja” kata Jae-min saat itu. Soo-jung juga teringat perkataan In-wook saat melamarnya dan saat ia mengatai Soo-jung tadi malam. “Lee Soo-jung, kau benar-benar tak tertolong” kata In-wook saat itu. Soo-jung mengahapus air matanya dan makan dengan lahap. Mixi heran melihatnya.

Soo-jung akan berangkat kerja sambil membawa kantong sampah saat ibu Young-joo datang diantar oleh informannya. “Apa kabar? Lama tak jumpa” kata Ibu Young-joo basa-basi. “Ada urusan apa?” tanya Soo-jung langsung. “Sudah berhanti dari galeri, kenapa tidak beritahu aku?”. “Apa kau datang menanyakan hal ini?” kata Soo-jung bearani. “Aku amu menanyakan sesuatu”. “Katakan saja”. “Kau dan menantuku masih berhubungan tidak?”. “Kau datang mencariku karena kejadian kemarin bukan?”. “Aku mau tanya. Apa tujuanmu mengembalikan uang itu? Karena kurang banyak?” teriak Ibu Young-joo. Soo-jung tertawa mendengarnya dan berkata dingin “Bagi kalian, apa segitu sangat banyak?”. “Apa?”. “Jika kau puas dengan jawaban ini. Silakan pulang!”. Soo-jung pergi, ibu Young-joo menjambaknya karena kesal dengan sikap sombong Soo-jung dan berkata “Kau bilang apa? Puas dengan jawaban ini?”. Soo-jung kali tidak tinggal diam ia melawan dan memukul ibu Young-joo denga nkantong sampah yang ia bawa. “Perempuan tengik, sedang apa kau?”. “Ini sampah!” kata Soo-jung berani. Ibu Young-joo kaget. “Berbau. Mohon bersihkan dirimu dulu baru pulang”. Soo-jung segera pergi dari sana. Ibu Young-joo tak percaya Soo-jung berani berbuat begitu padanya. (pengadu bgt si Young-joo itu)



Kakak Jae-min sudah memiliki orang kepercayaan baru. Ia berjalan bersamanya dan berpapasan dengan In-wook. In-wook memberi hormat, tapi sikap kakak Jae-min sudah biasa saja dan berlalu pergi meninggalkan In-wook. In-wook tak tahan ia memanggil kakak Jae-min. “Ada apa?” kata kakak Jae-min. “Ada yang ingin kukatakan” kata In-wook. Kakak Jae-min menyuruh orang barunya pergi dulu kemudian ia mneghampiri In-wook dan berkata “Apa yang ingin kaukatakan?”. “Aku harap kau bisa menjelaskan masalah keuangan di bisnis sirkulasi” kata In-wook dingin. Kakak Jae-min kaget, ia melihat sekitar dan mendekati In-wook lebi dekat lagi untuk berbisik “Kau kira kenapa aku memutasimu ke sana? Dan apa aku akan emmberimu rumah tanpa alasan?”. “Aku paham”. “Seharusnya kau tahu diri” kata kakak Jae-min sambil tertawa menepuk tubuh In-wook dan pergi dari sana. Kakak Jae-min rapat dengan orang barunya serta dengan orang-orang luar negeri yang akan berbinis dengan perusahaannya. Kakak Jae-min memperkenalkan orang barunya dan berkata bahwa penanggung jawab proyek itu akan dihanti dengan orang itu, tapi para tamu itu tidak suka dan berkata bahwa In-wook adalah alasan mereka mau berbisnis dengan perusaan itu dan merek tidak mau jika penangguung jawab proyek itu diganti. Kakak Jae-min jadi kelabakan karena para tamu bersikeras agar penanggung jawb tidak diganti. Sebelum pergi para tamu dari luar negeri berkata bahwa mereka berharap pada rapat berikutnya bertemu dengan In-wook. Kakak Jae-min kesal. In-wook mendapat laporan dari rekan luar negerinya. Saat itu In-wook ada di toilet dan Jae-min juga ada disana. Jae-min curiga dengan In-wook tapi In-wook tidak peduli ia malah dengan sengaja berkata di depan Jae-min. “Sangat panik bukan? Bagus. Oke. Bagus. Oke, bye”.

