Jumat, 18 Juni 2010

Personal Taste episode 7

Huwa.... terjemahannya semakin kacau.. sepertinya harus aq terjemahin bebas.. maaf ya kalo aneh...

Keesokan hari setelah kejadian ciuman, Kae-in jadi malu dan takut kalau Jin-ho ternyata tertarik juga sama wanita, ia terus bersembunyi di bawah selimutnya. Tapi saat Jin-ho mau berangkat kerja Kae-in buru-buru keluar dari kamar. “Kamu mau berangkat kerja?” tanya Kae-in. Jin-ho mengangguk ia berkata sepertinya tadi malam ia banyak minum hingga jadi mabuk dan tak tahu apa ia telah buat masalah. “Apa kamu tidak ingat apa-apa?” tanya Kae-in lagi. Jin-ho hanya diam seperti berusaha mengingat sesuatu. “Bahkan tidak ingat kalau kau berhutang padaku 50.000 won?” tanya Kae-in seperti tak percaya. Jin-ho langsung mengambil uang di dalam dompetnya. Kae-in langsung bilang tak perlu dan berkata kalau ia hanya bercanda. “Lagi pula tidak ada hal besar yang terjadi” kata Kae-in terlihat sedikit kecewa, ia lalu berbalik mau ke kamarnya lagi. “Jika aku melakukan hal-hal yang terlalu, tolong maafkan aku. Aku minum terlalu banyak semalam” kata Jin-ho tiba-tiba. Kae-in berbalik dengan wajah ceria, ia berkata kalau ia mengerti keadaan Jin-ho dan menyuruh Jin-ho pergi kerja saja. Kae-in masuk kamar, dan berkata pada dirinya sendiri “Ya, dia pasti salah menganggapku sebagai kekasihnya. Tapi tak peduli seberapa banyak minumnya mana bisa ia melakukan hal seperti itu”.





Jin-ho berangkat kerja. Dalam perjalanan ia teringat masa-masa bersama Kae-in. Ia tersenyum, ia mulai suka pada Kae-in (sepertinya ingat kejadian ciuman itu). Tapi begitu ia teringat perkataan Tae-hoon yang mengganggapnya jahat karena memanfaatkan Kae-in agar bisa tinggal di Sang Go-jae dan bisa memenangkan tander museum kali ini, Jin-ho langsung mencoba menghilangkan pikirannya tentang Kae-in.



Saat sampai dikantor Jin-ho menelepon biro jasa pengangkut barang. Sang-joon mendengarnya, ia tanya apa Jin-ho mau keluar dari Sang Go-jae. Jin-ho berkata kalau sudah tidak ada gunanya tinggal di Sang Go-jae lagi. Sang-joon mengerti, ia berkata kalau tinggal lebih lama di sana sepertinya malah akan membuat sedih Kae-in dan Jin-ho. Sang-joon lalu mencoba menghibur Jin-ho dengan membuat lelucon, tapi Jin-ho sama sekali tak tertarik. Sang-joon pergi dan berkata kalau Jin-ho sama sekali tak memiliki rasa humor, tapi Jin-ho malah tersenyum setelahnya.

Kae-in datang ke ruang kerja In-hae. In-hae memberikan sebuah amplop dengan kasar. Ia bilang isi amplop itu adalah uang yang bisa digunakan oleh Kae-in untuk biaya produksi pembuatan furniture museum. Setelah menjelaskan itu In-hae menatap Kae-in seperti menyuruhnya pergi. Kae-in berbalik segera mau pergi dari sana, tapi kemudian ia mendengar In-hae menelepon Jin-ho. Maendengar nama Jin-ho Kae-in jadi berhenti dan mendengarkan pembicaraan itu. In-hae berkata, ia menelepon karena ingin tahu bagaimana keadaan Jin-ho sekarang. Jin-ho di seberang berkata kalau ia tidak apa-apa, ia lalu mengajak In-hae pergi minum sebagai rasa terima kasih atas perhatiannya. In-hae menerimanya kemudian ia menutup telepon itu dengan senang. Kae-in langsung bertanya sebenarnya ada apa dengan Jin-ho kemarin. In-hae dengan dingin berkata bagaimana bisa Kae-in tidak tahu keadaan teman serumahnya. Kae-in hanya diam. In-hae lalu bercerita kalau kemarin perusahaan Meiseu membuat pengumuman pembatasan peserta proyek tender musem dan hal ini secara tak langsung menghalangi langkah perusahaan Jin-ho. Kae-in lalu ingat perkataan Jin-ho. “Tak peduli seberapa keras telah berusaha tapi tetap sia-sia saja” kata Jin-ho saat itu. Kae-in keluar kantor In-hae dalam keadaan lunglai, ia lalu mencoba menelepon Jin-ho tapi Jin-ho tak mau mengangkat teleponya.




Saat perjalanan pulang Kae-in melihat sebuah boneka di toko. Ia tertarik dan membelinya. Setelah sampai di rumah ia berkata pada boneka itu bahwa mulai sekarang rumahnya adalah rumah boneka itu juga. Dan ia menamai boneka itu Jin-ho. Kae-in lalu berusaha keras membuat makan malam. Jin-ho pulang dari kerja. Sebelum masuk ia memandangi plang nama Sang Go-jae dan berkata setelah hari sabtu nanti ia tak perlu tinggal di sana lagi.




Kae-in dan Jin-ho makan malam besama. Kae-in menghidangkan makanan buatannya dan berharap Jin-ho menyukainya karena ia telah berusaha keras. Jin-ho mengaduk-aduk makanan buatan Kae-in dan berkata kalau tampilan masakan itu tidak bagus. Kae-in berkata yang penting rasanya bukan tampilannya. Jin-ho tanya apa masakan itu buatan Kae-in sendiri. Kae-in mengiyakannya, ia berkata jika ia sedih atau sedang ada masalah ia akan membuat masakan karena dengan makanan fisiknya akan kembali kuat dan jadi semangat lagi. “Kemudian kamu makan lebih banyak dan jadi semangat kerja” kata Jin-ho dingin. Kae-in mengiyakannya ia berharap Jin-ho makan banyak kali ini. Jin-ho dengan dingin mengingatkan agar Kae-in hati-hati saat memasak agar jarinya tidak terkena pisau terus. Kae-in berkata tidak apa-apa karena jika ia terluka ada Jin-ho yang siap membantunya memberikan obat dan jika obatnya tidak ada Jin-ho akan membelikannya untuknya sehingga ia tidak perlu khawatir. “Apakah kamu pikir aku akan selamanya tinggal di sini?” kata Jin-ho dingin. Kae-in kaget ia berkata bagaimana Jin-ho bisa mengucapkan hal seperti itu dan pergi secara tiba-tiba. Jin-ho berkata bagaimanapun kelak ia kan pergi dari sana juga. Kae-in berkata ia tahu tapi mendengar Jin-ho berkata tiba-tiba seperti itu ia merasa aneh. Jin-ho berkata ia tidak akan segera pergi dari sana dan minta Kae-in tidak memikirkannya dan makan dengan tenang saja.




Setelah selesai makan tiba-tiba Kae-in datang ke kamar Jin-ho sambil membawa kantong kecil. Jin-ho tanya Kae-in ada apa tiba-tiba masuk kamarnya. Kae-in berkata kalau ia akan membuang sampah dan memerlukan bantuan Jin-ho untuk mengangkatnya. Jin-ho tak mau dan berkata kalau sampahnya hanya sedikit. Jin-ho berkata seperti itu sambil melirik kantung yang di bawa Kae-in tadi. Kae-in tak enak, ia lalu berkata sejujurnya bahwa ia ingin mengajak Jin-ho jalan-jalan setelah membuang sampah sehingga nantinya mood Jin-ho akan kembali lagi. Jin-ho tetap tak mau dan berkata kalau ia ada kerjaan. Kae-in bergumam sendiri, ia berkata kalau ia cuma ingin membantu Jin-ho. Kae-in lalu pergi keluar. Jin-ho tiba-tiba memanggil. Kae-in kaget, ia berbalik dan tanya ada apa. Jin-ho berkata kalau ia akan mengadakan final test untuk pelatihan jadi wanita Kae-in besok. Kae-in kaget, ia tanya test seperti apa yang akan diujikan. Jin-ho berkata kalau ia akan pura-pura jadi pacar Kae-in besok. Kae-in heran apa Jin-ho besok tak bekerja. Jin-ho berkata kalau ia akan bolos (Perusahaan sendiri gitu lho...). Kae-in mengerti, ia lalu berjanji bahwa ia akan berhasil melalui test itu dan Jin-ho akan terpana melihat perubahannya.

Kae-in keluar membuang sampah, ia kaget melihat Chang-ryul dalam keadaan mabuk duduk di depan pintu rumahnya. Chang-ryul juga kaget melihat Kae-in, ia berkata kalau ia akan segera pergi. Kae-in bertanya apa Chang-ryul sering diam-diam datang kerumahnya. Chang-ryul berkata kalau ia juga tidak tahu kenapa ia sering datang ke sana, ia berkata kalau ia tak berdaya dengan keadan yang menyakitkan yang ia alami. Ia sebenarnya satang untuk mencari teman bicara, tapi ia sadar Kae-in pasti tidak mau mendengarnya. Ia teringat Kae-in dulu selalu mengdeangranya dengan sungguh-sungguh. “Tapi kau menghianatiku. Aku mungkin sudah akan mendengarkan baik-baik jika itu tak tejadi” kata Kae-in. Ia lalu mau masuk kembali, Chang-ryul mencegahnya. Ia menangis dan menyebut ibunya. Kae-in jadi tidak enak ia tanya apa yang terjadi dengan ibunya. “Meninggalkah?” tanya Kae-in.




Kae-in lalu mendengarkan cerita Chang-ryul di depan pintu rumahnya. Chang-ryul bercerita ibunya cerai dengan ayahnya. Dan sekarang ibunya mau pergi ke afrika, ia takut tak akan bertemu lagi dengannya. “Afrika, tempat yang cukup jauh” kata Kae-in dingin. Chang-ryul bercerita lagi bahwa ibunya kemarin gagal datang ke acara pernikahannya dengan In-hae karena ayahnya. Sehingga sekarang ia ingin melihat anak dan menantunya sebelum pergi, dan ingin membuat makanan untuknya. “Bukankah hal seperti ini seharusnya kamu katakan pada In-hae” kata Kae-in masih dingin. “Kami telah perpisah. In-hae bilang aku jauh dari laki-laki yang ia bayangkan. Selama ini ia membayangkan Chang-ryul yang kau gambarkan sebagai pacarmu adalah laki-laki yang paling sempurna di dunia ini”.

Jin-ho keluar kamarnya. Ia heran kamar Kae-in sepi sekali. Ia lalu masuk memerikasanya. “Apa ia pergi jalan-jalan sendiri?” gumam Jin-ho.