Ayah Jae-min datang kekantor Jae-min. “Ada urusan apa?”. “Wajahmu kenapa? Kau keluar dulu” kata ayah Jae-min kepada asisten Jae-min. Ayah Jae-min mencoba duduk seperti kebiasaan Jae-mn mengangkat kaki di jendeladan memndang keluar jendela tapi tak sampai. Jae-min heran dengan tingkah ayahnya. Ayah Jae-min jaga gengsi ia memajukan kusrsinya dan mencoba duduk sepert tadi (geli banget liatnya). “Katakan, kau ambil uang sebanyak itu untuk apa?” Jae-min kaget. “Sepertinya membeli hotel. Mau diberikan kepada gadis itu bukan?”. Jae-min tak bisa menjawab. “Kau..Kau tahu kenapa aku menyerahkan bisnis sirkulasi kepadamu? Salah. Aku tanya dangan cara lain saja. Setelah kau menangani bisnis sirkulasi. Siapa yang paling panik?”. Jae-min tidak mengerti. “Di dalam hati orang ini pasti selalu beranggapan semua bisnisku akan..menjadi miliknya. Kakakmu. Betul tidak?”. Jae-min kaget. “Karena itulah aku memutuskan menyerahkan kepadamu. Kau kira aku memberi muka kepada Young-joo dan Pak Choi? Kakakmu memerintah Kang In-wook membuat hal-hal itu. Seharusnya kau paham. Karena itulah kau harus memahami Kang In-wook baik dalam hal pekerjaan...atau karakternya. Jangan mengabaikan kariermu karena seorang gadis yang tak berharga lagi”. “Ayah...Aku mengaku. Aku mencintai gadis itu” kata Jae-min. Ayahnya Kaget. Jae-min langsung berlutut pada ayahnya. “Bagaimana kau menghukumku, tak masalah. Namun aku tak mampu hidup dengan Young-joo” aku Jae-min. Ayahnya kesal dan mencari barang yang bisa dilemparkan. “Keparat kau!”. Tapi melihat kesungguhan Jae-min ayahnya tidak jadi melempar. Ayahnya berjalan keluar. Jae-min menahannya sambil memegang kaki ayahnya “Ayah, ini bukan salahnya. Ini masalahku sendiri. Aku sudah berusaha mencoba. Namun aku tetap tak mampu hidup bersama Young-joo. Ini bukan salah Young-joo. Karena aku.. Young-joo pun akan ditimpa musibah”. “Kau ingin gadis itu ditimpa musibah bukan?”. Jae-min memeluk erat kaki ayahnya “Ayah, aku mohon padamu. Aku tidak meginginkan apa-apa... asal kau setuju aku bersama dia” (Takut Soo-jung diapa-apain ayahnya nih). “Dasar bajingan bodoh..” kata ayah Jae-min sambil memukuli anaknya. Tapi Jae-mn tidak melepas pelukannya sambil menangis. “Gadis yang membuatmu jadi begini, aku takkan mengampuni dia!”. Jae-min memeluk kaki ayahnya erat lagi untuk mencegah ayahnya pergi. “Ayah, bukan begitu. Pemikiran akulah yang terlalu bodoh. Aku akan berpikir kembali. Ayah aku mohon padamu... jangan mempersulit dia lagi”. Jae-min menangis histeris “Jangan mempersulit dia lagi, boleh?”. “Jika aku mendengarmu mengungkit masalah ini lagi. Nanti gadis itu dan kau takkan kuampuni!” ancam ayah Jae-min sebelum pergi. Jae-min masih menangis. Para karyawan yang mendengar keributan itu memberi hormat saat ayah Jae-min keluar termasuk In-wook. ia melihat ayah Jae-min pergi dan Jae-min yang masih bersujud di kantornya.





Para Karyawan langsung bergosip setelahnya. “Kabarnya dia beli hotel di Pulau bali untuk dia. Setelah ketahuan dia pun memberinya 1 miliyar”. “1 miliyar?”. In-wook mendengarkan diam-diam perkataan mereka. “Dia memberinya uang sebanyak ini”. “Ya”. “Jika beria aku 1 miliyar, aku pun rela meakukan apapun”. “Ya”. “Gadis itu sekarang bagaimana?”. In-wook teringat penjelasan Soo-jung tadi malam. “Bukan begini. Aku mau mengembalikan sesuatu kepadanya” kata Soo-jung saat itu. In-wook jadi merasa bersalah dengan ucapannya pada Soo-jung malam itu.

Seperti biasa sebelum pulang Soo-jung membersihkan tempat biliard. Ia teringat In-wook saat bermain biliard dengan kakakny. Ia terlihat keren dan Soo-jung jadi ingin mencoba bermain biliard. Meski tak bisa karena tidak ada orang Soo-juung memukul bola dengan gerakan-gerakan aneh. In-wook diam-diam masuk ke tempat biliard. Ia melihat Soo-jung sedang memukul bola dengan gaya aneh. “Mau kupukulkan?” kata In-wook. Soo-jung kaget hingga terjatuh di meja biliard. Soo-jung jadi malu. “Ada urusan apa?”. “Kenapa tak ada tamu?”. Soo-jung tak menjawab. “Sudah makan malam?”


Jae-min mkan malam bersama Young-joo dirumahnya dengan lauk yang sangat banyak. Tapi sikap mereka saling dingin, hal ini berbeda dengan makan malam Soo-jung dan In-wook. Mereka kembali berbaikan. “Sebenarnya aku mau traktir kau makan enak”. “Ini sudah enak. Aku paling suka makan mi kecap”. “bagus sekali” kata In-wook. “Aku bersalah terhadapmu. Maaf” kata In-wook lagi. Soo-jung kaget. In-wook bersekip seperti tidak terjadi apa-apa dan makan mie dengan lahap. Soo-jung masih tertegun tapi kemuan ia juga melanjutkan makan mienya. Jae-min dan Young-joo masih diam-diaman setelah selesai makan. Young-joo sibuk baca majalah dan Jae-min sibuk nonton tv. Sementara itu In-wook setelah makan mengajari Soo-jung bermain biliard. “Lakukan seperti apa yang kulakukan”. Soo-jung meniru gaya In-wook tapi tak berhasil memukul dengan benar. “Setelah berdiri tegak, putar 45 derajat ke kanan. Kemudian kaki kiri maju. Bengkokkan pinggang. Bengkok ke bawah. Baik. Ulurkan tangan. Jari lurus. Lurus. Siku jangan gerak. Dorong pelan-pelan dengan telapak tangan. Tahu tidak? Dengan telapak tangan. Bagus. Mari. 1..2..3...” kata In-wook sambil mengarahkan dengan memegang Soo-jung sehingga berhasil. Soo-jung sangat senang. “Mudah bukan?”. In-wook lalu membantu Soo-jung membersihkan bola, mereka saling tersenyum satu sama lain. Sementara itu di rumah Jae-min “pergilah tidur” kata Young-joo. “Aku tak mau tidur” kata Jae-min dingin. Young-joo kesal akhirnya ia pergi tidur sendiri.

In-wook menemani Soo-jung menunggu bus saat akan pulang. Soo-jung menyurh In-wook pulang karena busnya sudah datang. Soo-jung menuju bus, tapi tiba-tiba In-wook memanggil Soo-jung dan meminta Soo-jung menelponnya. Soo-jung hanya tersenyum dan pamit setelahnya. Soo-jung naik bus. In-wook melihatnya sambil terus berfikir dan berlari naik bus. Soo-jung tiba ditempat duduk dekat jendela, ia ingin melihat keluar untuk melihat In-wook. tapi In-wook tidak ada di sana. Soo-jung sedikit kecewa karena In-wook sudah pergi. Tiba-tiba ada sebuah tangan memegang pundaknya. Soo-jung berbalik dan terkejut melihat In-wook sudah duduk di sana. Mereka saling tersenyum karena kejadian itu.

Saat akan tidur. Mixi bertanya apa yang membuat Soo-jung gelisah hingga tidak bisa tidur. “Dia suruh aku menikah dengannya”. “Pria gila mana?”. “Kang In-wook” Jawb Soo-jung tenang. Mixi langsung bangkit dari tidurnya karena kaget. “Apa? In-wook ku mengatakan itu?”. “Ya”. Mixi tak percaya dan pergi tidur lagi. “Tuhan, dia melamar kepada seorang wanita yang menolak dirinya dulu. kemudian membawa koper pergi bersama seorang pria lain. Apakah Kang In-wook sudah gila?”. “Ya. Ini hal yang tak mungkin”. “Kemudian? Kau.. kau jawab apa?”. “Aku sudah menolaknya”. “Bagus sekali. Jika kau punya hati nurani, kau harus berbuat begini. Terus terang, aku tak bermaksud mengatakan kau telah berbuat dosa...besar dan tak bisa dimaafkan. Aku cuma merasa jika kau mau menikah. Demi kebahagiaanmu kelak. Seharusnya... menikah dengan seseorang yang sama sekali tak tahu masa lalumu”. Soo-jung jadi sedih. “Dulu di depan pintu rumah Kang In-wook menumpuk begitu banyak botol minuman. Kau sendiri juga lihat. Setelah kau pergi, In-wook setiap hari hidup dalam penderitaan. Akhirnya karena benar-benar terlalu sedih, dia pun pindah. Sifat seperti In-wook ini mana mungkin dengan mudah menerimamu”. Soo-jung benar-benar jadi sedih. “Lagipula, bagaimanapun hidupmu sudah dibuat kacau oleh Jung Jae-min. Perempuan tengik, kenapa kau begitu bodoh? Meski dia dengan tulus melamar padamu. Namun mungkin karena wanita itu menikah dengan Jung Jae-min. Karena itulah dalam kondisi kesal dia mengatakan ini padamu. Kau jangan percaya” kata Mixi sedikit kesal akhirnya. “Aku rasa memang begini” kata Soo-jung menyutujui pendapat Mixi yang terakhir.