“Ok, aku tahu ini akan sia-sia. Kau berhak marah. Aku bahkan ingin kau melakukan itu. Aku ini benar-benar bersalah. Park Kae-in aku menyesal. Tapi ketika aku menjadi anjing gila, hanya di depanmu anjng gila ini di panggil” kata Chang-ryul berusah membujuk Kae-in untuk bertemu ibunya. “Cih..Chang-ryul kau benar-benar orang gila” kata Jin-ho yang mendengar pembicaraan itu dari dalam. “Tapi, hubungan ibu dan aku. Ibu selalu membelaku saat aku dipukul ayah. Kae-in, aku tahu aku gila. Aku hanya bisa bergantung padamu sekarang” kata Chang-ryul sedih. “Benar-benar hebat. Bagaimana mungkin kau membiarkanku melakukan itu” kata Kae-in dingin. “Meski ia adalah ibu kandungku? Dia adalah ibu kandungku” kata Chang-ryul. Jin-ho mendengarkan dengan baik, ia ingin tahu bagaimana reaksi Kae-in. Kae-in kaget. “Ibu kandungmu, tapi kau bilang ibumu sudah meninggal” kata Kae-in prihatin. Jin-ho masuk kerumah setelah mendengarnya. Chang-ryul berkata kalau itu karena ibunya dan ayahnya marahan. Oleh karena itu ia ingin memberikan kenangan terakhir pada ibunya.




Jin-ho langsung mengambil minum di dapur, sepertinya ia kesal karena sikap Kae-in pada Chang-ryul tadi (cemburu???). Ia langsung ingin mau masuk kekamarnya begitu melihat Kae-in masuk, tapi Kae-in mencegahnya. Kae-in meminta Jin-ho membatalkan ujiannya besok dan mengganti harinya karena ia harus menjenguk temannya yang baru melahirkan. Jin-ho terlihat kesal ia tanya bukankah teman Kae-in hanya Young-soon dan In-hae. Kae-in menyangkalnya dan berkata kau ia juga punya teman lain. Jin-ho tak peduli dan masuk kekamarnya (Jin-ho kan tahu kalau Kae-in bohong... jadi kesal deh). Kae-in mencegah lagi, ia tanya apa Jin-ho marah karena ia minta ujiannya di tunda. Jin-ho berkata kenapa ia harus marah lagipula ini ujian untuk Kae-in bukan untuknya. Kae-in jadi tidak enak, ia berkata kalau ia dulu telah janji belajar sungguh-sungguh. Jin-ho dengan dingin berkata oleh karena itu ia mengadakan ujian terakhir untuk Kae-in tapi ia malah menyia-nyiakannya. Kae-in jadi kesal, ia tanya kenapa Jin-ho berubah jadi dingin kepadanya. Jin-ho juga kesal ia langsung masuk ke kamarnya.

Kae-in di dalam kamarnya bicara dengan sedih pada bonekanya yang dianggap Jin-ho. “Aku tahu karena pekerjaan kau bersikap begitu padaku. Tapi apa kau tahu betama marahnya dirimu? Kau tak marah? Seharunnya kau lebih jujur sedikit kalau kau tak punya teman. Dasar bodoh!”. Kae-in mendengar Jin-ho mau pergi. Ia segera keluar menemui Jin-ho.

“Jin-ho kau mau pergi?” tanya Kae-in. “Kenapa? Apa urusannya denganmu?” kata Jin-ho. “Maaf, tetang ujian itu dan telah membuatmu marah” kata Kae-in sedikit takut. Jin-ho jadi tidak enak mendengarnya. “Tapi kau akan memberiku satu kesempatan lagi bukan?” kata Kae-in berani. Jin-ho hanya diam. “Kau mau pergi kemana? Aku ikut ya!” kata Kae-in lagi.

Akhirnya Jin-ho dan Kae-in pergi jalan-jalan bersama naik mobil. Di dalam perjalanan Kae-in berteriak-triak keluar mobil, ia minta Jin-ho mengikutinya karena itu bagus untuk melepaskan kekesalannya. Jin-ho menganggap Kae-in gila dan tak mau menurutinya. Kae-in terus memaksa, Jin-ho akhirnya mau tapi teriakkan kecil. Kae-in menyuruh agar Jin-ho lepas agar teriakkannya keras. Jin-ho kembali tak mau. Kae-in menggelitik Jin-ho agar mau lagi. Jin-ho kesal ia bilang nanti bisa tabrakan jika Kae-in terus menggelitiknya. Kae-in senang Jin-ho kembali bersikap normal padanya, ia miinta Jin-ho mencoba berteriak lagi satu kali saja. Jin-ho akhirnya mau berteriak dan berhasil. Merek lalu berteriak bersama-sama.






Jin-ho dan Kae-in lalu berhenti di tepi sungai. Kae-in bertanya bagaimana perasaan Jin-ho sekarang apa sudah enakkan setelah teriak tadi. Ia lalu minta ujian akhirnya dilakukan sekarang saja. Jin-ho berkata kalau ia sedang tidak ingin membicarakan hal itu. Kae-in berkata kalau ia hanya minta beberapa menit saja dan ia yakin akan membuat Jin-ho terkesan dengan perubahannya. Jin-ho lalu bersikap serius “Park Kae-in”. “Ya” kata Kae-in bingung. “Kau tidak menyukaiku. Karena aku tidak bisa mencintaimu”. Kae-in semakin bingung “Baik. Itulah yang seharunya terjadi” kata Kae-in. Tiba-tiba Kae-in sadar “Ini ujiannya ya?” kata Kae-in. Jin-ho hanya diam. Kae-in senang dan menyuruh Jin-ho melanjutkan. “Oleh akrena itu, kau tahu hubungan kita sudah bertahun-tahun. Sekarang aku bertemu denganmu karena ingin mengatakan padamu bahwa kau tampak seperti pacarku sebelumnya. Aku sama sekali tidak bisa melupakannya. Aku akan selalu melihatnya di dalam dirimu. Aku akan selalu memintamu melakukan tindakan yang sama dengannya. Apa kau tidak masalah?”. “Apakah kau begitu mencintai perempuan itu?”. “Ya”. “Aku akan melakukannya. Karena aku mencintaimu. Jadi saya akan mencoba memenuhi permintaanmu”. Jin-ho langsung menarik tubuh Kae-in. “Hey! Apa yang kau bilang ini? Apa ini yang kau sebut berubah? Kau seperti orang tolol tidak ada perubahan dari sebelumnya” kata Jin-ho marah. “Aku tidak sengaja” kata Kae-in bingung. “Kau begtu mendesak” kata Kae-in lagi. “Ini yang disebut ujian akhir! Seharusnya kamu bisa melaluinya” kata Jin-ho marah lagi. Kae-in hanya diam, Jin-ho jadi tidak enak dan melepasakan tangannya dari tibuh Kae-in. “Lalu aku harus bagaimana?” tanya Kae-in. Jin-ho terlalu kesal sehingga tidak menjawabnya. “Cinta tak perlu harga diri” kata Kae-in beralasan. “Cinta tak meminta orang kehilangan harga dirinya. Tapi mengawal seseorang. Lakuakn ini! Jangan percaya, jangan cinta, tidak memaafkan” kata Jin-ho memberi saran. “Kau harus menjdai 10 juta kali lebih kuat dari sebelumnya” kata Jin-ho lagi. “Saya akan mencobanya” kata Kae-in. Dalam hati Jin-ho berkata “Kau seharunya tidak mendengarkan kata-kata Chang-ryul kalau kau ingin berubah”. “Bagaimanapun aku telah berusaha mengubahmu” kata Jin-ho tiba-tiba. “Kenapa? Apa kau tak percaya padaku?” kataKae-in. Jin-ho tak peduli ia masuk kedalam mobil. Kae-in mengejar ia berkata kalau ia bisa berubah dan minta Jin-ho percaya kepadanya. Jin-ho tetap tak peduli dan tetap masuk kedalam mobil.






Jin-ho mengantar Kae-in pulang dan dengan dingin menyuruhnya segera masuk. Kae-in dengan sedikit takut bertanya apa apa Jin-ho tidak ikut masuk dengannya. Jin-ho berkata kalau ia ingin pergi kesuatu tempat lagi. “Apa kau kan pulang lagi?” tanya Kae-in. “Aku tak tahu” kata Jin-ho dingin. Kae-in turun dengan sedih, dan Jin-ho tetap pergi. Jin-ho terlihat sangat pusing memikirkan Kae-in saat pergi jalan-jalan lagi. Ia lalu berhenti di pinggir jalan dan ia melihat sebuah toko bunga. Jin-ho kembali kerumah Kae-in, ia meletakkan setangkai bunga mawar di depan kamar Kae-in. Ia bergumam “Kau harus kuat”.




Pagi harinya Kae-in melihat bunga itu dan bingung melihatnya. Jin-ho keluar dari kamar mandi Kae-in langung tanya apa bunga itu dari Jin-ho. Jin-ho hanya berkata agar Kae-in ingat bahwa mawar itu berduri. Jin-ho lalu pergi, Kae-in semakin bingung tapi ia senang mendapat bunga dari Jin-ho.






Jin-ho berangkat ke kantor. Sang-joon memberi laporan bahwa proyek sekolah mereka berjalan lancar. Tiba-tiba In-hae menelepon Jin-ho. In-hae menelpon untuk memberitahukan bahwa Do-bin sekarang sedang ada di villanya. In-hae juga berkata kalau ia akan memberikan alamat villanya pada Jin-ho. Ia minta Jin-ho jangan menyerah. Jin-ho mengucapkan terima kasih untuk itu dan menutup telepon setelahnya. Sang-joon heran dengan hubungan Jin-ho dan In-hae. tapi ia senang karena In-hae memberikan informasi-informasi tetang perusahaan Meiseu. Sang-joon tiba-tiba mendapat telepon dari Young-soon. Sang-joon menjauh dan menjawabnya “Hallo, ya Eonni ada apa?”. Jin-ho mendengarnya heran “Eonni?”.


Sang-joon janjian bertemu Young-soon di suatu restoran. Sebelum masuk Sang-joon bergumam pada dirinya sendiri bahwa ia akan mengakhiri kebohongannya selama ini karena itu sudah tidak ada gunannya lagi. Tapi saat sudah bertemu Young-soon, Sang-joon susah mengatakan yang sebenarnya karena Young-soon begitu baik padanya. Sang-joon lalu berusaha bicara serius dan berkata kalau ia sebenarnya adalah orang yang sempurna. Young-soon kaget dan bertanya “Benarkah”. Tapi Sang-joon malah berkata “Tentu saja tidak benar, aku hanya bercanda”. Young-soon lalu lega, ia berkata kalau ia juga sebenarnya ingin mengaku sesuatu. Young-soon berkata sebenarnya ia malu menanyakannya, tapi Sang-joon menyuruhnya mengatakan saja. Young-soon lalu bertanya apa Sang-joon menyukai wanita seperti dirinya. Sang-joon kaget dan berkata kalau ia tidak suka wanita. Young-soon menjelasakan maksud sebenarnya. Ia tanya apakah ia masih memiliki pesona di mata orang-orang. Sang-joon tentu saja mengatakan bahwa Young-soon tentu masih mempunyai pesona itu. Young-soon tak percaya ia berkata kalau ia sudah lama tidak pergi ke pusat kecantikan. Sang-joo meyakinkan lagi hingga Young-soon percaya. Saat Young-soon ke toilet, Sang-joon bergumam bagaimana caranya menjelasakan yang sebenarnya kalau ia malah kecanduan berpura-pura menjadi gay.




Kae-in habis mandi saat ia melihat Jin-ho sudah pulang kerja. “Kau sudah pulang?” tanya Kae-in. “Kau sedang melakukan apa?” tanya Jin-ho balik saat melihat rambut Kae-in masih berhanduk. “Oh, ini. Bukankah aku sudah mengatakan kalau aku akan pergi menjenguk temanku yang baru saja melahirkan” kata Kae-in. “Benarkah?”. “Tentu saja benar, makanya aku menbersihkan rambutku takut anaknya akan mual” kata Kae-in. Jin-ho tak peduli dengan penjelasan Kae-in dan pergi masuk kamarnya. Kae-in menyesal karena ia telah berbohong pada Jin-ho.




Kae-in dan Chang-ryul pergi makan ke rumah ibu Chang-ryul. Ibu Chang-ryul yang menganggap Kae-in adalah In-hae terus-terusan memanggil Kae-in dengan nama In-hae. Kae-in kesal tapi tidak bisa menjelaskan yang sebenarnya, ia melampiaskan kekesalannya dengan memakan banyak makanan tanpa henti. Ibu Chang-ryul berkata kalau ia senang melihat “In-hae” makan banyak dan tidak pilih-pilih. Kae-in hanya diam dan makan terus. Chang-ryul berkata itu karena masakan ibunya enak jadi “In-hae” tidak mengontrol makannya. Lalu tiba-tiba nasi Kae-in habis, ibu Chang-ryul buru-buru berkata kalau ia akan mengambilkan nasi lagi untuknya. Saat ibunya pergi, Chang-ryul bertanya kenapa Kae-in makan seperti itu, tapi belum sempat Kae-in menjawabnya ibu Chang-ryul sudah datang. Ibu Chang-ryul berkata kalau ia senang melihat “In-hae” makan seperti itu dan minta agar setelah makan “In-hae” mau ngobrol dengannya membicarakan bagaimana dulu Chang-ryul mengajaknya menikah. Kae-in semakin kesal dan memasukan makanna dalam mulutnya tanapa henti. Saat Kae-in ke toilet, ia heran pada dirinya kenapa mau ada disana. Saat akan kembali ke meja makan Kae-in tidak sengaja mendengar pembicaraan Chang-ryul dengan ibunya. Chang-ryul berkata kalau ia kesal karena ayahnya ikut campur dalam proyek musem kali ini dengan menjagal Jin-ho ikut berpartisipasi. Ibu Chang-ryul melihat Kae-in dan memintanya bergabung. Ibu Chang-ryul memberikan “In-hae” sebuah bros. Kae-in menolak tapi ibu Chang-ryul langsung memasangkannya di baju Kae-in.




Chang-ryul mengantar Kae-in pulang, ia berterima kasih karena Kae-in mau menemaninya. Kae-in hanya diam dan mengembalikan bros dari ibu Chang-ryul. Chang-ryul berkata kalau bros itu sudah dikasihkan kepada Kae-in kenapa dikembalikan. Kae-in berkata dengan dingin agar bros itu diberikan kepada In-hae saja karena itu memang untuknya. Chang-ryul berkata In-hae pasti menolaknya karena tidak sesuai selerannya. Kae-in tak peduli ia beralasan kalau ia juga tak berhak memilikinya. Chang-ryul tetap memaksa agar Kae-in menerimya karena itu dari ibunya. Kae-in kesal ia berkata kalau ia sudah melakukan yang Chang-ryul mau jadi jangan memaksanya lagi. Kae-in turun dan langsung masuk rumah.


Jin-ho sedang keluar kamar saat ia melihat Kae-in pulang. Ia heran karena Kae-in langung masuk kamar mandi. Ia melihat Kae-in di dalam kamar mandi sedang muntah-muntah. Kae-in menyuruhnya pergi tapi Jin-ho malah membantunya. Setelah selesai Kae-in berterima kasih dan mencoba berbohong kenapa ia bisa seperti tadi. Jin-ho tak peduli dan menyuruh Kae-in pergi tidur saja. Kae-in lalu minta bantuan lagi karena ia merasa perutnya masih tidak enak. Jin-ho bertanya bantuan seperti apa. Kae-in berkata cukup mudah cuma menusuk jarinya dengan jarum. Jin-ho berkata kalau mudah lakukan sendiri saja. Kae-in berkata kalau melakukan sendiri ia bisa gugup. Jin-ho tetap menolak. Kae-in lalu terlihat kesakitan dan masuk kamar mandi lagi.




Jin-ho akhirnya mau membantu menusuk jari Kae-in. Setelah selesai Jin-ho langsung mau masuk kekamarnya, tapi Kae-in mencegah. Kae-in bertanya apa sebenarnya hubungan Jin-ho dengan ayah Chang-ryul, apa mereka sudah saling kenal. Jin-ho bertanya bagaimana Kae-in bisa tahu. Kae-in berbohong, ia berkata kalau ia hanya tiba-tiba berpikir apa Jin-ho sedang dipermainkan Chang-ryul. “Apa Chang-ryul yang mengatakannya?”. “Bukan. Aku cuma tiba-tiba memikirkannya” kata Kae-in. Jin-ho lalu mnejelaskan bahwa ayahnya dan ayah Chang-ryul dulu adalah rekan bisnis. Tapi kerena persaingan hak menajemn perusahaan ayahnya disingkarkan. Kae-in jadi tidak enak, ia berkata apa karena cuma hal itu keluarga Chnag-ryul jadi kejam padanya. Jin-ho berkata walaupun ia berusaha keras tapi usahanya tetap sia-sia. Kae-in lalu menyemangati dan berkata agar Jin-ho jangan menyerah karena trik-trik kotor yang dilakukan keluarga Chang-ryul untuk menjegal Jin-ho ber parrtisipasi dalam proyek museum. Jin-ho kaget ia bertanya dari mana Kae-in tahu masalah ini. Kae-in jadi gugup ia berbohong dengan mengatakan kalau ia mendengarnnya dari orang-orang museum. Jin-ho tahu kalau Kae-in bohong tapi ia diam saja dan menyuruh Kae-in tidur saja. Kae-in mencegah ia memberi semangat dan bercerita tentang makanan yang bisa memberikan energi. Jin-ho tersenyum mendengarnya.




Di dalam kamar setelah diberi semangat Kae-in, Jin-ho memberanikan diri mengirim sms pada Do-bin. Keesokan harinya Jin-ho pergi ke villa Do-bin. Do-bin senang melihat Jin-ho datang kesana. Jin-ho lalu menemani Do-bin memancing di tepi danau. Do-bin meminta Jin-ho untuk mancing bersamanya. Do-bin heran sejak datang Jin-ho tidak mengajaknya berbicara tentang proyek museum padahal ia tahu karena masalah proyek itu Jin-ho datang mencarinya. Jin-ho berkata kalau ia sekarang hanya ingin menjadi teman Do-bin saja. Do-bin heran, ia bertanya apa Jin-ho sedang melakukan pengakuan (tentang gay nya). Do-bin lalu berkata kalau ia juga akan melakukan pengakuan. Do-bin bercerita kalau dulu ia jatuh cinta dengan kakak kelasnya. Jin-ho berkata kalau ia juga. Do-bin bertanya bagaiman cerita cinta Jin-ho. Jin-ho tidak bercerita tapi ia berkata kalau ada banyak yang harus dilakukan sebelum jatuh cinta. Do-bin minta maaf kemudian ia bercerita tentang kisah cintanya, ia berkata kalau ia jatuh cinta karena sering ketemu di perpustakaan. Masa pacaran mereka sangat singkat karena mereka lalu harus putus. Jin-ho bertanya kenapa sampai putus. Do-bin berkata karena cintanya seperti racun, sehingga mereka harus putus. Ia bercerita kalau saputangan yang ia pinjamkan dulu pada Jin-ho adalah kenangan terakhir dari pacarnya. Jin-ho jadi heran kenapa hadiah begitu penting dipinjamkan kepadanya. Do-bin berkata kalau ia hanya ingin melakukannya saja dan mungkin karena ia ingin jadi teman Jin-ho. Jin-ho hanya diam dan tersenyum mendengranya. Do-bin memandang Jin-ho penuh arti (hayo..?).






Malam harinya bersama Kae-in, Jin-ho memandang bulan dilangit. Ia berkata kalau ia sekaranng tidak akan menyesal karena ia sudah melakukan apa yang ia bisa lakukan. Dan berkata kalau meliaht bulan dari teras Sang Go-jae sangat bagus. Kae-in berkata kalau selam ini ia tak menyadari hal itu. Jin-ho lalu memandangi wajah Kae-in dengan senang.




Pagi harinya Tae-hoon heran melihat Sang-joon memakai kaos kembaran yang ia berikan untuk Jin-ho. Sang-joon bertanya memangnya kenapa jika ia memakai kaos Jin-ho. Tae-hoon tidak terima, begitu Jin-ho datang ia langsung merajuk. Jin-ho dengan dingin berkata agar Tae-hoon melakukan hal yang berguna dari pada meributkan hal itu. Tae-hoon heran kenapa Jin-ho bersikap dingin kepadanya. Sang-joon juga heran tapi ia berkata itu karena Tae-hoon meributkan hal kecil. Tae-hoon tetap tak terima Sang-joon memakai pakaian Jin-ho, Sang-joon berkata kalau ia dan Jin-ho ada hubungan baik dan punya rahasia bersama.




Jin-ho di dalam kantornya melihat miniatur meja kursi pemberian Kae-in. Ia lalu teringat kejadian malam saat ia mencium Kae-in (Tu kan ingat...). “Apa yang aku lakukan akhir-akhir ini” gumam Jin-ho.




Di gedung Meiseu. Do-bin telah kembali kerja. Kae-in menemuinya dan bertanya kenapa kemarin ia tidak datang. Do-bin berkata agar Kae-in tidak usah khawatir dan fokus pada kerjaannya saja karena segala pekerjaan Kae-in adalah tanggungjawab Kae-in jadi tidak perlu tanya-tanyaDo-bin lagi. Kae-in bertanya apa karena masalah proyek museum maka Do-bin tidak datang kemarin. Do-bin tersenyum dan bertanya apa Kae-in juga khawatir tentang Jin-ho. Kae-in mengiyakan. Do-bin berkata kalau ia akan melakukan segalanya untuk proyek museum kali ini. Jika ia berhasil ia akan tinggal tapi jika tidak ia akan pergi dari sana. Kae-in jadi tidak enak. Do-bin berkata kalau ia datang sekarang juga ingin mengucapkan selamat tinggal sebelum nanti terlambat mengucapkannya. Do-bin pamit pergi. Tiba-tiba Kae-in berteriak “Tuan Choi Do-bin, semangat!!”. Kae-in lalu mau menelepon Jin-ho tapi tak jadi.




Ayah Chang-ryul dan Chang-ryul sedang berada di gedung Meiseu saat melihat Kae-in berlari keluar terburu-buru. Ayah Chang-ryul heran dan bertanya bukankah itu gadis yang ada di pernikahan Chang-ryul dulu. “Apa yang ia lakukan di sini?” kata ayah Chang-ryul. Chang-ryul sendiri hanya diam dan juga heran melihat Kae-in ada di sana. Ayah Chang-ryul meminta asisten Kim mencari tahu tentang gadis itu dan apa yang ia lakukan di gedung Meiseu.




Chang-ryul dan ayahnya ternyata datang untuk acara pengarahan tander museum lagi. Saat menunggu acara mulai, asistem Kim telah datang dengan informasinya tentang Kae-in. Ia memberitahu bahwa Park Kae-in adalah anak Prof. Park dan sekarang sedang ditugasakan untuk merancang ruang istirahat untuk anak-anak di museum itu. Ayah Chang-ryul kaget, ia tanya lagi siapa ayah Kae-in. “Prof. Park” kata asistem kim. Ayah Chang-ryul langsung memukul Chang-ryul dan marah-marah bagaimana bisa Chang-ryul menyia-nyiakan anak Prof. Park dan memilih gadi tak tahu diri (In-hae). Chang-ryul tak mengerti kenapa ayahnya tiba-tiba marah dan tanya memangnya Prof. Park itu siapa. Ayahnya tambah marah bagaimana Chang-ryul sampai tidak tahu siapa Prof. Park, ia lalu berkata kalau Prof. Park adalah seorang arsitek terkenal di Korea. Chang-ryul berkata siapa pun ayah Kae-in sudah tidak ada gunanya lagi. Chang-ryul pergi, ayahnya masih marah-marah tapi dihalangi asisten Kim.