“Suruh aku bekerja keras apa lagi? Bukankah sekarang aku sudah bekerja keras? Jadi aku mohon kalian jangan menggangguku lagi. Makanya siapa suruh dia pergi cari Soo-jung? Soo-jung pasti sangat marah baru membuangnya dengan sampah. Bukan, aku bukan bilang dia benar. Aku tahu.. aku sedang sibuk” kata Jae-min. Jae-min kesal saat ia berusaha serius bekerja ibunya menelpon menceritakan masalah Ibu Young-joo. Kakak Soo-jung datang ke kantor Jae-min. “Kau sudah datang? Masuklah! Sudah terbiasa dengan pekerjaanmu?”. “Sudah. Ada urusan apa kau mencariku?”. “Lee Soo-jung akhir-akhir ini sedang melakukan apa?”. “Soo-jung sekarang bekerja di biliard. Dan bekerja sampingan. Belakangan ini dia sangat sibuk”. Jae-min merasa prihatin. “Mohon tanya kau cari Soo-jung ada urusan apa?”. Tiba-tiba In-wook datang membawa laporan. Kakak Soo-jung langsung menyapanya dan berkata “Bukankah kau mau beradu teknik main dengan aku? Kabarnya kemarin kau ke sana”. Jae-min terlihat bingung mendengarnya. In-wook melihat reaksi Jae-min, menyerahkan laporan dan pergi dari sana. “Apa maksud perkataanmu tadi?”. “Pak Kang sekarang sedang berkencan dengan Soo-jung”. Jae-min kaget. “Dia sering pergi ke biliard tempat Soo-jung bekerja mencarinya”. Jae-min benar-benar tak percaya apa yang ia dengar (cemburu). “Pak Kang kelihatan agak arogan. Tapi masa kau tidak merasa dia setampan aku?”. “Kau keluar saja” kata Jaae-min kesal. Kakak In-wook bingung. “Aku suruh kau pergi kerja”. “Baik” kata kakak Soo-jung pergi setelahnya. Jae-min pusing, ia berfikir sejenak kemudian mengambil hpnya untuk menelpon Soo-jung tapi tak jadi takut ketahuan ayahnya kalau madih berhubungan dengan Soo-jung. Jae-min benar-benar pusing, tapi akkhirnya Jae-min memutuskan untuk menelpon Soo-jung tapi sayang hp Soo-jung tak dapat dihubungi. Jae-min pusing harus berbuat apa akhirnya ia memutuskan sesuatu dan pergi keluar dari kantornya.


Sebelum pergi ia melirik In-wook yang sedang bekerja, tapi kemudia dia tetap memutuskan pergi. Jae-min berpapasan dengan kakaknya. Kakaknya heran Jae-min sudah mau pulang kerja ia bertanya Jae-min mau pergi kemana. Tapi Jae-min tak peduli ia tetap pergi. Kakak Jae-min bingung dangan sikap Jae-min, ia lalu menyiapkan diri untuk berbicara dengan In-wook. “Sibuk tidak?”. In-wook berdiri akan memberi hormat. “Duduk..Pak Jung (Jae-min) mau kemana?”. “Aku tak tahu” jawab In-wook dingin. “Belakangan ini dia sangat serius bekerja bukan?”. “Ya”. “Proyek Balmoral itu...karena mau kau membantu Jae-min, aku menahan sakit memutasimu. Tak menyangka proyek itu tak bisa berjalan. Jadi aku harap kau bisa kembali menanganinya. Kau sudah mengerti?”. “Ya” kata In-wook sambil menunjukan sikap tak tertarik. “Berusahalah!”. In-wook melihat kakak Jae-min pergi dengan pandangan tajam.