Tae-hoon masih tidak suka Sang-joon memakai baju yang sama dengannya. Sang-joon berkata agar Tae-hoon tidak seperti anak kecil. Tae-hoon tak peduli, ia lalu mencoba melepasakan baju Sang-joon hingga bajunya ketumpahan kopi. Sang-joon marah, Tae-hoon tetap tak peduli dan terus mencoba membuka baju Sang-joon. Ia menggelitik Sang-joon agar mau membuka bajunya, Sang-joo tertawa geli. Kae-in datang kekantor Jin-ho dan heran melihat ulah Sang-joon dan Tae-hoon. Sang-joon melihat kae-in ia buru-buru melepaskan tangan Tae-hoon. “Kalian berdua?” kata Kae-in. Sang-joon buru-buru mendekati Kae-in mencoba menjelasakn kejadiannya. Tapi Kae-in keburu marah, ia marah karena Sang-joon mengkhianati Jin-ho. Agar Tae-hoon tidak tahu, Sang-joon buru-buru menutup mulut Kae-in dan menyeretnya ke ruang Jin-ho.




Di ruang Jin-ho, Kae-in terus marah pada Sang-joon. Jin-ho tanya sebenarnya ada apa. Sang-joon menjelasakan bahwa telah terjadi kesalahpahaman antara hubungannya dengan Tae-hoon. “Kau tahu hatiku hanya untukmu” kata Sang-joon merayu Jin-hoo. Jin-ho segera menjauhkan tangan Sang-joon. Sang-joon berkata kalau Jin-ho tidak usah malu di depan Kae-in. Jin-ho kesal dan menyuruh Sang-joon keluar. Kae-in berkata kalau ia marah karena Sang-joon mengkhianati Jin-ho, dan jika Sang-joon wanita ia tidak akan mengampuninya. Jin-ho lalu berbicara serius mau mengatakan sebenaranya. “Telah terjadi kesalahpahaman sejak awal tetang hubungan kami” kata Jin-ho. “Apa?” kata Kae-in bingung. Jin-ho diam sejenak dan berkata “Aku tidak gay”. Tapi tiba-tiba Sang-joon masuk lagi dan berkata kalau ia dan Tae-hoon tidak ada hubungan apa-apa. Jin-ho mengusir Sang-joon lagi. Kae-in tidak mendengar ucapan Jin-ho tadi, dan tiba-tiba ia ingat tujuannya datang kesana adalah untuk mengatakan kalau masalah proyek museum telah diselesaikan dengan lancar oleh Do-bin, jadi Jin-ho tak perlu khawatir lagi. Jin-ho tersenyum dan tanya “Jadi hanya untuk ini kau datang kesini”. Kae-in berkata kalau Do-bin telah berjudi dengan dirinya sendiri (membiarkan semua orang bersaing memenangi tander) jadi Jin-ho tak perlu kecil hati karena ia masih ada kesempatan. Jin-ho tersenyum lagi dan berkata bukankah bisa mengatakan itu ditelepon saja. Kae-in berkata kalau ingin melihat senyum Jin-ho secara langsung makanya datang kesana.





Chang-ryul dan asisten Kim sedang menunggu Kae-in di dalam mobil. Lalu mereka tiba-tiba melihat Kae-in kembali dengan Jin-ho. Asisten Kim memanasi dengan bertanya apa Jin-ho ada hubungan dengan Kae-in hingga datang bersama. Chang-ryul berkata kalau semua itu karenanya sehingga sekarang Kae-in mau balas dendam kepadanya. Tiba-tiba mobil Chang-ryul di ketuk seorang bule. Ternyata bule itu adalah teman lama Chang-ryul. Mereka lalu ngobrol di sebuah restoran. Chang-ryul tanya temannya yang bernama Joy itu sedang ada urusan apa di Korea. Temannya bilang ia ada perlu dengan teman wanitanya yang kerja dengan Do-bin. Chang-ryul heran Joy kenal dengan Do-bin. Joy berkata kalau ia dulu satu sekolah dengan Do-bin tapi ia tidak akrab, karena Do-bin berbeda dengannya. Chang-ryul makin penasana ia tanya apa masudnya beda dengannya. Joy berkata kalau Do-bin punya kesenangan tertentu. Chang-ryul tidak mengerti ia terus memaksa Joy menjelaskannya.




Sementara itu Jin-ho datang ke gedung Meiseu untuk mengembalikan saputangan yang ia pinjam dulu. Jin-ho juga berkata kalau ia mendengar dari Kae-in kalau Do-bin mempertaruhkan semuannya demi proyek museum kali ini. Jin-ho sangat berterima kasih karenannya. Do-bin berkata apa Jin-ho tahu kalu ia melakukan ini karena ia senang dengan Jin-ho. Jin-ho berkata kalau ia juga senang dengan Do-bin (senang jadi teman maksudnya). “Apakah kau tahu akau mencintai kalian semua”. “Saya tahu”. “Benarkah?”. “Ya. Anda adalah orang yang berkaharisma”. Do-bin diam sejenak mau menjelasakn maksudnya. Di tempat lain akhirnya Joy menjelasakan kalau Do-bin adalah gay. Chang-ryul kaget mendenagrnya. Di tempat lain Jin-ho pun kaget mendengar kalau Do-bin menyukainya. “Maaf, apa maksud anda sebenarnya” kata Jin-ho kaget. “Seperti yang anda telah dengar. Sejak pertama kali bertemu dengan anda hatiku sudah bergetar. Dan saat hari itu aku mndengar kalau anda juga gay. Saya semakin yakin dengan perasaan saya. Oleh karena itu sekarang saya memberanikan diri memintamu untuk melakukan hubungan khusus itu dengan saya”. Jin-ho masih kaget, Do-bin berkata agar Jin-ho memikirkannya dulu karena ia tidak ingin mendengar jawabannya sekarang. Do-bin berkata karena orang itu adalah Jin-ho makanya ia memiliki keberanian untuk mengaku. Jin-ho sebenarnya mau langsung menolaknya tapi ia tidak tega melihat pandangan Do-bin kepadanya.






Jin-ho keluar dari ruang Do-bin dengan ling-lung. Tiba – tiba ia bertemu dengan Chang-ryul. Ia langsung mengelak tapi Chang-ryul mencegah. Chang-ryul berkata cepat atau lambat Jin-ho pasti kalah darinya. Ia juga tanya apa yang dilakukan Jin-ho di sana. Ia menyindir apa Jin-ho sedang melakukan pendekatan dengan Do-bin. Jin-ho berkata kalau ia tidak akan melakukan hal –hal belakang seperti Chang-ryul. Jin-ho pergi, tapi Chang-ryul terus mendesak dan berkata kalau Jin-ho berpura-pura mendekati Do-bin karean ia tahu tahu kalau Do-bin itu gay. Jin-ho tak tahan ia berbalik dan memukul Chang-ryul. “Apa yang kau lakukan. Apa ini adalah sebuah pengakuan? Saya sangat kecewa ternyata kau menggunkan kelemahan Do-bin untuk memenangkan tander ini” kata Chang-ryul. “Aku belum memanfaatkan Do-bin” kata Jin-ho dingin. “Apa itu? apa kalian berdua disini ada hubungan? Jika tidak kenapa kau ada disini. Semua orang juga tahu. Menjengkelkan saja!” kata Chang-ryul. Tiba-tiba Jin-ho melihat Do-bin berdiri dibelakang Chang-ryul sedang memperhatikan mereka. “Jawablah, kau benar-benar memanfaatkan Do-bin bukan?” kata Chang-ryul memaksa. Jin-ho jadi tidak enak menjawabnya karana Do-bin ada di sana. “Atau kau juga adalah gay?” kata Chang-ryul lagi. Di sisi lain Kae-in ternyata juga sedang melihat mereka. “Balaslah?” kata Chang-ryul lagi. Jin-ho mau menjawab. Semua orang mnunggu jawaban Jin-ho. “Aku.. aku adalah gay” kata Jin-ho akhirnya. Kae-in kaget mendengarnya, Jin-ho menoleh ke samping dan kaget melihat Kae-in ada di sana, ia lalu terlihat lemah dan hanya menunduk kebawah saja. Kae-in terlihat sedih. Chang-ryul terus mengejeknya “Ternyata kau aslinya begitu kah? Jadi kau bukan orang kah? Jika orangtua tahu pasti akan lebih menyakitkan. Seharusnya kau mengatakan kepada semua orang. Hari ini saya akan pura-pura simpati padamu. Kau benar-benar menyedihkan”.






Do-bin tak terima dan mau membela Jin-ho tapi keduluan oleh Kae-in. “Hentikan. kenapa kau mentertawakan orang begitu?” kata Kae-in. “Park Kae-in” kata Chang-ryul kaget meliaht Kae-in ada di sana. “Apakah kau lebih baik hingga memandang rendah orang seperti ini. Jin-ho pun tidak ingin dilahirkan seperti ini” kata Kae-in lagi. “Jangan katakan itu lagi” pinta Jin-ho pelan”. Melihat sudah ada Kae-in, Do-bin pergi dari sana. “Apa laki-laki yang mencintai wanita baru disebut laki-laki? Lalu apa kau disebut laki-laki jika kau menyakitiku?” kata Kae-in marah. “Tolong jangan katakan itu lagi” teriak Jin-ho. Jin-ho lalu pergi dari sana. Kae-in mau mengejar tapi di tahan oleh Chang-ryul. Kae-in menghempaskan tangan Chang-ryul dan mengejar Jin-ho lagi.





“Jin-ho. Ayo kita bicara?” kata Kae-in. “Bicara apa? Tak ada lagi yang perlu dibicarakan” kata Jin-ho dingin. Ia kemudian pergi dengan mobilnya. Kae-in kembali ke dalam gedung. Chang-ryul menghampirinya tapi Kae-in menghindar. Chang-ryul mencegah Kae-in pergi. “Apa kau ada hubungan dengan pria itu akhir-akhir ini? Mengapa kau bersama-sama orang kotor seperti itu terus” kata Chang-ryul. Kae-in kaget ia memandang Chang-ryul. “Apakah kau sekarang cinta dengan laki-laki gay?” kata Chang-ryul lagi. Kae-in tak tahan lagi ia langsung menampar Chang-ryul. Dan hal ini tak sengaja di lihat oleh In-hae. Chang-ryul dan In-hae kaget melihat reaksi Kae-in seperti itu. “Kotor? Apa kotor? Jin-ho mengapa dia kotor? Sesama laki-laki atau sesama perempuan apa salahnya? Orang yang suka orang lain apa salahnya? Kau sama sekali tak berhak. Kau atas dasar apa mengatai Jin-ho kotor?” kata Kae-in marah. “Kae-in kenapa kau begini? Saat kita putus dan ketika pernikahanku. Kau tidak memukiliku. Tapi kenapa kau melakukannya sekarang?”. “Itu.. itu karena dulu aku adalah wanita bodoh. Tapi sekarang Jin-ho telah mengubahku” kata Kae-in tegas. Jin-ho sediri sedang mengendari mobil dengan gila-gilaan mengebut dan menyalip mobil-mobil yang ada di jalanan.



Rabu, 16 Juni 2010

OST. BAD GUY

Barusan liat-liat utube ternyata ost-bad gay nya oppa KNG dah banyak...
trus kepingin posting deh... ini nih hasilnya liak-liaknya:

1. Thornflower (가시꽃) /Jung Yeop

thx to DeletedMVs

2. Where

thx to RemiPar

3. Where. 美 (Mi)_어디에 (Piano Ver.)

thx to michellehoneyatienza

4. Don't Laugh Don't Cry by 4men & Jang Hye Jin

thx to RemiPar

Senin, 14 Juni 2010

Personal Taste episode 6

Setelah Hye-mi menyiram muka Kae-in, Jin-ho langsung marah dan menyeret Hye-mi keluar. Sang-joon menolong Kae-in membersihkan mukanya saat In-hae datang dan menyindir Kae-in. Ayah Chang-ryul terlihat senang Jin-ho membuta ulah di pesta itu. Tapi Chang-ryul terlihat sebaliknya, ia merasa prihatin dengan nasib Kae-in.

Kae-in membersihkan dirinya di toilet. Ia kesal karena Jin-ho memberi harapan pada Hye-mi padahal ia tidak mungkin jatuh cinta pada Hye-mi karena ia gay. Tiba-tiba perut Kae-in terasa sakit.


Di luar Hye-mi terus menangis karena dimarahi Jin-ho hingga maskaranya luntur. Tae-hoon dan Sang-joon berusaha menenangkan Hye-mi tapi tak berhasil. Jin-ho masih kesal ia bertanya sebenarnya Hye-mi datang kesana untuk apa. Hye-mi tidak menjawab ia malah balik tanya Jin-ho dan Kae-in ad hubungan apa sebenarnya hingga Kae-in bisa diajak ke pesta itu. Jin-ho menjelaskaan ia tak ad hubungan apa-apa dengan Kae-in, ia minta Hye-mi pergi daru sana saja. Hye-mi tak percaya dengan penjelasaan itu. Jin-ho menyuruh Tae-hoon mengantar Hye-mi pulang. Hye-mi menolak sehingga harus di gendong paksa masuk mobil agar mau pergi.


Jin-ho dan Sang-joon kembali ke pesta. Sang-joon menyuruh Jin-ho melayani tamu dan ia akan mencari Kae-in di luar. Jin-ho mencari kae-in di keramain pesta tapi tak menemukannya. Ia malah bertemu dengan Chang-ryul. Chang-ryul memarahi Jin-ho karena membiarkan Kae-in menerima perlakuan seperti tadi. Jin-ho menyindir apa Chang-ryul sekarang mulai perhatian pada Kae-in. Chang-ryul kaget. “Saya dengar kamu mengadakan pernikan dengan temannya. Sepertinya itu bukan gosip” kata Jin-ho menyindir lagi sebelum pergi meninggalkan Chang-ryul. Saat mencari Kae-in lagi Jin-ho berpapasan dengan In-hae. In-hae menyindir bahwa bukan hanya dia yang merasa kalau Jin-ho adalah laki-laki sesungguhnya. Jin-ho hanya bisa diam, In-hae kemudian pergi karena ia dipanggil Do-bin.


Jin-ho kesal karena tidak menemukan Kae-in. Tiba-tiba Kae-in telepon. Jin-ho langsung menanyakan keberadaan Kae-in sekarang. Kae-in menjelaskan keberadaannya dan Jin-ho pergi menuju tempat itu yang ternyata adalah Toilet perempuan. Jin-ho menunggu diluar dan menyuruh Kae-in segera keluar. “Itu, harus ad sebuah barang baru bisa keluar. Yang memakai sayap itu” kata Kae-in. “Itu? sayap? Sayap apa? Sayap kenapa?” kata Jin-ho tak mengerti. “Itu. hari ini harusnya hari iru” kata kae-in tidak enak menjelaskan. “Hari itu? hari ini? Hari apakah?” kata Jin-ho masih tak mengerti.

Setelah mengerti Jin-ho segera lari keminimarket. “Dia sebenarnya mau menyiksa aku jadi apa?” kata Jin-ho kesal. Setelah sampai mini market Jin-ho langsung menuju tempat bagian pembalut wanita tapi di sana ada beberapa anak abg yang terpesona dengan ketampanan Jin-ho. Jin-ho jadi malu, ia lalu pura-pura mengambil pisau cukur sebelum akhirnya diam-diam mengambil pembalut itu. Para anak abg melihatanya, mereka jadi tambah terpesona, mereka berkata betapa beruntung pacar laki-laki itu karena ia rela malu membelikan pembalut untuknya. Saat jin-ho sudah keluar dari minimarket mereka masih menyoraki Jin-ho hingga membuatanya tidak enak.



Jin-ho kembali ke pesta. Ia diam-diam masuk toilet untuk memberikan pesanan Kae-in. “Park Kae-in” kata Jin-ho mencari Kae-in di toilet. “Jin-ho, saya ada di sini” kata Kae-in senang. “Ini gimana berikannya, dari atas atau bawah”. “Bawah” kata Kae-in menjulurkan tanganya dari bawah. Jin-ho memberikan bungkusannya. “Kenapa kamu begitu lama. Kaki saya sudah pegal dan tak tahan lagi” kata Kae-in masih ngedumel. “Begitu menderita kah?”. “Tapi pisau cukur ini untuk apa?” kata Kae-in heran. “Buat cukur bulu kaki kamu”. Kae-in tetap heran “Tapi terimakasih banyak”. “Saya keluar” kata Jin-ho. “Saya juga segera keluar” kata kae-in. “Terserah mau keluar cepat atau lama” kata Jin-ho kesal.

Kae-in keluar dari toilet. Jin-ho memarahi Kae-in, kenapa ia samapai tidak siap kalau tahu sudah harinya. Kae-in mengalihkan pembicaraan agar tidak terus dimarahi. “Jin-ho kamu ada kantong kah? Bantu saya simpa ini di dalam kantong kamu!” kata Kae-in meminta Jin-ho menyimpan sisa pembalut yang dibeli tadi. “Kamu sedang lakukan apa? Kamu mau saya simpan satu-satu ini dalam kantung saya!” kata Jin-ho kesal. “Itu, karena saya tidak ada kantung makanya minta kamu”. “Kamu mau saya bagaimana?” kata Jin-ho kesal. “Simpan beberapa gak papa kok”. “Kamu sudah gila ya. Saya bantu kamu buang saja” kata Jin-ho kesal. “Kenapa di buang?”. “Saya pergi buangkan saja” kata Jin-ho sambil menarik bungkusan. “Jangan buang” kata Kae-in mencegah tapi Jin-ho keburu pergi. “Kamu harus buang yang baik” kata Kae-in akhirnya.

Kae-in sedang menunggu Jin-ho kembali saat Chang-ryul datang. Chang-ryul bertanya kenapa kae-in bisa datang dengan Jin-ho. Ia berpikir Kae-in hanya ingin membuatnya kesal karena ia tahu Chang-ryul dan Jin-ho bermusuhan. “Jangan geer” kata Kae-in. “Kamu, bagiku sudah bukan orang yang penting lagi” Lanjut Kae-in. Chang-ryul tak percaya Kae-in berkata seperti itu, ia merasa sangat memahami Kae-in dan ia merasa Kae-in tak mungkin melakukan itu. Ia minta Kae-in tidak usah pura-pura mengikuti apa yang ia lakukan karena ia tahu Kae-in tidak akan mudah melupakan orang yang ia cintai. Jin-ho telah kembali dan mendengar perkataan Chang-ryul tadi. Ia berhenti ingin melihat reaksi Kae-in bagaimana. “Tanpa kamu, saya tetap akan hidup baik-baik. Jangan mengira saya masih menderita karena kelakuanmu pada saya” kata Kae-in. Chang-ryul masih tak percaya dan menyakinkan Kae-in dengan memegang bahu Kae-in dan berkata Kae-in pasti tidak bisa melupakannya jadi tidak usah pura-pura. “Han Chang-ryul” teriak Jin-ho. Kae-in dan Chang-ryul menoleh. Jin-ho mendekat dan menjauhkan Chang-ryul dari Kae-in. “Saya beritahu kamu, jangan melihat dia begitu lagi” kata Jin-ho memepringatkan. “Kamu jangan ikut campur. Ini adalah urusan kita berdua”. “Tidak perlu, kamu dan wanita ini tdak ada hubungan apa-apa. Benar kan Kae-in?”. Kae-in hanya diam, Jin-ho lalu menarik tangan Kae-in pergi. Chang-ryul kesal melihatnya tpi tak dapat mencegahnya.




Di luar Kae-in berterima kasih karen Jin-ho mau menyamar sebagai teman lelakinya. Ia berkata ia lebih seanng seperti tadi dari pada menampar Chang-ryul. Mereka lalu sadar melihat kedua tangan mereka yang terus bergandengan. Jin-ho langsung melepasakan tangannya. Keadaan jadi canggung. Jin-ho lalu bilang sebagai teman semua bisa ia lakukan. Kae-in tersenyum. Mereka lalu masuk ke acara pesta lagi.

Di pesta ketua Choi memberi sambutan. Ia berkata setiap orang membangun rumah. Rumah merupakan tempat mereka makan, tidur, melahirkan anak, mengasuh anak dan membangun mimpi. Ia ingin museum yang akan dibuat nanti menjadi tempat yang dapat menciptakan mimpi itu. semua orang senang memberi tepuk tangan atas sambutan itu. Tapi Kae-in malah terlihat sedih. Jin-ho bertnaya ada apa. Kae-in berkata kalau ucapan Do-bin tadi seperti ucapan ayahnya yang ditulis dalam sekripsinya. Yakni istri dan anak perempuan saya bisa memiliki dunia kecil impiannya. Kae-in merasa bersalah kepada ayahnya karena ia bukanlah anak yang yang dapat dibanggakan di mata ayahnya. Jin-ho jadi merasa kasihan melihat Kae-in seperti itu.


Di rumah Jin-ho memperhatikan Sang Go-jae dan teringat perkataan Do-bin dan Kae-in tadi “dunia kecil impian” gumam Jin-ho sendiri. Tiba-tiba ia melihat Kae-in keluar toilet dengan memgang perutnya. Kae-in sibuk menceri obat penahan sakit. “Kau sedang apa? Tidak tidur kah?” tanya Jin-ho. “Saya tidak dapat menemukan obat penahan sakit” kata Kae-in. “Kamu mencari obat penahan sakit buat apa? Kamu sakit kepala?”. “Tidak, itu sedang sakit haid”. “Kenapa waktu pulang tidak mampir ke toko obat”. “Waktu pulang pasti sudah tutup, lagi pula aku kira masih ada di rumah”. “Sangat sakitkah?” kata Jin-ho sambil mendekati Kae-in. “Mau pergi kerumah sakit?”. “Mana ada orang kerumah sakit hanya karena sakit haid” kata Kae-in. “Kalau begitu kenapa kau seperti itu”. “Sekarang hanya bisa bertahan saja” kata Kae-in sambil bangkit menuju kamarnya. “Mau saya bantu apakah?”. “Tidak usah, tidak apa-apa” kata Kae-in.
Jin-ho masih khawatir ia lalu mencari tahu di internet bagaimana cara menghilngakan sakit haid. Setelah tahu Jin-ho membuat minuman untuk Kae-in. Jin-ho membawa minuman itu kekamar Kae-in. Kae-in bertanya itu minuman apa. Kae-in terlihat kesakitan. Jin-ho khawatir. “Apa begitu sakitkah? Hingga kamu tak dapat bicara seperti itu”. “Saya memang kesakitan”. “Ini teh liang, bisa melemaskan tubuh. Kau coba minum saja” kata Jin-ho. Kae-in akhirnya meminumnya, ia berkata kalau ia senag karena masih ad teman yang menemaninya sakit haid. Jin-ho menyuruh Kae-in tidur saja.