Soo-jung sedang membersihkan tempat biliard. Tiba-tiba ada bunyi telepon, Soo-jung menerimanya ternyata itu dari In-wook. “hpmu kenapa tidak aktif? Rusak lagi?”. “Tidak”. “Makan malam bersama”. Tiba-tiba ada bunyi pintu terbuka, Soo-jung menoleh dan ternyata Jae-min datang kesana. Soo-jung kaget dan berbalik lagi. “Halo?”. “Ya”. “Aku bilang makan malam bersama”. “Baik”. “Tunggu aku, aku segera tiba”. Jae-min menunggu Soo-jung selesai telepon. “Halo...” Soo-jung ingin membatalkan karena takut In-wook bertemu Jaae-min di sana tapi telepon In-wook sudah putus. Soo-jung mengacuhkan keberadaan Jae-min dengan meneruskan bekerja. “Kenapa tidak menerima telepon?” Soo-jung diam tak menjawab. “Kau berkencan dengan Kang In-wook?” tanya Jae-min. Soo-jung tertawa mendengarnya. “Apa urusanmu?”. Jae-min ingin menjelaskan tapi tak jadi dan malah marah-marah. “Kenapa kau berpura-pura sok suci dan mengembalikan uang itu kepadaku? Begini membuatku serba sulit”. Soo-jung menoleh kearahJae-min. “Semua orang tahu. Ayah, ibuku, dan ibu Young-joo” teriak Jae-min. Soo-jung tertawa. “Asal kau menerima uang itu. Apa masih perlu bekerja di sini?”. “Jika kau bukan datang main bola, silakan pulang” kata Soo-jung dingin. Jae-min bingung. “Aku mau main!” teriak Jae-min. “Nona, berikan bolanya”. Jae-min menaruh jasnya dan memilih tongkat biliard. Soo-jung memberikan bola dengan kasar. “Nona” panggil Jae-min. Soo-jung menoleh kesal. “Beri aku minuman”. Soo-jung mengambil minuman dan meletakkan di meja kasar. Jae-min bengung harus bersikap bagaiman dengan Soo-jung.


In-wook datang ketempat biliard dan melihat Jae-min bermain biliard di sana. Soo-jung bingung. Jae-min kaget, tapi in-wook cuek saja dan mengampiri Soo-jung menanyakan jam berapa ia pulang. “Aku rasa segera”. Jae-min meneruskan permainan biliardnya. Ia melirik Soo-jung yang bersiap-siap pulang dan tak sengaja Soo-jung juga sedang memperhatikan Jae-min. Soo-jung langsung buang muka. In-wook melihat sikap Soo-jung terhadap Jae-min itu. Jae-min memandang kesal In-wook. petugas biliar pengganti Soo-jung telah datang. Soo-jung pergi bersama In-wook. In-wook menatap jae-min sebelum pergi. Jae-min kesal tak bisa berbuat apa-apa untuk mencegahnya.


Soo-jung dan In-wook pergi minum di warung pinggir jalan. “Apakah aku masih tak bisa melupakan Jung Jae-min?”. Soo-jung sedikit kaget. “Dia sudah menikah”. “Maksudmu perasaamu terhadapnya masih ada?”. “Bagaiman dengan kau? Apakah kau sudah tidak mencintai nona Choi Young-joo lagi?”. “Tak ada yang perlu kukenang lagi”. “Kalau begitu kenapa masih sering bertemu?”. In-woo ktertawa. “Seharusnya masih mencintai dia bukan? Karena itulah kau baru melamarku. Karena kesal terhadapnya”. In-wook tersenyum. “Apa kau beranggapan begini?”. “Dalam kondisi begini, aku Cuma bisa berpikir seperti ini. Orang seperti Kang In-wook malah melamar wanita sepertiku. Tak peduli siapa yang melihatnya akan bepikiran begini”. “Bagaiman aku menggambarkan wanita sepertimu?”. “Sangat mudah. Yaitu wanita seperti aku”. “Miskin dan yatim piatu. Seorang wanita kasihan”. Soo-jung tertawa dan melanjutkan perkataan In-wook “Ditambah pendidikan tidak tinggi dan tidak punya pekerjaan bagus. Karena itulah dia ingin memancing seorang pria kaya. Untuk balas dendam kepada semua manusia di muka bumi ini. Namun dia belum berhasil balas dendam. Bolak balik seperti tikus yang menyebrangi jalan. Seorang wanitaa sial”. “Karena itulah kau sama sekali tidak tahu sebenarnya kau sendiri sangat menarik?”. Soo-jung kaget mendengar perkataan In-wook.

Jae-min dirumah berpikiran tidak-tidak tentang hubungan Soo-jung dan In-wook. Jae-min jadi kesal, sedih dan cemburu karenanya.