Beberapa waktu setelahnya Jin-ho kebali ke kamar Kae-in. Ia heran lampu kamar kae-in masih menyala. “Belum tidurkah?” tanya Jin-ho sambil membuka pintu kamar Kae-in. Tapi Kae-in masih terlihat kesakitan. “Minum teh pun tak ada gunanya”. “Besok pagi pergi ke toko obat sudah bisa kok. Kamu pergi tidur saja. Jangan karena saya besok kamu telat ke kantornya”. “Besok hari minggu”. “Benarkah” kata Kae-in sambil menahan sakit. Jin-ho semakin khawatir, akhirnya ia putuskan untuk pergi ke rumahnya. “Benaran, kenapa dia setiap hari selalu bikin ulah” kata Jin-ho sedikit kesal.


Di rumah Jin-ho, ibu Jin-ho sedang menenangkan Hye-mi yang terus menangis sejak pulang pesta tadi. “Kakak Jin-ho kenapa bisa membawaa wanita lain pergi kepesta” kata Hye-mi sedih. “Mungkin benar hanya teman biasa. Kalau ada teman yang ia sukai pasti sudah bawa kesini ketemu saya” kata Ibu Jin-ho. Lalu Jin-ho datang. “Lihat kan Jin-ho sudah datang. Ia pasti datang untuk menghiburmu” kata ibu Jin-ho. Hye-mi langsung senang dan mendekati Jin-ho. Ibu Jin-ho memarahi Jin-ho karena membawa wanita lain ke pesta. Jin-ho beralsan karena kerja makanya membawa orang lain. Hye-mi senang mendengarnya. Jin-ho lalu menanyakan ibunya memiliki obat penahan sakit atau tidak karena ia sedikit sakit kepala. Hye-mi berkata Jin-ho tak perlu sakit karena memikirkannya, ia tidak akn menangis lagi karena kejadian tadi.


Jin-ho segera kembali ke rumah Kae-in dengan membawa obat penahan sakit. Ia masuk kekamar Kae-in dan melihat Kae-in tidur di lantai. “Kamu kenapa tidur disitu?” . “Saya melihat di sini lebih nyaman” kata Kae-in. “Bangun, minum obat ini”. “Obat? Waktu begini mana ada yang jual obat”. “Saya pulang kerumah”. “Rumah? Kamu masih ad rumah? Lalu kenapa masih tinggal didini?”. “Karena rumah saya jauh dari kantor” kata Jin-ho berbohong. “Seberapa jauh? Kalau begitu kamu kembali pulang ke rumah karena saya kah?” kata kae-in terharu. “Sudahlah, cepat minum obatnya”. Belum selesai bicara Kae-in sudah memeluknya. “Saya mencintaimu, saya mencitaimu, teman” kata Kae-in. Jin-ho kaget mendengarnya ia segera melepaskan pelukkan Kae-in. “Kamu cepat minum obatnya dan tidur lagi” kata Jin-ho dingin dan segera mau pergi dari sana. “Tunggu” kata Kae-in mencegah sambil menarik tangan Jin-ho. “itu.. teman, bisa bantu saya satu hal lagi tidak?” kata Kae-in memelas.



Ternyata Kae-in meminta jin-ho mengelus-elus perutnya. “Saya sedang melakukan apakah?” kata Jin-ho kesal sambil mengelus-elus perut kae-in. Kae-in berkata dulu jika ia sakit seperti itu In-hae yang mengelus-elus perusnya. “Tangan ibu adalah obat tangan, perut bayiku adalah perut kecil” kata Kae-in mengingat kenangan bersama In-hae. Kae-in jadi sedih dan berkata seharusnya ia membenci In-hae karena kejadian itu, tapi ia tidak bisa. “Tangan ayah adalah tangan obat, perut bayi saya adalah perut kecil” Kata Jin-ho mengallihkan pembicaraan. Kae-in tersenyum sedih mendengarnya dan berkata terima kasih karena ayahnya sekalipun pun tak pernah melakukan itu padanya. Jin-ho jadi tak enak. “Jin-ho kamu seperti teman dan ayah bagiku” kata Kae-in lagi ambil menghapus air matanya. Jin-ho memegang bahu Kae-in dan menepuk-nepuknya hingga Kae-in tidur.


Pagi harinya Young-soon datang ke rumah Kae-in dengan anaknya. Ia heran kenapa rumah masih sepi, ia lalu mencoba kekamar Kae-in untuk membangunkannya. Tapi begitu membuka kamar Kae-in ia kaget dan refleks menutup mata anaknya. Ternyata Jin-ho ketiduran di kamar Kae-in. Anak Young-soon bertanya “Mama, bibi Kae-in sudah menikahkah?”. “Bukan begitu” keta Young-soon. Young-soon mencoba membagunkan Kae-in. Tapi malah Jin-ho yang terbangun. Jin-ho kaget melihat ia tidur di kamar Kae-in dan melihat Young-soon disana. Young-soon jadi tidak enak karena membangunkannya.



Jin-ho pergi kekamar mandi, anak Young-soon mengikuti. Ia bertanya “Paman, anda dengan bibi Kae-in kapan menikahnya?”. “Bukan seperti yang kamu pikirikan”. “Kalau begitu kenapa paman tidur dengan bibi Kae-in”. Jin-ho jadi kesal ia menyuruh anak Young-soon pergi menemui ibunya saja (Cek..cek.. anak kecil aja bisa bicara seperti itu).


Di tempat lain Young-soon menasehati Kaein. Ia berkata walaupun Jin-ho gay Kae-in tak seharusnya tidur dengannya. Kae-in beralasan Jin-ho telah baik membantunya mengelus perutnya yang sakit haid tadi malam. Young-soon lalu tanya saat tidur dengan Jin-ho ada kejadian apa. Kae-in berkata tidur dengan Jin-ho sangat enak seperti ia tidur dengan ayahnya. Young-soon berkata kalau ia cemburu mendengranya. Kae-in mengingatkan agar Young-soon jangan berpikiran macam-macam. Ia lalu tanya apa yang membuat Young-soon datang kerumahnya. “Jin-ho” teriak Young-soon ingat sesuatu.

Young-soon memohon-mohon agar Jin-ho mau menjadi modelnya. Jin-ho minta maaf karena benar-benar tidak bisa membantu. Young-soon lalu jatuh ke lantai ia perpura-pura sedih dan berkata kalau ia sebenarnya menjadi tulang punggung keluarganya karena uang suaminya tak cukup. Ia harus menanggung biaya hidup ibu mertua, ibu, nenek dan seorang adik lelakinya. Young-soon berkata kalau Jin-ho tak percaya bisa tanya Kae-in. Kae-in yang dari tadi hanya diam, akhirnya ikut berbohong juga. Anak Young-soon pun ikut-ikutan. “Ibu kenapa kau sedih”. “Ibu tidak akan sedih jika paman ini membantu ibu sedikit”. “Aku benci paman!” kata anak Young-soon. Jin-ho tak percaya jadi seperti ini, ia akhirnya setuju membantu.


Mereka lalu pergi ke sebuah danau. Karena konsepnya keluarga bahagia yang sedang libur. Young-soon meminta Jin-ho dan Kae-in berlaku mesra dan menjadi orang tua anaknya. Tapi Jin-ho masih terlihat kaku. Young-soon lalu menyuruh Jin-ho membayangkan Kae-in seperti Sang-joo saja. Kae-in mengangguk-angguk, Tentu saja Jin-ho masih tak bisa. Mereka lalu pindah lokasi ke studio melakukan pemotretan dengan beberapa furniture rancangan Kae-in. Young-soon meminta Jin-ho dan anaknya mencium pipi Kae-in. Jin-ho kaget dan tak mau, Kae-in berkata ia akan mentraktir Jin-ho jika furniturenya nanti laku. Jin-ho akhirnya mau tak mau melakukannya. Adegan berganti kini Kae-in dan anak Young-soon yang harus mencium Jin-ho. Jin-ho tak mau, tapi Kae-in memaksa. Jin-ho kaget saat Kae-in menciumnya tanpa ragu. Keadaan jadi sungkan Kae-in meminta pemotretan selesai saja.




Pulang pemotretan Kae-in dan Jin-ho terlihat lelah. Tapi Kae-in berkata mereka tak perlu cemas makanan lagi hari ini karena Young-soon membekali mereka makanan. Kae-in berkata selama sepuluh tahun ia berteman dengan Young-soon baru kali ini Young-soon memberinya makanan begitu banyak. Kae-in membuka bungkusan makanan, dan terlihat senang karena makanannya enak-enak. Ia lalu mau menyuapi Jin-ho. Tapi Jin-ho tak mau, ia tanya Kae-in sudah cuci tangan belum. Kae-in berkata kalau tangannya masih bersih, akhirnya Jin-ho mau disuapin Kae-in. “Enak kan?”. “Iya”. Jin-ho lalu tanya apa kaein tidak mencuci baju hari ini. Kae-in berkata ia sudah 2 hari tidak mencuci, dan menyuruh Jin-ho pergi mencuci saja. Jin-ho pergi. Tiba-tiba Kae-in bertanya kenapa Jin-ho bisa tiap hari mencuci apa karena minatnya tidak sama seperti orang kebanyakan. Jin-ho terlihat kesal. Kae-in jadi takut, ia lalu mengalihkan perhatian dengan berkata kalau ia punya alat pijit yang ditinggalkan In-hae. Kae-in berkata ia akan meminjamkan alat itu sebagai rasa terima kasih karena hari ini membantunya.


Chang-ryul memohon In-hae agar mau bertemu ibunya. In-hae menolak karena hubungan mereka telah berakhir. Chang-ryul tetap memaksa. In-hae pun tetap pada pendiriannya, ia berkata agar Chang-ryul memberitahu yang sebenarnya pada ibunya. Chang-ryul berkata ibunya yang ini sangat baik padanya maka i memohon In-hae untuk bertemu dengannya walaupun ia tahu mereka telah berakhir. In-hae berkata Chang-ryul sangat aneh. Ia sangat menyayangi ibunya, tidak hanya satu tapi semua ibunya yang ada 7 itu. “Kamu jangan berkata begitu tentang mereka. Bagi saya mereka sangat berarti dan saya sangat menghargai mereka” kata Chang-ryul (anak baik nih..). In-hae tetap tak mau, ia pergi meninggalkan Chang-ryul. Chang-ryul berusaha mencegah tapi tak bisa, ia kemudian menelepon ibunya dan bilang kalau In-hae hari itu sakit sehingga tidak bisa ketemu. Ibu Chang-ryul memekasa karena ia kan segera pergi keluar negeri. Chang-ryul kaget sekaligus kenapa mau pergi masih merepotkan saja. Ia akhirnya berjanjia lain kali sebelum hari keberangkatannya ia pasti akan membawa In-hae menemuinya.


Jin-ho sedang menikmati alat pijit Kae-in. Ia bergumam kenapa dirinya sampai datang ke rumah itu hingga mengalami hal-hal aneh. “Park Kae-in adalah wanita berkarakter yang tidak seperti wanita lainnya” gumam Jin-ho sambil tersenyum. Tiba-tiba Kae-in masuk. “Bisa gak tekuk pintu dulu?” kata Jin-ho kesal. Kae-in datang membawa minum sebagai bentuk ketulusan hatinya. Ia juga memijit kaki Jin-ho. Tapi Jin-ho menolaknya ia menyuruh Kae-in pergi keluar saja. Kae-in keluar, ia memberitahu agar alat pijinya nanti di bersihkan karena ia mau memakainya juga. “Dia sudah berapa kali mengatakannya” kata Jin-ho kesal. Ia lalu melihat minuan dari Kae-in dan meminumnya. Setelah itu ia tersenyum karena ternyata minumannya enak.


Kae-in sedang menyiapkan makanan dari Young-soon tadi untuk makan malam. “Jin-ho cepat kemari. Supnya sudah dingin” teriak Kae-in memanggil Jin-ho makan malam. Jin-ho datang. Kae-in terlihat senang karena makan malam kali ini makanannya enak-enak. Jin-ho mengambil nasi Kae-in. Kae-in kaget, ia bertanya buat apa bukankah ia sudah menampilakan yang terbaik di pesta pada Chang-ryul. Jin-ho berkata Chang-ryul begitu karena cemburu padanya bukan karena sikap Kae-in. Kae-in lalu berkata kalau ia bisa bersikap baik pada ketua Choi. Jin-ho mengingatkan kalau Kae-in malam itu juga mabuk didepan ketua Choi. Ia juga berkata agar bisa menarik laki-laki Kae-in harus memiliki kesabaran. Kae-in tak tahan ia minta evaluasi latihannya dilakukan setelah ia makan saja. Jin-ho lalu mengurangi nasi Kae-in dan berkata kalau makanan dari Young-soon Kae-in tak boleh memakannya. Kae-in kaget bagaimana bisa ia hanya makan nasi yang sedikit sekali. Jin-ho mengingatakan Kae-in harus mengatakan dengan halus bhawa ia sebenarnya orang yang tidak banyak makan. Kae-in akhirnya menuruti an berkata sambil tersenyum kalau ia sebenarnya orang yang tidak banyak makan. Jin-ho memperingatkan lagi kalau Kae-in harus makan secara sopan. Tapi kali Kae-in tak peduli, ia makan makananya dengan lahap.


Jin-ho sedang membuat seketsa Sang Go-jae lagi. Kae-in datang membawa gantungan baju untuknya. Jin-ho buru-buru menutup buku gambarnya dan bertanya dengan dingin Kae-in sedang melakukan apa. Kae-in berkata meski dalam keadaan lapar ia masih sempat membuat hadiah berupa gantungan baju untuk Jin-ho karena membantunya malam-malam mencari obat kemarin. “Cantikkan!” kata Kae-in menunjukan gantungan yang ia buat. “Sekali lihat saja sudah tahu tidak ada gunanya” kata Jin-ho dingin. “Kau seharusnya bilang cantik sekali Park Kae-in. Bukan hal seperti tadi. Aku kan sudah sudah membuatnya sambil kelaparan” kata Kae-in memelas. “Mau makan mie kah?” kata Jin-ho.


Mereka lalu pergi makan mie di sebuah tempat hiburan. Kae-in sangat senang, ia tanya apa bisa makan semuanya. Jin-ho tidak melarangnya, tapi ia terus melihat Kae-in yang semangat sekali makannya. Kae-in jadi tidak enak, ia lalu janji hanya akan makan seperti itu di depan Jin-ho saja. Tapi ia juga heran kenapa Jin-ho mengajaknya makan. Jin-ho berkata itu sebagai hadiah karena Kae-in membuatkannya lemari dalam keadaan lapar. Setelah makan mie mereka lalu makan es krim sambil jalan. Kae-in selalu jalan dekat dengan Jin-ho. Jin-ho kesal, Kae-in berjanji lagi ia hanya kan melakukan itu di dedpan Jin-ho bukan laki-laki lain. Kae-in lalu tanya apa Jin-ho sering makan di sana. Jin-ho berkata kalau ia sedang lembur dan tiba-tiba lapar, ia biasanya datang kesana. Kae-in tanya lagi kenapa harus di san bkankah banyak tempat yang jual mie di luar sana. Jin-ho bercerita jika makan mie disana ia merasa sedang bertamasya karena tempat itu adalah tempat istirahat jika ingin bertamasya kel uar kota. Kae-in lalu tanya apa Jin-ho seringa pergi bertamasya. Jin-ho berkata tidak ada. Kae-in tak percaya, ia tanya tempat mana yang Jin-ho sering kunjungi bersama ayahnya. Jin-ho bilang ke perpustakaan. Kae-in makin tak percaya mana ada anak kecil sudah senang belajar apalagi setelah ayahnya tidak ada. Jin-ho berkata karena ingin merebut kembali milliknya ia keras pada dirinya agas bisa menjadi hebat dan pintar. Kae-in jadi tidak enak, ia tanya Jin-ho kehilangan apa samapai berbuat seperti itu. Jin-ho memandang Kae-in, lalu mengajaknya kembali kemobil tanap menjawab pertanyaan Kae-in. Kae-in jadi penasan, ia berakta jika Jin-ho sudah menemukan barang miliknya kembali ia minta diajak melihatnya. Jin-ho gak mau, ia berkata masalah itu tidak ada hubungannya dengan Kae-in. Kae-in terus merayu ia berkata akan melakukan apa yang disuruh Jin-ho jika diajak melihatnya. Jin-ho tetap tak mau, ia mengatakan itu sambil berjalan menuju mobil. Kae-in mengejarnya dan berkata agar Jin-ho memikirkannya lagi. Dalam perjalanan pulang Kae-in dan Jin-ho main sambung kata lalu Kae-in terus memandangi Jin-ho dan tersenyum kemudian.


Laporan cuaca Park Kae-in. Karena seorang yang mengikuti angin menemui teman yang gay. Tapi hatinya sekarang merasa nyaman tak tahu dari mana perasaan ini berasal.

Keesokan harinya. Ayah Chang-ryul menemui ketua Choi (Ayah Do-bin). Awalnya ia mumuji ketua Choi (Do-bin) tapi kemudian ia berkata kalau ia takut ketua Choi membuang waktu saja dengan melakukan syaembara desain museum nanti. Ia berkata takut tidak ada desain yang layak. Ia berkata akan lebih baik jika mempersiapkan orang untuk desain ini daripada membuat orang bersaing mendesainnya. Ayah Do-bin jadi terpangaruh, ia berkata akn mempertimbangkan masukan dari ayah Chang-ryul tadi. Ayah Chang-ryul jadi senang mendengarnya.

In-hae kaget melihat Kae-in datang ke kantor Maiseu dan tanya apa yang dilakukan Kae-in disana. Kae-in tak menjawab dan hanya menatap In-hae tajam. Kemudian Do-bin datang, ia senang Kae-in datang tepat waktu. Do-bin lalu berkata pada In-hae bahwa ia telah menemukan orang yang akanmerancang tempat istirahat remaja dan orang itu adalah Park Kae-in. In-hae terlihat tidak senang, Do-bin lalu mengajak kae-in ke melihat-lihat gedung Meiseu.


Dalam perjalan melihat-lihat gedung Maiseu. Do-bin mejelaskan ia ingin emmbuat tempat istirahat khusus anak-anak, jika orang tua mereka melihat-lihat koleksi gedung itu. Kae-in berkata kalau begitu sebaiknya ia berdiskusi dulu dengan arsitek gedung itu adar furniturenya sesuai. Do-bin berkata ia ingin semua Kae-in yang memutuskan. Kae-in kaget. Do-bin berkata Kae-in adalah putri Prof. Park, ia yakin Kae-in pasti ada bakat dari ayahnya. Kae-in tambah kaget dan jadi ketakutan, ia merasa mendapat pekerjaan ini hanya karena nama ayahnya. Do-bin berkata agar Kae-in jangan salah paham, ia memilih Kae-in karena tertarik melihat hasil karya Kae-in dulu sat ke Sang Go-jae. Kae-in berkata mendesain ruangan berbeda dengan mendesain furniture. Do-bin berkata apa Kae-in tak mau mencoba mencari tahu sampai mana batas kemampuannya. Kae-in kaget mendengarnya. Saat mengantar Kae-in keluar, Kae-in berkata pada Do-bin bahwa ia akan berusaha sebaik-baiknya. Do-bin yang sekarang tidak enak, ia tidak enak karena nantinya Kae-in akan sering bertemu In-hae di sana. Ia berceriata kalau ia datang ke pesta pernikahan In-hae dan melihat Kae-in ada di sana. Kae-in berkata ia tidak apa-apa, selain itu ia tidak ingin kehilangan kesempatan menguji kemampun dirinya. Ia malah berterima kadih kepada Do-bin karena memberinya kesempatan. Do-bin lalu berkata kalau walaupun Kae-in dan Jin-ho hanya teman tapi ia merasa Kae-in dan Jin-ho ada seseuatu yang serasi. Kae-in hanya tersenyum mendengarnya.

Di kantor Jin-ho. Jin-ho menyuruh Tae-hoon mencari skipsi Prof. Park tahun 89. Tae-hoon setuju, tapi tiba-tiba Sang-joon berteriak. Jin-ho bertanya ada apa. Sang-joon menunjukan e-mail yang baru ia dapt dari perusahaan Maiseu. Perusahaan Maiseu mengirim standar baru perusahaan yang berhak mengikuti tender gedung museum kali ini. Sang-joon sangat terkejut ia berkata perusahaan kecil seperti milik Jin-ho tak mungkin bisa lolos.


Di gedung Maiseu, Do-bin menemui ayahnya. Ia bertanya kenapa ayahnya tidak berunding dahulu denganya, dan mengapa ayahnya memutuskan hal seperti itu. Ayah Do-bin kesal, ia berkata apakah jika ia berunding dengann Do-bin dahulu Do-bin akan setuju. “Ayah” kata Do-bin. Ayah Do-bin berkata anaknya sudah memikirkan hal ini terlalu seius. Do-bin lalu bertanya kenapa pesertanya dibatasi. Ayah Do-bin berkata kalau ia tidak ingin ada pesertay nga dapat memalukan museumnya. Do-bin mengingatkan ayahnya bahwa ia telah menyerahkan semua urusan prekyek museum yang baru kepadanya. Ayahnya beralsan selama ini Do-bin tak berniat dengan usahanya. Do-bin berkata apa ayahnya ingin ia melakukan yang ia suaki saja. Ayah Do-bin lalu berkata ia kan senang jika Do-bin melakukan hal yang membanggakan. Do-bin lalu memohon agar ayahnya menyerahkan proyek museum baru ini kepadanya saja. Ia berkata persaingan antara perusahaan besar, tidak akan menimbulkan sesuatu yang baru. Ayahnya masih berpendapat bahwa perusahaan besar lebih siap uantuk membuat rancangan museum kali ini. Do-bin berakta kalau begini terus, ia cuma bisa meninggalkan semua yang ada sekarang. Ayah Do-bin kaget mendengar ancaman itu.

Chang-ryul menemui ayahnya, dan bertanya apakah ayahnya tak percaya dengan kemampuannya hingga menutup peluang Jin-ho. Padahal ia sudah berjanji akan memenangkan tander itu tanpa lewat jalan belakang. Ayah Chang-ryul mengingatkan bahwa ia hanya ingin mencabut rumbut sampai akarnya. Chang-ryul kesal itu hanay akan mempermalukannya didepan Jin-ho karena menggunakan jalan belakang. Ayahnya tak kalah kesal ia berkata bahwa untuk memenangkan sesuatu itu harus menggunakan jalan apa pun. “Kamu seharausnya mengucapkan terimakasih karena saya sudah menyiapkan jalan yang baik untukmu sehingga kamu hanay perlu kerja yang baik, dengar kan?” kata ayah Chang-ryul. Chang-ryul masih kesal tapi ia hanya bisa diam menerimanya. Lalu tiba-tiba sekretaris ayahnya berakta kalau In-hae sudah datang. Chang-ryul kaget mendengarnya.


Saat In-hae masuk keruang kerja ayah Chang-ryul, ia terlihat kaget melihat Chang-ryul ada di sana juga. Ayah Chang-ryul menyilahkan In-hae masuk. Ia berkata terimakasih karena In-hae memberikan udangan perusahaannya kepadanya. Ia juga berkata walaupun pernikahan kemarin tidak berjalan lancar, tapi ia masih menganggap In-hae sebagai keluarga. Chang-ryul terlihat ketakutan, dan In-hae terlihat tidak suka mendengarnya. Ayanh Chang-ryul lalu minta In-hae dan Chang-ryul menetapkan hari pernikahan mereka kembali. In-hae langsung memotong pembicaraan ayah Chang-ryul dan berkata bahwa hubungannya dengan Chang-ryul telah berakhir. Ayah Chang-ryul kesal, Chang-ryul sendiri jadi ketakutan setelahnya. Ia lalu menarik tangan In-hae dan meminta bicara diluar saja. In-hae menolak. Ayah Chang-ryul marah dan meminta mereka duduk di sana saja. Mereka duduk, ayah Chang-ryul menanyakan maksud berpisah yang dikatakan In-hae tadi. In-hae berkata bahwa Chang-ryul tidak mengurus baik-baik hubungan mereka selama ini. Ayah Chang-ryul kesal ia tak menyangkan In-hae berani menjelekkan anaknya didepannya. Ia lalu mengungkit seharusnya In-hae merasa bersalah karena menjadi menantu yang tak punya apa-apa. In-hae kesal mendengarnya. Ayah Chang-ryul berkata bahwa anaknya sudah meninggalkan banyak wanita demi dirinya, tapi In-hae menolak menjadi istrinya lagi. Ia lalu bertanya apa In-hae tidak tahu bahwa ia baru saja merestui mereka setelah selama ini tidak merestui. “Saya tahu” kata In-hae. Ayah Chang-ryul lalu bertanya kenapa In-hae tahu masih dengan santai mengatakan semuanya tadi. “Dua orang berpisah. Chang-ryul yang begitu baik jatih cinta pada saya adalah sebuah keberuntungan bagi saya. Waktu itu saya juga berpikir seperti itu, tapi setelah itu saya baru tahu. Orang yang begitu baik ternyata tidak baik. Sampai di gereja kemarin saya baru mengerti. Saya hanya ingin orang yang emmepercayai saya dan menghormati saya. Tapi orang itu tak sesuai” kata In-hae sambil melirik Chang-ryul.

Setelah selesai bertemu ayah Chang-ryul. Chang-ryul langsung menemui In-hae dengan perasaan kesal. “Kamu ini benaran sangat hebat. Tidak sangka biarkan kamu tinggalkan yang begitu mudah. Saya benran begitu burukkah?”. In-hae dengan tenang tapi menahan kesal berkata apa Chang-ryul mau ia menjelaskan lagi setelah apa yang ia sudah katakan didepan ayahnya. Chang-ryul semakin kesal, ia lalu menarik In-hae pergi. In-hae memberontak, tapi Chang-ryul tetap tak melepasakannya.


Chang-ryul mengajak In-hae pergi bicara di pinggir sungai. Chnag-ryul bertanya kenapa In-hae bisa bertindak begitu kepadanya. In-hae tak menjawab. Chang-ryul lalu bercerita awal rasa sukanya pada In-hae. Saat itu ia sadar perbuatannya pada Kae-in tapi tetap memillih In-hae untuk menjadi istrinya. Chang-ryul lalu bertanya apa saat itu In-hae mendekatinya karena kekayaannya. In-hae berkata bukan karena itu, tapi karena Kae-in selalu menceritakaan kehebatan pacarnya padanya. Ia lalu menjadi penasaran dan mulai mendekati Chang-ryul, tapi ternyata Chang-ryul yang asli berbeda dengan sosok yang selama ini di ceritakan Kae-in. In-hae jadi sadar bahwa ia sebenarnya menyukai sosok dalam khayalan Kae-in bukan sosok Chang-ryul sebenarnya.

Jin-ho dan Sang-joon sedang pusing memikirkan nasib perusaan mereka jika gagal mengikuti tander proyek kali ini. Tiba-tiba Tae-hoon datang. Ia mendapat kabar dari ayahnya bahwa ketua Choi (Ayah Do-bin) mengambil keputusan pembatasan peserta tander setelah dipengaruhi oleh ketua Han (Ayah Chang-ryul). Jin-ho jadi kesal mendengarnya.



Ia lalu pergi ke gedung Maiseu untuk menemui Do-bin. Tapi In-hae memberitahu kalau hari itu sepertinya Do-bin tidak akan datang. In-hae lalu mengucapkan keprihatinannnya. Ia juga baru tahu keputusan itu setelah melihat di Internet dan ia juga tidak bisa membantu Jin-ho karena sikapnya selama ini yang mungkin menurut ketua Choi terlalu bandel. Jin-ho terlihat kecewa. In-hae mencoba mengajak Jin-ho pergi minum bersama. Tapi Jin-ho menolaknya dengan halus. In-hae lalu meminta Jin-ho mengantarnya pulang, tapi lagi-lagi Jin-ho menolaknya, ia berkata sedang sibuk karena permasalahan ini sehingga datang kesana (Bukan untuk menemui In-hae maksudnya gitu lho..). Jin-ho lalu pamit, In-hae terkejut Jin-ho menolaknya begitu.


Jin-ho lalu pergi minum di warung soju sendirian. Ia teringat perkataan Tae-hoon yang mengatakan semua kejadian hari ini karena masukan dari ketua Han. Ia juga teringat kenangan masa kecilnya saat di usir dari rumahnya yang di ambil ketua Han. Kae sedang membuat rancangan furniture dirumah, ia jadi khawatir karena Jin-ho sudah malam belum pulang juga. Jin-ho minum hingga mabuk hingga ia susah untuk berjalan pulang.


In-hae seudah berkemas untuk meninggalkan apartement Chang-ryul. tapi tiba-tiba Chang-ryul memanggilnya. Chang-ryul berkata ia yang akan meninggalkan apartemnt itu dan In-hae boleh memilikinya. In-hae tak percaya mendenagr itu. Chang-ryul berkata ia memberikan apartement itu sebagai rasa maaf karena ia tidak seperti yang di inginkan In-hae selama ini. Chang-ryul lalu mengulurkan angannya dan In-hae menerimanya. Chang-ryul meminta agar In-hae kelak tidak menyatukan khayalan dengan kenyataan lagi. In-hae mengangguk terharu dengan sikap Chang-ryul saat itu. Chang-ryul alu pamit pergi. In-hae tiba-tiba berkata kalau ia minta maaf karena ia hadir diantara dia dan Kae-in. Chang-ryul menolah dan berkata ia hanya minta kelak In-hae mencintai orang yang bersamanya saja bukan laki-laki yang bukan miliknya (Pacar orang maksudnya..). In-hae mengangguk lagi. Chang-ryul berkata bagaimanapun ia pernah mencintai In-hae dan ia mengira In-hae juga mencintainya saja sehingga ia memutuskan untuk menikahinya. In-hae semakin sedih mendengarnya. Chang-ryul lalu pamit pergi lagi. In-hae mau mencegahnya tapi tak jadi, ia hanya bisa menangis mengetahui ketulusan hati Chang-ryul selama ini. Di luar apartement Chang-ryul yang terlihat tenang tadi ternyata juga sedih karena keputusannya berpisah dengan In-hae (baru tau ternyata Chang-ryul juga orang baik...).


Kae-in masih khawatir sehingga memutuskan menunggu Jin-ho didepan rumah. Kae-in kesal karena Jin-ho tak dapat di hubungi. Ia meraasa Jin-ho sepertinya pulng ke rumahnya malam itu. Kae-in makin kesal lagi jika benar begitu kenapa Jin-ho tidak meneleponnya terlebih dahulu sehingga ia tidak perlu khawatir. Setelah menunggu beberapa lama di luar Kae-in semakin yakin kalau Jin-ho sepertinya tidak akan pulanng kesana. Tapi tiba-tiba ia melihat sosok Jin-ho berjalan dengan sempoyongan karna mabuk. Kae-in menghampirinya. “Jin-ho sshi kenapa kamu begitu mlam pulangnya dan tidak mengangkat telepon dariku” kata Kae-in. “Teman saya Park Kae-in. Teman yang sama seperti teman saya Park Kae-in” kata Jin-ho senang sambil memluk Kae-in. “Bau arak, Jin-ho kamu sebenarnya sudah minum berapa banyak” kata Kae-in sambil mengelak pelukan Jin-ho dan mencoba memapah Jin-ho. Jin-ho menatap Kae-in dan berkata agar Kae-in jangan mencemasaknnya. “Teman saya yang memikirkan segalanya didunia ini secara sederhana. Park Kae-in” kata Jin-ho lagi. “Orang ini sedang katakan apa? Perkataan aneh. Jin-ho kuatkan mental kamu, ayo cepat masuk rumah saja” kata Kae-in mencoba memapah Jin-ho lagi.


Di dalam rumah kae-in membuat air madu dan memberikannya untuk Jin-ho yang sedang duduk di teras. Kae-in bertanya sebenarnya ada pa hingga Jin-ho minum begitu banyak. Jin-ho berkata pasti ada harii yang membuat orang ingin pergi minum. Kae-in tak mengerti, ia bertanya apa Jin-ho sedang marahan lagi dengan Sang-joon. Jin-ho lalu bercerita bahwa ia sebenarnya ingin menjadi orang yang berhasil hingga di anggap gila karena usahanya untuk meraih itu. Ia juga bercerita kalau ia sudah mempertaruhkan segalanya usahanya itu, tapi ia tetap dianggap anak kecil. Kae-in muali mengerti apa yang terjadi. Jin-ho lalu berkata lagi sejak ayahnya meninggal, ia tidak melakukan apapun selain mencoba menunjukan kebenaran yang selama ini ditutupi karena fitnah. “Karena difitnah hingga hampir gila, tapi tetap juga tidak bisa melakukan apapun jadi hanya bisa pergi minum saja”. “Jin-ho” kata kae-in prihatin. “Tak peduli bagaimanpun usaha saya, saya cuma bisa berlari ditempat saja” kata Jin-ho sedih hingga mengeluarkan air mata. “Jin-ho kamu sedang menangiskah” kata Kae-in prihatin. Ia lalu memegang wajah Jin-ho hingga mereka saling berpandangan. Kae-in memegang wajah Jiin-ho dengan lembut dan berkata “Jin-ho, jangan menangis”. Jin-ho memandang wajah Kae-in lama dan kemudian ia mendekat untuk mencium Kae-in.